Harga minyak dunia kembali menguat setelah baku tembak terbaru antara Amerika Serikat dan Iran mengguncang harapan pasar terhadap gencatan senjata di Selat Hormuz.
Kenaikan ini terjadi hanya beberapa hari setelah pasar sempat optimistis bahwa konflik di Timur Tengah mulai mereda dan jalur perdagangan energi terpenting dunia itu bisa kembali normal.
Namun, bentrokan baru di Selat Hormuz langsung mengubah sentimen pasar.
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli naik lebih dari 2% ke level US$102 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mendekati US$97 per barel.
Baku Tembak Baru Picu Kekhawatiran Pasar
Washington dan Teheran saling menuduh sebagai pihak yang memulai serangan terbaru di Selat Hormuz.
Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata yang telah berlangsung sekitar satu bulan. Sementara itu, AS menyatakan serangannya merupakan respons atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan laut Amerika yang melintas di kawasan tersebut.
Militer Iran juga mengklaim AS menargetkan kapal tanker minyak Iran, beberapa kapal lain, hingga wilayah sipil di sekitar selat dan daratan Iran.
Insiden tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat mengganggu jalur distribusi energi global lebih lama dari perkiraan.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur transit strategis bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia sebelum perang dimulai pada akhir Februari lalu.
Trump Tegaskan Gencatan Senjata Masih Berlaku
Meski situasi kembali memanas, Presiden Donald Trump tetap bersikeras bahwa gencatan senjata masih berlaku.
Dalam percakapan telepon dengan reporter ABC News, Trump menyebut serangan terbaru itu sebagai “hanyalah sentuhan kasih sayang”.
Trump juga mengatakan AS siap mengakhiri operasi militernya dan mencabut blokade Selat Hormuz jika Iran menyetujui proposal perdamaian yang diajukan Washington.
Namun di sisi lain, Trump kembali memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi serangan tambahan apabila gagal mencapai kesepakatan nuklir dengan AS.
Pernyataan yang berubah cepat dari Gedung Putih membuat pasar semakin sulit membaca arah sebenarnya dari negosiasi damai tersebut.
Harapan Pembukaan Hormuz Mulai Memudar
Sebelumnya, pasar sempat optimistis setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.
Optimisme itu sempat menekan harga minyak selama tiga hari berturut-turut.
Namun, laporan terbaru yang menyebut Washington bersiap melanjutkan operasi pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz membuat pasar kembali ragu.
Analis ANZ Research menyebut harga minyak kini bergerak sangat fluktuatif karena pasar mulai mempertanyakan apakah negosiasi damai benar-benar mendekati titik akhir.
“Risiko kegagalan kesepakatan damai AS yang diusulkan kemungkinan akan membuat pasar minyak tetap bergejolak,” tulis ANZ dalam catatannya.
Transaksi Minyak Senilai US$7 Miliar Ikut Diselidiki
Di tengah volatilitas pasar energi, Reuters juga melaporkan bahwa Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) sedang menyelidiki transaksi minyak senilai total US$7 miliar.
Investigasi tersebut berfokus pada aktivitas perdagangan menjelang pengumuman penting terkait perang Iran oleh Presiden Trump.
Sebagian besar transaksi disebut melibatkan posisi short atau taruhan terhadap penurunan harga minyak sebelum Trump mengumumkan penundaan serangan dan wacana gencatan senjata yang sempat membuat harga minyak turun tajam.
Kasus ini semakin menunjukkan bagaimana konflik geopolitik kini menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar energi global dalam waktu sangat singkat.
Buat kamu yang ingin mengikuti peluang investasi di tengah dinamika pasar global, kamu bisa mulai investasi langsung di Nanovest. Pantau juga update pasar dan insight terbaru melalui News & Artikel Tips Nanovest agar tidak ketinggalan perkembangan penting yang memengaruhi pasar finansial dunia.






