Perusahaan pemegang Bitcoin terbesar di dunia, Strategy, memilih untuk menghentikan sementara pembelian Bitcoin (BTC) menjelang rilis laporan keuangan kuartal pertama. Langkah ini langsung menarik perhatian pasar, terutama karena biasanya perusahaan ini dikenal agresif dalam akumulasi aset kripto.
Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Executive Chairman Michael Saylor, yang menyebutkan bahwa tidak ada pembelian Bitcoin pada pekan ini, sebuah sinyal yang jarang terjadi di tengah tren akumulasi berkelanjutan sebelumnya.
Jeda Sementara di Tengah Tren Akumulasi
Langkah “pause” ini datang setelah aktivitas pembelian yang cukup aktif dalam beberapa pekan terakhir. Pada periode 20 hingga 26 April, Strategy tercatat membeli 3.273 Bitcoin dengan nilai sekitar $255 juta.
Secara keseluruhan, perusahaan kini memegang sekitar 818.334 BTC, dengan harga rata-rata pembelian di kisaran $77.906 per koin. Dengan harga Bitcoin yang sempat berada di sekitar $78.000-$79.000, posisi ini masih relatif sejalan dengan harga pasar saat ini.
Aksi akumulasi Strategy, bersama dengan arus masuk ke ETF Bitcoin spot di AS, menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga BTC sekitar 12% sepanjang April.
Laporan Keuangan Diprediksi Tekan Sentimen
Fokus pasar kini beralih ke laporan keuangan kuartal pertama yang akan dirilis dalam waktu dekat. Analis Wall Street memperkirakan Strategy akan mencatat kerugian sekitar $18,98 per saham.
Kerugian ini sebagian besar dipengaruhi oleh metode pencatatan nilai wajar Bitcoin dalam laporan keuangan perusahaan, yang membuat kinerja terlihat fluktuatif mengikuti pergerakan harga aset kripto.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan juga mencatat kerugian sebesar $16,49 per saham.
Sorotan pada Struktur Pendanaan dan Dividen
Selain kinerja keuangan, perhatian investor juga tertuju pada instrumen STRC—sekuritas preferensi abadi milik Strategy yang menawarkan imbal hasil dividen sekitar 11,5%.
Beberapa pengamat menilai struktur ini membawa risiko tersendiri. Kritik datang dari sejumlah pihak yang mempertanyakan keberlanjutan pembayaran dividen tersebut, terutama jika kinerja Bitcoin tidak cukup kuat untuk mendukung imbal hasil tinggi tersebut.
Ada juga kekhawatiran bahwa jika cadangan kas tidak mencukupi, perusahaan mungkin perlu terus menerbitkan saham baru untuk memenuhi kewajiban, yang berpotensi meningkatkan risiko bagi investor.
Meski begitu, pandangan pasar tetap terbelah. Di satu sisi, ada kekhawatiran terkait leverage dan risiko manajemen. Di sisi lain, konsensus analis masih menunjukkan sentimen positif dengan rating “beli kuat” terhadap saham perusahaan.
Dengan jeda pembelian ini, pasar kini menunggu apakah Strategy akan kembali melanjutkan strategi akumulasi agresifnya setelah laporan keuangan dirilis, atau justru mulai mengambil pendekatan yang lebih hati-hati.
Langkah perusahaan ini menjadi salah satu indikator penting bagi sentimen pasar kripto, mengingat perannya sebagai salah satu akumulator institusional terbesar Bitcoin saat ini.
Buat kamu yang ingin mulai investasi kripto atau memantau peluang di Bitcoin dan aset digital lainnya, kamu bisa eksplor langsung di Nanovest.
Dapatkan juga insight dan update terbaru seputar pasar melalui News & Artikel Tips Nanovest untuk bantu kamu mengambil keputusan investasi dengan lebih terarah.






