Hubungan China dan Bank Dunia akan memasuki fase baru setelah lebih dari empat dekade berfokus pada pembiayaan pembangunan.
Bank Dunia mengonfirmasi rencana untuk secara bertahap menghentikan pinjaman kepada China pada 2031. Keputusan tersebut tertuang dalam Country Partnership Framework atau CPF terbaru, yang menjadi pedoman kerja sama kedua pihak selama lima tahun mendatang.
Melalui kerangka tersebut, penyaluran dana dari International Bank for Reconstruction and Development atau IBRD akan terus dikurangi dengan nilai kumulatif tidak lebih dari US$2 miliar. Pada akhir periode, Bank Dunia pada prinsipnya tidak lagi memperkirakan adanya pinjaman baru kepada China.
Perubahan ini mencerminkan transformasi ekonomi China. Negara tersebut tidak lagi dipandang terutama sebagai penerima pembiayaan pembangunan, tetapi semakin berperan sebagai mitra pengetahuan, sumber inovasi, dan donor bagi negara-negara berpendapatan rendah.
Pinjaman Turun Seiring Pertumbuhan Ekonomi China
Pembiayaan Bank Dunia kepada China telah menurun secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Nilai pinjaman sempat mencapai puncak US$2,42 miliar pada 2017, sebelum turun menjadi sekitar US$750 juta pada 2025. Penurunan tersebut terjadi seiring pesatnya perkembangan ekonomi China dan membaiknya berbagai indikator kemiskinan.
Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, kebutuhan China terhadap pembiayaan eksternal tidak lagi sebesar beberapa dekade lalu. Negara tersebut kini memiliki akses lebih luas terhadap pasar modal, perbankan domestik, dan sumber pendanaan pembangunan lainnya.
Bank Dunia menilai kondisi tersebut memungkinkan hubungan kedua pihak berkembang melampaui model tradisional antara lembaga pemberi pinjaman dan negara penerima dana.
Meski pinjaman akan dihentikan, China masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Pertumbuhan ekonomi melambat, jumlah penduduk usia kerja menyusut, masyarakat menua, dan ketimpangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan masih menjadi perhatian.
Karena itu, kerja sama tidak akan dihentikan sepenuhnya. Fokusnya akan bergeser ke bantuan teknis, penyusunan kebijakan, serta pertukaran pengalaman untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan jangka panjang.
Fokus Beralih ke Lapangan Kerja dan Ekonomi Rendah Karbon
Kerangka kerja terbaru Bank Dunia menetapkan sejumlah prioritas bagi kemitraan dengan China hingga 2031.
Salah satu fokus utama adalah menciptakan pertumbuhan yang menghasilkan lapangan kerja lebih baik. Bank Dunia juga akan mendukung penguatan ketahanan sosial agar masyarakat lebih siap menghadapi perubahan ekonomi, teknologi, dan demografi.
Agenda ekonomi rendah karbon menjadi pilar penting lainnya. Sebagai salah satu negara dengan konsumsi energi dan emisi terbesar di dunia, keberhasilan transisi China dapat memberi dampak besar terhadap pencapaian target iklim global.
Kerja sama dapat mencakup pengembangan energi bersih, peningkatan efisiensi industri, pembangunan kota berkelanjutan, serta pengurangan emisi dari sektor transportasi dan manufaktur.
Selain membantu China, Bank Dunia ingin menggunakan pengalaman tersebut untuk menghasilkan model pembangunan yang dapat diterapkan di negara berkembang lainnya. Solusi untuk menghadapi populasi menua, urbanisasi, transisi energi, dan perubahan struktur ekonomi dinilai semakin relevan bagi banyak pasar negara berkembang.
Dengan demikian, kemitraan tidak lagi diukur dari seberapa besar dana yang disalurkan, tetapi dari seberapa luas pengetahuan dan kebijakan yang dapat dihasilkan serta dibagikan.
China Beralih dari Peminjam Menjadi Donor
Perubahan posisi China juga terlihat dari kontribusinya terhadap program Bank Dunia bagi negara-negara termiskin.
Beijing menyumbangkan sekitar US$1,5 miliar dalam putaran pengisian dana terbaru International Development Association atau IDA. Kontribusi tersebut menjadikan China sebagai donor terbesar kelima dalam program tersebut.
IDA memberikan pinjaman berbunga rendah dan hibah kepada negara-negara yang memiliki akses terbatas terhadap sumber pembiayaan komersial. Dana tersebut digunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur, pendidikan, layanan kesehatan, ketahanan pangan, dan pengentasan kemiskinan.
Keterlibatan China sebagai donor memperlihatkan perubahan besar dari posisinya ketika pertama kali bekerja sama dengan Bank Dunia sekitar 45 tahun lalu.
Saat itu, China masih sangat bergantung pada pembiayaan dan keahlian pembangunan internasional. Kini, negara tersebut mulai berkontribusi dalam mendanai program yang ditujukan bagi ekonomi dengan tingkat pendapatan lebih rendah.
Pemerintah China menyatakan akan tetap memperdalam keterlibatan dengan Bank Dunia meskipun hubungan terkait pinjaman berubah. Hal ini menunjukkan bahwa berakhirnya pembiayaan bukan berarti berakhirnya kemitraan, melainkan perubahan dalam pembagian peran.
Keputusan Ini Juga Memiliki Dimensi Politik
Rencana penghentian pinjaman ke China tidak terlepas dari tekanan politik yang telah berlangsung selama beberapa tahun.
Pada masa jabatan pertamanya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah meminta Bank Dunia menghentikan pembiayaan kepada China. Pemerintahannya menilai negara dengan kekuatan ekonomi sebesar China tidak seharusnya terus menerima dana pembangunan dari lembaga multilateral.
Trump mempertahankan sikap yang tegas terhadap Beijing pada masa jabatan keduanya, meski belum secara khusus mengulangi tuntutan penghentian pinjaman Bank Dunia.
Namun, keputusan terbaru tidak dilakukan secara mendadak. Pinjaman telah menurun selama bertahun-tahun dan penghentian akan berlangsung bertahap hingga 2031, bukan langsung dihentikan dalam satu waktu.
Pendekatan ini memberi ruang bagi proyek yang sedang berjalan untuk diselesaikan, sekaligus memungkinkan Bank Dunia mengalihkan sumber dayanya kepada negara yang lebih membutuhkan pembiayaan pembangunan.
Bagi pasar, langkah tersebut mempertegas bahwa posisi China dalam sistem ekonomi global terus berubah. Negara tersebut semakin berperan sebagai investor, pemberi pinjaman, dan donor, meskipun masih menghadapi perlambatan ekonomi serta tantangan struktural di dalam negeri.
Pantau perkembangan ekonomi global dan dampaknya terhadap berbagai saham Amerika melalui aplikasi investasi Nanovest. Temukan pula informasi pasar terbaru melalui News dan Artikel Tips Nanovest agar setiap keputusan investasi tetap mengikuti perubahan penting di dunia.
Referensi +
- AFP: World Bank confirms plan to phase out China lending by 2031
- New Straits Times: World Bank confirms plan to phase out China lending by 2031






