SpaceX akhirnya membuka sebagian isi dapurnya ke publik menjelang IPO yang disebut-sebut bisa menjadi salah satu penawaran saham terbesar dalam sejarah pasar Amerika Serikat.
Perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut resmi mengajukan prospektus IPO S-1 ke SEC yang memberikan gambaran pertama mengenai kondisi keuangan internal mereka sebelum roadshow investor dimulai awal Juni mendatang.
SpaceX berencana melantai di Nasdaq dengan ticker “SPCX” dan dilaporkan menargetkan valuasi mendekati US$1,8 triliun. Jika tercapai, angka tersebut melampaui valuasi banyak perusahaan teknologi terbesar dunia dan semakin memperkuat posisi Elon Musk di pusat industri AI, antariksa, dan infrastruktur digital global.
Di balik ambisi besar tersebut, dokumen IPO SpaceX memperlihatkan satu fakta penting: Starlink kini menjadi sumber keuntungan utama perusahaan.
Starlink Jadi Mesin Pendapatan SpaceX
Untuk kuartal pertama 2026, SpaceX mencatat pendapatan konsolidasi sebesar US$4,69 miliar dengan EBITDA yang disesuaikan mencapai US$1,2 miliar.
Segmen konektivitas yang sebagian besar didorong oleh bisnis internet satelit Starlink menjadi tulang punggung utama perusahaan. Unit ini menghasilkan pendapatan sekitar US$3,25 miliar hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini.
Secara tahunan, bisnis konektivitas SpaceX menghasilkan lebih dari US$11,3 miliar sepanjang 2025, dengan pertumbuhan pendapatan hampir 50% dibanding tahun sebelumnya.
SpaceX mengungkapkan bahwa mereka kini telah meluncurkan lebih dari 9.600 satelit Starlink dan memiliki sekitar 10,3 juta pelanggan global hingga akhir Maret 2026.
Pertumbuhan Starlink menjadi alasan utama mengapa IPO SpaceX dianggap sangat menarik oleh investor. Layanan internet berbasis satelit tersebut dinilai berhasil menciptakan model bisnis yang jauh lebih stabil dibandingkan bisnis peluncuran roket tradisional.
Di sisi lain, bisnis antariksa SpaceX sendiri masih mencatat kerugian operasional akibat tingginya biaya pengembangan teknologi baru seperti Starship.
Ambisi AI dan Starship Bakar Pengeluaran Besar
Meski Starlink menghasilkan keuntungan besar, SpaceX masih mencatat kerugian operasional konsolidasi sekitar US$1,94 miliar pada kuartal pertama 2026.
Sebagian besar tekanan tersebut berasal dari investasi agresif perusahaan di sektor AI dan proyek Starship.
SpaceX mengungkapkan telah menghabiskan lebih dari US$15 miliar untuk pengembangan roket Starship, kendaraan generasi baru yang dirancang untuk misi bulan hingga kolonisasi Mars.
Selain itu, segmen AI perusahaan yang kini disebut “SpaceXAI” juga mencatat kerugian besar. Unit tersebut membukukan kerugian operasional sekitar US$2,46 miliar hanya dalam satu kuartal.
Segmen AI ini mencakup integrasi bisnis xAI milik Elon Musk dan proyek pembangunan pusat data orbital untuk kebutuhan komputasi AI di luar angkasa.
Menurut Musk, komputasi AI berbasis luar angkasa pada akhirnya bisa menjadi solusi yang lebih murah dan efisien dibanding pusat data konvensional di Bumi.
IPO SpaceX sendiri diperkirakan akan membantu membiayai ekspansi ambisius tersebut, termasuk pengembangan satelit AI, pusat data orbital, dan ekspansi Starship.
SpaceX, Tesla, dan xAI Kini Semakin Terhubung
Dokumen IPO juga mengungkap betapa eratnya hubungan bisnis antar perusahaan Elon Musk.
SpaceX dan xAI tercatat membeli barang dan jasa senilai sekitar US$650 juta dari Tesla sepanjang tahun lalu. Salah satu transaksi terbesar adalah pembelian sistem baterai Megapack Tesla senilai lebih dari US$500 juta untuk mendukung infrastruktur AI.
SpaceX juga menghabiskan lebih dari US$130 juta untuk membeli Cybertruck Tesla.
Selain itu, Tesla diketahui memiliki hampir 19 juta saham SpaceX setelah investasi sekitar US$2 miliar awal tahun ini.
Perusahaan-perusahaan Musk kini juga bekerja sama dalam proyek bernama Terafab, sebuah usaha manufaktur chip AI yang bertujuan mengintegrasikan produksi semikonduktor untuk kebutuhan Tesla, xAI, dan SpaceX di bawah satu ekosistem.
Keterkaitan yang semakin dalam ini membuat investor mulai memperhatikan bagaimana kerajaan bisnis Musk berkembang menjadi jaringan teknologi yang saling terhubung, mulai dari AI, kendaraan listrik, internet satelit, hingga industri luar angkasa.
Target 10.000 Peluncuran dan Jalan Menuju IPO Bersejarah
Di tengah persiapan IPO, SpaceX juga mengumumkan target yang sangat agresif untuk beberapa tahun ke depan.
Perusahaan disebut ingin mencapai hingga 10.000 peluncuran roket per tahun dalam lima tahun mendatang, jauh di atas sekitar 170 peluncuran yang mereka lakukan sepanjang 2025.
Namun FAA menyatakan SpaceX masih perlu meningkatkan tingkat keandalan sistem sebelum ekspansi sebesar itu bisa disetujui.
Meski penuh tantangan, pasar melihat IPO SpaceX sebagai salah satu momen terbesar dalam industri teknologi dan antariksa modern.
Selain menjadi puncak perjalanan panjang Elon Musk membangun SpaceX sejak 2002, IPO ini juga dipandang sebagai simbol baru bagaimana AI, internet satelit, dan eksplorasi luar angkasa kini mulai menyatu dalam satu ekosistem bisnis raksasa.
Buat kamu yang ingin mengikuti perkembangan saham teknologi global seperti Tesla, Alphabet, hingga tren IPO besar seperti SpaceX, kamu bisa mulai investasi saham AS langsung di Nanovest. Pantau juga update terbaru melalui News & Artikel Tips Nanovest untuk mengikuti dinamika pasar global setiap harinya.





