Saham Circle Internet Group (CRCL) melonjak tajam pada perdagangan Senin setelah laporan pendapatan kuartal pertama perusahaan memunculkan optimisme baru terhadap masa depan stablecoin dan infrastruktur pembayaran kripto global.
Saham perusahaan penerbit USDC tersebut sempat bergerak fluktuatif setelah laporan keuangan dirilis, namun akhirnya ditutup naik sekitar 16%. Kenaikan ini terjadi meski laba bersih Circle justru turun dibanding tahun lalu, menunjukkan bahwa fokus investor saat ini mulai bergeser ke pertumbuhan penggunaan stablecoin dan potensi jangka panjang industri tersebut.
Circle melaporkan pendapatan kuartal pertama sebesar $694 juta, naik 20% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih tercatat sebesar $55 juta atau sekitar $0,21 per saham, turun 15% secara tahunan namun masih melampaui ekspektasi analis.
Di balik angka tersebut, perhatian pasar justru tertuju pada pertumbuhan USDC dan bagaimana Circle mulai memperluas posisi mereka di luar sekadar penerbit stablecoin.
Peredaran USDC Tembus $77 Miliar
Stablecoin USDC milik Circle mengakhiri kuartal pertama dengan total peredaran mencapai $77 miliar. Angka tersebut naik 28% dibanding tahun lalu dan terus memperkuat posisi USDC sebagai stablecoin terbesar kedua di dunia setelah USDT milik Tether.
Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya penggunaan stablecoin untuk berbagai aktivitas, mulai dari trading kripto, pembayaran lintas negara, hingga kebutuhan penyimpanan dana di tengah volatilitas pasar global.
Volatilitas pasar dan konflik geopolitik di Timur Tengah pada awal tahun juga membuat sebagian investor beralih dari aset kripto yang lebih berisiko ke stablecoin seperti USDC untuk menjaga likuiditas.
Namun, yang membuat investor semakin optimistis adalah perubahan struktur bisnis Circle sendiri.
Perusahaan mulai mendapatkan margin yang lebih tinggi dari cadangan stablecoin mereka. Artinya, Circle kini semakin sedikit bergantung pada platform pihak ketiga seperti Coinbase dan Binance untuk menghasilkan volume transaksi.
Pasar melihat ini sebagai tanda bahwa Circle mulai membangun ekosistem yang lebih mandiri dan berpotensi lebih menguntungkan dalam jangka panjang.
Stablecoin Mulai Dipandang Sebagai Infrastruktur Finansial Baru
Dalam beberapa tahun terakhir, stablecoin awalnya lebih dikenal sebagai “alat parkir dana” di pasar kripto. Namun sekarang, narasinya mulai berubah.
Wall Street dan perusahaan teknologi mulai melihat stablecoin sebagai infrastruktur pembayaran digital baru yang dapat digunakan untuk transaksi lintas negara, perdagangan online, hingga sistem pembayaran berbasis AI.
Circle sendiri semakin agresif mendorong arah tersebut.
Perusahaan baru saja meluncurkan berbagai tools baru untuk pengembang software dan agen AI agar lebih mudah menggunakan USDC dalam sistem pembayaran otomatis.
Perkembangan ini muncul di saat tren AI agent mulai berkembang pesat, yaitu sistem AI yang dapat menjalankan tugas secara mandiri, termasuk melakukan transaksi dan pembayaran tanpa campur tangan manusia secara langsung.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, Meta juga mulai menguji pembayaran kreator menggunakan USDC di beberapa negara seperti Kolombia dan Filipina. Circle sebelumnya juga telah bekerja sama dengan platform prediction market Polymarket untuk infrastruktur stablecoin mereka.
Semua ini memperkuat pandangan bahwa stablecoin mulai bergerak dari sekadar produk kripto menuju lapisan infrastruktur internet finansial generasi berikutnya.
Dukungan Regulasi dan Institusi Semakin Besar
Momentum Circle juga didukung perkembangan regulasi di Amerika Serikat dan Eropa.
Penerapan regulasi MiCA di Eropa serta pengesahan GENIUS Act di AS mulai memberikan kepastian hukum bagi stablecoin berbasis dolar seperti USDC.
Hal ini membuat semakin banyak institusi besar mulai berani masuk ke sektor stablecoin.
Circle mengungkapkan bahwa mereka berhasil menjual token ARC senilai $222 juta kepada investor institusional besar. Beberapa nama yang terlibat antara lain BlackRock, Apollo Global Management, Andreessen Horowitz, hingga Intercontinental Exchange, perusahaan induk New York Stock Exchange.
Masuknya institusi besar ini semakin memperkuat narasi bahwa stablecoin bukan lagi sekadar eksperimen industri kripto, tetapi mulai dipandang sebagai bagian penting dari sistem keuangan digital global ke depan.
Stablecoin Jadi Tema Besar Berikutnya?
Meski saham Circle masih turun lebih dari 50% dari puncak tertingginya setelah IPO tahun lalu, saham perusahaan tetap naik sekitar 56% sepanjang tahun ini.
Pasar tampaknya mulai melihat stablecoin sebagai salah satu tema terbesar berikutnya di dunia finansial digital. Banyak analis percaya bahwa peluang pasar stablecoin masih sangat besar, terutama jika penggunaan pembayaran digital lintas negara dan sistem transaksi berbasis AI terus berkembang dalam beberapa tahun mendatang.
Untuk saat ini, investor tampaknya mulai melihat stablecoin bukan hanya sebagai bagian dari dunia kripto, tetapi juga sebagai fondasi baru bagi sistem pembayaran digital global.
Buat kamu yang ingin mengikuti perkembangan pasar kripto, saham Amerika, dan tren teknologi global seperti AI dan stablecoin, kamu bisa mulai investasi aset digital dan saham AS langsung di Nanovest. Pantau juga update pasar terbaru melalui News & Artikel Tips Nanovest untuk mengikuti perkembangan market setiap harinya.






