Dalam dunia logam mulia, emas dan perak hampir selalu disebut dalam satu napas. Kedua logam ini telah menjadi simbol kekayaan dan diburu manusia selama ribuan tahun, serta dapat ditemukan di setiap benua di bumi.
Sama halnya dengan emas, perak memiliki nilai investasi yang tinggi dan sering dicetak dalam bentuk koin, batangan, hingga perhiasan. Namun, perak memiliki keunggulan tersendiri: ia memiliki segudang fungsi teknis dan industri. Faktor inilah yang membuat perak menjadi aset yang sangat menarik untuk dimiliki dan diinvestasikan. Yuk, simak!
Mengenal Apa Itu Investasi Perak
Investasi perak adalah aktivitas membeli dan menyimpan logam mulia perak untuk dijadikan sebagai aset kekayaan jangka panjang. Logam perak sendiri merupakan komoditas berharga berwarna putih mengkilap yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus sifat yang sangat serbaguna. Selain untuk investasi, perak juga menjadi komponen vital di berbagai industri, mulai dari elektronik, fotografi, hingga pembuatan perhiasan.
Sama seperti emas, instrumen investasi ini tersedia dalam bentuk fisik dan nonfisik. Untuk investasi fisik, perak biasanya hadir dalam bentuk perhiasan atau perak batangan. Namun, perlu dicatat bahwa perak batangan memiliki tingkat kemurnian yang jauh lebih tinggi, umumnya di atas 92,5%.
Semakin tinggi kadar kemurnian sebuah perak, maka akan semakin tinggi pula nilai asetnya di pasar. Itulah mengapa perak batangan dinilai jauh lebih menguntungkan dan ideal untuk tujuan investasi jangka panjang ketimbang perhiasan.
Dalam dunia investasi profesional, jenis yang paling sering digunakan adalah perak murni (fine silver) dengan kadar kemurnian mencapai 99,99% tanpa campuran logam lain. Di pasaran, perak murni ini biasanya diperjualbelikan dalam wujud batangan, koin, maupun butiran (grains).
Bagi kalian yang tertarik, ada beragam cara untuk memulai investasi perak:
- Perak Batangan (Bars): Tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari satuan gram kecil hingga berat kilogram. Setiap produk dilengkapi dengan informasi berat dan tingkat kemurnian yang tertera jelas pada fisik perak maupun kemasannya.
- Koin atau Medali Tematik: Selain nilai intrinsik logamnya, jenis ini sering kali memiliki nilai kolektibilitas yang tinggi karena mengusung desain edisi khusus atau terbatas (limited edition).
- Granul atau Lembaran: Jenis perak dalam bentuk butiran atau lembaran tipis ini juga tersedia di pasaran, namun pemanfaatannya jauh lebih lazim digunakan sebagai bahan baku industri manufaktur.
Harga 1 gram perak berapa?
Sejak artikel ini ditulis pada 17 Juni 2026, harga perak berkisar Rp39.861/ gram.
Akankah harga perak naik dalam 10 tahun ke depan?
Para ahli dari BlackRock dan JP Morgan sepakat bahwa prospek perak tetap kuat, dan harganya akan meningkat. Pada akhir tahun 2026, para ahli memperkirakan harga perak akan melampaui $80 per ons, dan dapat mencapai $100 per ons pada tahun 2030.
Apakah Investasi Perak Kena PPN?
Salah satu hal yang sering dianggap sebagai kekurangan dari investasi perak adalah adanya pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Value Added Tax (VAT). Mengapa perak dikenakan pajak sedangkan emas sering kali bebas pajak? Jawabannya kembali pada fungsi perak yang sangat dominan sebagai komoditas industri dan teknis, bukan sekadar alat lindung nilai (safe haven).
Di Britania Raya (UK) misalnya, pembelian perak dikenakan tarif PPN standar sebesar 20%. Di Indonesia sendiri, kebijakan pajak untuk logam mulia selain emas juga memiliki regulasi serupa di mana perak fisik non-perhiasan (seperti batangan industri) bisa terkena dampak pajak komoditas.
Bagi sebagian investor, tambahan biaya pajak ini awalnya terlihat seperti hambatan besar untuk memulai. Namun, jika melihat fluktuasi harga perak yang sangat agresif, biaya PPN ini sebenarnya berpotensi besar untuk tertutupi oleh keuntungan persentase (percentage gains) dari kenaikan harga perak itu sendiri.
