Harga minyak dunia kembali melemah setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah mulai mereda. Dibukanya kembali Selat Hormuz menyusul kemajuan awal dalam perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran membuat arus minyak kembali mengalir, sehingga pasar kini justru menghadapi lonjakan pasokan.
Perubahan ini terjadi sangat cepat. Jika beberapa bulan lalu pasar sempat khawatir akan kekurangan pasokan akibat konflik, kini kondisi berbalik dengan semakin banyaknya minyak yang masuk ke pasar global.
Selat Hormuz Kembali Ramai, Pasokan Minyak Meningkat
Pembukaan kembali Selat Hormuz membuat kapal-kapal tanker yang sebelumnya tertahan mulai kembali beroperasi. Dalam beberapa hari terakhir, jutaan barel minyak dari Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, hingga Oman kembali mengalir menuju pasar internasional.
Melimpahnya pasokan membuat harga minyak Brent turun ke sekitar US$73 per barel, level terendah sejak sebelum konflik dimulai. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga kembali diperdagangkan di bawah US$70 per barel setelah terkoreksi hampir 4% dalam satu sesi.
Tidak hanya minyak dari Timur Tengah, pasokan dari wilayah lain seperti Angola juga mengalami tekanan harga. Bahkan, minyak mentah Angola diperdagangkan dengan diskon terbesar dalam lebih dari satu dekade karena pembeli, terutama dari Asia, telah memiliki pasokan yang cukup untuk beberapa bulan ke depan.
Permintaan Belum Mampu Menyerap Lonjakan Pasokan
Tekanan harga semakin besar karena permintaan belum meningkat secepat bertambahnya pasokan. Kilang-kilang di Asia dilaporkan telah mengamankan kebutuhan minyak hingga Agustus, sementara permintaan dari China masih relatif lemah dibandingkan ekspektasi pasar.
Di saat yang sama, pelonggaran sementara sanksi terhadap ekspor minyak Iran juga membuka peluang bertambahnya pasokan global dalam waktu relatif singkat. Beberapa analis memperkirakan produksi dan ekspor Iran dapat meningkat hanya dalam hitungan minggu berkat besarnya stok minyak yang telah disimpan di kapal tanker.
Kondisi tersebut membuat struktur pasar minyak mulai berubah ke contango, yaitu situasi ketika harga kontrak jangka pendek lebih rendah dibandingkan kontrak jangka panjang. Pola ini umumnya mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kondisi pasokan yang lebih longgar.
Risiko Geopolitik Masih Perlu Diwaspadai
Meski pasokan kembali meningkat, pasar belum sepenuhnya bebas dari risiko. Kesepakatan damai antara AS dan Iran masih berada pada tahap awal, sementara pembahasan lanjutan mengenai program nuklir Iran dan pencabutan sanksi diperkirakan masih akan berlangsung.
Selain itu, persediaan minyak di Amerika Serikat masih berada di level rendah. Stok minyak mentah, termasuk Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve), tercatat berada di titik terendah sejak 1984, sehingga pasar tetap rentan apabila kembali terjadi gangguan pasokan.
Bagi investor, kondisi ini menunjukkan bahwa harga minyak kini kembali lebih dipengaruhi oleh keseimbangan antara pasokan dan permintaan setelah sempat didominasi sentimen geopolitik. Perkembangan negosiasi AS-Iran, kebijakan ekspor Iran, hingga permintaan energi global akan menjadi faktor penting yang perlu terus dipantau dalam beberapa pekan ke depan.
Ingin mengikuti perkembangan harga minyak, komoditas, dan pasar global secara real-time? Temukan berita pasar dan insight investasi terbaru di News & Artikel Tips Nanovest, serta mulai berinvestasi dengan mudah melalui aplikasi Nanovest.
Referensi +
- Hormuz Reopening Is Quickly Flooding Oil Markets With Supply






