Dua raksasa teknologi melaporkan kinerja keuangan pada malam yang sama, tetapi pasar memberikan respons yang sangat berbeda.
Saham Meta (META) turun hampir 8% dalam perdagangan setelah jam kerja setelah laba kuartal kedua perusahaan berada di bawah ekspektasi dan proyeksi pendapatan berikutnya gagal memberikan kejutan positif. Pada saat bersamaan, kenaikan rencana belanja modal kembali menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa cepat investasi besar Meta dalam artificial intelligence akan menghasilkan keuntungan.
Microsoft (MSFT) justru bergerak ke arah sebaliknya. Saham perusahaan naik setelah pendapatan dan laba melampaui proyeksi Wall Street, didukung pertumbuhan Azure serta kontrak cloud yang terus membesar.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa investor belum menolak belanja AI secara keseluruhan. Pasar masih bersedia menerima pengeluaran besar selama perusahaan mampu menunjukkan hubungan yang jelas antara investasi, pendapatan, dan permintaan pelanggan.
Bisnis Iklan Meta Tetap Kuat, Tapi Laba Tertekan
Meta mencatat pendapatan kuartal kedua sebesar US$60,8 miliar, sedikit di atas estimasi analis sebesar US$60,2 miliar. Pendapatan iklan, yang masih menjadi mesin utama perusahaan, mencapai US$59,3 miliar dan juga melampaui ekspektasi pasar.
Namun, laba per saham hanya sebesar US$6,18, jauh di bawah perkiraan US$7,14. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh biaya hukum tak terduga sebesar US$2,4 miliar dan biaya pesangon sekitar US$1,2 miliar. Tanpa dua beban tersebut, kinerja laba Meta sebenarnya akan melampaui ekspektasi.
Meski demikian, pasar lebih mencermati prospek ke depan. Meta memperkirakan pendapatan kuartal ketiga berada di kisaran US$61 miliar hingga US$64 miliar. Titik tengah proyeksi tersebut masih berada di bawah perkiraan Wall Street sekitar US$63,1 miliar.
Kombinasi laba yang meleset, panduan yang kurang kuat, serta kebutuhan investasi yang terus membesar membuat investor memilih mengurangi eksposur terhadap saham Meta.
Belanja AI Meta Semakin Besar
Meta menaikkan batas bawah proyeksi belanja modal tahunannya dari sebelumnya US$125 miliar-US$145 miliar menjadi US$135 miliar-US$145 miliar.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan infrastruktur AI perusahaan semakin sulit ditekan. Meta membutuhkan pusat data, chip, jaringan, serta kapasitas komputasi dalam jumlah besar untuk mengembangkan model AI dan mengintegrasikannya ke Facebook, Instagram, WhatsApp, serta layanan lainnya.
Perusahaan baru-baru ini juga mencapai kesepakatan dengan BlackRock (BLK) untuk membangun pusat data berkapasitas 1 gigawatt di Texas dengan nilai sekitar US$14 miliar. Dalam struktur tersebut, BlackRock akan memiliki 80% kepemilikan, sedangkan Meta memegang sisanya.
Kemitraan ini memungkinkan Meta memperluas kapasitas tanpa menanggung seluruh biaya pembangunan sendiri. Perusahaan juga mulai membuka kemungkinan menyewakan sebagian kapasitas pusat datanya kepada pelanggan lain.
Langkah tersebut dapat mengubah Meta dari sekadar pengguna infrastruktur AI menjadi penyedia kapasitas komputasi. Namun, strategi itu juga menempatkan perusahaan dalam persaingan yang lebih langsung dengan penyedia cloud dan neocloud seperti Microsoft Azure, Google Cloud, serta CoreWeave.
Meta mencoba memperkuat daya tarik produknya melalui strategi harga yang agresif. Model Spark 1.1 ditawarkan dengan biaya US$1,25 per satu juta token input dan US$4,25 per satu juta token output, jauh lebih murah dibandingkan beberapa model premium milik pesaing.
Harga rendah dapat membantu Meta merebut pelanggan yang sensitif terhadap biaya. Namun, investor masih menunggu bukti bahwa strategi tersebut mampu menghasilkan pendapatan yang cukup untuk mengimbangi besarnya belanja infrastruktur.
Microsoft Mulai Menunjukkan Hasil Investasi
Microsoft memberikan gambaran yang lebih meyakinkan mengenai hubungan antara belanja AI dan pertumbuhan bisnis. Perusahaan membukukan pendapatan kuartal sebesar US$90 miliar, melampaui perkiraan US$87,7 miliar. Laba per saham mencapai US$4,74, lebih tinggi dari proyeksi US$4,25.
Segmen Intelligent Cloud mencatat pendapatan US$39,3 miliar, melampaui estimasi US$38,1 miliar. Azure juga untuk pertama kalinya menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari US$100 miliar, menjadi tonggak penting bagi bisnis cloud Microsoft.
Segmen Productivity and Business Processes mencatat pendapatan US$37,8 miliar, sedangkan More Personal Computing menghasilkan US$12,9 miliar. Keduanya berada di atas ekspektasi pasar.
Selain pertumbuhan pendapatan, Microsoft memiliki kewajiban kinerja tersisa sebesar US$678 miliar. Angka tersebut mencerminkan kontrak yang telah ditandatangani, tetapi belum diakui sebagai pendapatan. Besarnya backlog memberi investor visibilitas yang lebih kuat terhadap permintaan cloud dan AI dalam beberapa tahun mendatang.
Microsoft mengeluarkan sekitar US$41 miliar untuk belanja modal, termasuk sewa, selama kuartal tersebut. Nilainya memang masih sangat besar, tetapi berada sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar US$42 miliar.
Perbedaan ini penting. Microsoft tetap meningkatkan kapasitas AI, tetapi pertumbuhan Azure, backlog kontrak, dan kenaikan pendapatan menunjukkan bahwa investasi tersebut mulai memberikan hasil yang terukur.
Investor Tidak Menolak Capex, Tapi Menuntut Bukti
Reaksi berbeda terhadap Meta dan Microsoft memperjelas standar baru Wall Street terhadap perusahaan teknologi. Belanja modal besar tidak otomatis dianggap buruk. Investor masih menerima pengeluaran agresif jika perusahaan dapat menunjukkan permintaan pelanggan, pertumbuhan pendapatan, serta jalur menuju arus kas yang kuat.
Microsoft memenuhi sebagian besar kriteria tersebut melalui Azure dan kontrak cloud jangka panjang. Meta masih memiliki bisnis iklan yang sangat kuat, tetapi monetisasi dari model AI dan kapasitas pusat datanya belum sejelas pesaing.
Tekanan serupa sebelumnya terlihat pada Alphabet (GOOG). Meskipun kinerja operasional perusahaan solid, sahamnya tertekan setelah proyeksi belanja modal dinaikkan menjadi US$195 miliar-US$205 miliar.
Pesannya semakin konsisten: pasar tidak lagi hanya menghargai seberapa besar perusahaan berinvestasi dalam AI, tetapi seberapa cepat pengeluaran itu dapat diubah menjadi pendapatan dan keuntungan.
Pantau Peluang di Tengah Perkembangan AI
Pantau pergerakan Meta Platforms (META), Microsoft (MSFT), dan saham teknologi Amerika lainnya melalui aplikasi Nanovest. Ikuti juga perkembangan earnings, AI, dan Wall Street lewat News dan Artikel Tips Nanovest.
Referensi +
- Yahoo Finance: Meta misses on Q2 earnings, stock tumbles
- Yahoo Finance: Microsoft beats Q4 expectations, as Azure revenue tops $100 billion