Sebagai contoh konkret, jika kita melihat pergerakan harga perak dunia dalam kurs Rupiah, pada awal tahun 2020 harga perak berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp9.000 per gram. Namun, menjelang awal tahun 2021, harganya melonjak drastis hingga menyentuh kisaran Rp12.000 hingga Rp13.000 per gram. Ini merupakan kenaikan yang sangat fantastis, yakni hampir 47% hanya dalam waktu satu tahun!Â
Melihat angka pertumbuhan tersebut, bahkan setelah kita memotongnya dengan biaya PPN awal sebesar 12%, investor masih bisa menikmati keuntungan bersih (return) yang sangat signifikan. Kesimpulannya, meski ada faktor pajak yang harus diperhitungkan di awal, potensi keuntungan perak jangka panjang tetap tidak boleh dipandang sebelah mata.
Usulan Penghapusan PPN pada Perak Batangan

PT Aneka Tambang Tbk (Antam) meminta pemerintah untuk membebaskan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12% untuk produk perak murni di pasar domestik. Alasannya, perak batangan murni ditujukan sebagai instrumen investasi masyarakat (bukan sekadar komoditas industri biasa), sehingga dinilai tidak adil jika terus dibebani pajak yang tinggi.Â
Permohonan dukungan ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Selasa (31/03/2026).
Terkait komoditas perak, Untung menyoroti adanya ketimpangan perlakuan pajak antara transaksi domestik dan ekspor. Saat ini, pembelian perak batangan di dalam negeri dikenakan PPN 12%, sementara ketika diekspor tidak dikenakan PPN atau 0%. Kebijakan ini dinilai menciptakan distorsi pasar, melemahkan daya saing produk di dalam negeri, serta menghambat pengembangan pasar investasi perak batangan domestik.
Keuntungan Investasi Perak
1. Harga Terjangkau
Secara nominal, harga perak fisik jauh lebih murah daripada emas. Hal ini menjadikan perak sebagai pilihan sempurna bagi investor pemula atau mereka yang memiliki anggaran terbatas namun ingin membangun aset secara berkala. Kita bisa menerapkan strategi dollar-cost averaging (membeli rutin secara berkala) untuk meminimalkan risiko salah momentum beli.
2. Didorong oleh Kelangkaan Industri yang Struktural
Perak adalah rajanya konduktor termal dan listrik. Data dari The Silver Institute menunjukkan bahwa permintaan perak untuk industri telah menembus angka 700 juta ons. Tanpa perak, produksi massal panel surya, kendaraan listrik (EV), dan peralatan medis canggih tidak akan bisa berjalan. Karena pasokan tambang dunia bergerak lambat sementara permintaan melonjak, pasar diprediksi akan mengalami defisit pasokan, yang menjadi motor utama kenaikan harga perak di masa depan.
3. Potensi Keuntungan (Return) yang Jauh Lebih Tinggi
Ukuran total pasar perak dunia relatif kecil dibanding emas. Ketika ada aliran modal baru masuk ke sektor logam mulia saat ekonomi tidak stabil, dampaknya terhadap persentase kenaikan harga perak akan jauh lebih masif. Dalam tren pasar yang naik (bull market), perak secara historis hampir selalu tumbuh lebih cepat dan lebih tinggi daripada emas.
4. Perlindungan Nyata Tanpa Risiko Pihak Ketiga (Counterparty Risk)
Di tengah inflasi yang terus menggerus nilai tabungan, perak fisik hadir sebagai aset berwujud yang tidak bisa dicetak sembarangan oleh pemerintah atau bank sentral. Menyimpan perak fisik sendiri berarti kita memiliki kendali penuh atas aset kita, bebas dari risiko kebangkrutan bank atau institusi finansial mana pun.
5. Mendukung Diversifikasi Portofolio Investasi
Investasi perak sebagai cara untuk menyebarkan risiko investasi (risk diversification). Sebagai aset komoditas yang memiliki pergerakan harga berbeda dengan instrumen pasar modal, perak dapat berperan sebagai penyeimbang atau diversifikasi portofolio investasi. Ketika nilai saham, reksa dana, atau aset berisiko lainnya mengalami pelemahan akibat guncangan pasar, stabilitas nilai intrinsik perak dapat meredam potensi kerugian total, sehingga kesehatan finansial tetap terjaga.
Apa kekurangan investasi perak?
Investasi perak menawarkan peluang fantastis, namun instrumen ini tidak cocok untuk semua jenis investor. Berikut adalah beberapa faktor risiko yang wajib kita pahami sebelum membeli:
1. Pergerakan Harga yang Sangat Volatil
Harga perak bergerak jauh lebih agresif dan fluktuatif dibanding emas. Karena pasar yang kecil dan ketergantungannya pada industri, harga perak bisa anjlok sementara waktu jika terjadi resesi ekonomi global yang menurunkan produksi elektronik. Investor perak membutuhkan “mental yang kuat” dan orientasi investasi jangka panjang (minimal beberapa tahun).
2. Selisih Harga Jual-Beli (Spread) yang Lebih Tinggi
Spread adalah perbedaan persentase antara harga beli dan harga jual kembali (buyback) di toko/dealer. Karena nilai nominal perak rendah, biaya produksi untuk mencetak koin atau batangan terasa lebih membebani harga jual akhirnya. Akibatnya, investasi perak biasanya membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk mencapai titik impas (break-even) dibanding emas.
3. Masalah Volume Fisik dan Berat
Perak membutuhkan ruang penyimpanan yang sangat besar untuk nilai nominal yang sama dengan emas. Sebagai gambaran, investasi emas senilai ratusan juta rupiah bisa dengan mudah masuk ke dalam saku jaket. Namun, untuk nilai uang yang sama, perak fisik bisa berbobot hingga ratusan kilogram. Kita harus memikirkan matang-matang soal logistik, batas beban angkut, dan biaya sewa brankas (Safe Deposit Box).
4. Beban Pajak (PPN) pada Perak Batangan
Ini adalah jebakan fiskal terbesar bagi investor ritel. Di banyak negara, termasuk Indonesia (dengan PPN 12%) dan Belanda (dengan VAT 21%), perak batangan murni sering kali dikategorikan oleh hukum sebagai “bahan baku industri”, bukan murni alat investasi. Pembelian perak batangan langsung dikenakan pajak di awal, dan komponen pajak ini tidak akan kembali saat kita menjualnya ke dealer.
5. Risiko Perak Palsu
Komoditas perak batangan baik produk lokal maupun impor memiliki kerentanan yang cukup tinggi terhadap risiko pemalsuan. Bagi investor pemula atau masyarakat awam yang belum memiliki pengetahuan memadai, membedakan secara visual antara perak murni asli dengan logam tiruan yang dilapisi perak tentu akan sangat sulit.
6. Akses Jual-Beli yang Masih Terbatas
Berbeda dengan emas yang gerai penjualannya menjamur di setiap sudut kota, ekosistem transaksi perak di Indonesia saat ini masih relatif terbatas. Jumlah tempat resmi yang melayani pembelian maupun menerima buyback (jual kembali) perak dengan harga yang adil masih sangat sedikit. Akibatnya, investor sering kali harus meluangkan waktu ekstra untuk mencari jaringan penjual atau pembeli yang kredibel.
Investasi Perak atau Emas, Mana yang Lebih Tepat?Â
Kalau bicara logam mulia, pertanyaan yang paling sering muncul pasti: “Mending beli emas atau perak, ya?”
Memang betul, kedua logam ini sama-sama ampuh buat mengamankan uang kita dari inflasi. Tapi, fungsinya di dalam dompet investasi kita sebenarnya berbeda. Anggap saja emas itu tim bertahan, sedangkan perak itu tim penyerang.
- Emas itu Tim Bertahan (Defensif): Emas adalah benteng keamanan uang kita. Harganya cenderung stabil, bentuknya kecil jadi gampang disimpan, dan disukai oleh bank-bank sentral di seluruh dunia. Orang beli emas biasanya cari aman, ketenangan pikiran, dan buat simpanan jangka panjang.
- Perak itu Tim Penyerang (Ofensif): Kebalikannya, perak gerakannya jauh lebih agresif. Karena modal awalnya murah, pasar dunianya belum sebesar emas, dan dicari pabrik-pabrik teknologi, harga perak bisa naik turun dengan cepat. Orang pilih perak karena ingin uangnya tumbuh lebih cepat dan aktif.
Baca juga:Â Investasi Perak vs Emas, Mana yang Lebih Untung di 2026?
Pemilihan investasi perak atau sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko, rencana keuangan, dan jangka waktu investasi. Yang tidak kalah penting, memulai investasi lebih awal dapat membantu membangun aset secara bertahap dan mempersiapkan finansial di masa depan.
Di Nanovest, kamu bisa mulai investasi emas digital dengan modal yang ramah kantong, yakni mulai dari 5 ribu rupiah saja! Prosesnya cepat, aman, dan bisa kamu pantau kapan saja langsung dari smartphone. Yuk, download Nanovest sekarang!
Kesimpulannya, dalam praktik investasi modern, kita sebenarnya jarang sekali dihadapkan pada pilihan mutlak antara emas atau perak. Portofolio yang cerdas hampir selalu mengkombinasikan keduanya secara seimbang sebagai aset investasi.
Referensi +
- Silver price predictions: What to expect over the next 10 years - Yahoo Finance
- Perak: Aset Kecil, Potensi Besar - Logam Mulia







