Nvidia (NVDA) kembali memperluas ambisinya di luar bisnis chip pusat data. Perusahaan kini memperdalam ekspansi ke sektor robotika, manufaktur, dan kesehatan melalui peluncuran model AI baru serta rangkaian kemitraan dengan perusahaan-perusahaan besar di Jepang.
Dalam kunjungan CEO Jensen Huang ke Tokyo, Nvidia memperkenalkan Cosmos 3 Edge, model AI terbaru yang dirancang untuk membantu robot dan agen AI berbasis visual memahami serta menavigasi lingkungan fisik secara real-time.
Langkah ini menunjukkan bahwa fokus Nvidia mulai berkembang dari sekadar menyediakan komputasi untuk chatbot dan model bahasa besar menuju apa yang disebut sebagai AI fisik, yakni teknologi yang memungkinkan kecerdasan buatan berinteraksi langsung dengan mesin, pabrik, kendaraan, dan robot.
Cosmos 3 Edge Bantu Robot Memahami Dunia Fisik
Cosmos 3 Edge merupakan jenis world model, yaitu sistem AI yang dapat mempelajari berbagai bentuk masukan untuk membangun pemahaman mengenai lingkungan di sekitarnya.
Berbeda dengan model bahasa besar yang terutama memproses teks, world model dapat memanfaatkan data visual, gerakan, hingga kondisi lingkungan. Kemampuan tersebut memungkinkan robot mengambil keputusan dengan lebih cepat ketika beroperasi di dunia nyata.
Model ini menjadi kelanjutan dari Cosmos 3 yang diperkenalkan Nvidia pada Mei. Melalui versi Edge, pemrosesan AI dapat dilakukan lebih dekat dengan perangkat atau mesin yang digunakan, sehingga respons sistem menjadi lebih cepat dan tidak selalu bergantung pada pusat data jarak jauh.
Teknologi tersebut berpotensi digunakan pada robot industri, sistem otomatisasi pabrik, kendaraan otonom, hingga perangkat medis yang membutuhkan pemahaman lingkungan secara langsung.
Gandeng Raksasa Industri dan Farmasi Jepang
Bersamaan dengan peluncuran Cosmos 3 Edge, Nvidia juga membentuk koalisi AI fisik di Jepang yang direncanakan melibatkan sejumlah perusahaan besar, termasuk Fujitsu, Hitachi, dan Kawasaki Heavy Industries.
Kemitraan tersebut diarahkan untuk mempercepat penggunaan AI dalam manufaktur dan otomasi industri. Jepang dinilai menjadi pasar strategis karena memiliki basis industri, teknologi robotika, dan keahlian otomatisasi pabrik yang kuat.
Kebutuhan terhadap otomatisasi juga semakin besar seiring menyusutnya populasi dan tenaga kerja di negara tersebut. Kondisi ini mendorong perusahaan Jepang mencari teknologi yang dapat membantu mempertahankan produktivitas dengan lebih sedikit pekerja.
Selain manufaktur, Nvidia turut memperluas kehadirannya di sektor kesehatan dan bioteknologi. Perusahaan mendukung pengembangan Tokyo-1, konsorsium penemuan obat berbasis AI yang dijalankan Xeureka, anak perusahaan Mitsui.
Platform tersebut memanfaatkan Nvidia BioNeMo Agent Toolkit untuk membantu mengotomatisasi proses riset dan penemuan kandidat obat. Sejumlah perusahaan farmasi Jepang, termasuk Astellas Pharma, Daiichi Sankyo, dan Ono Pharmaceutical, juga mulai menggunakan perangkat AI Nvidia untuk mempercepat alur kerja penelitian biologi mereka.
Vera Rubin Jadi Fondasi Pertumbuhan Berikutnya
Ekspansi AI fisik Nvidia di Jepang turut didukung oleh platform komputasi generasi berikutnya, Vera Rubin. Jensen Huang memastikan bahwa perangkat keras tersebut telah memasuki tahap produksi dan akan segera diproduksi dalam volume besar.
Pernyataan itu meredakan kekhawatiran mengenai potensi keterlambatan produksi yang sebelumnya sempat dilaporkan. Bagi investor, jadwal peluncuran Rubin menjadi penting karena pertumbuhan Nvidia selama ini sangat bergantung pada kemampuannya menghadirkan generasi chip baru secara konsisten.
Rubin bukan hanya penerus Blackwell dengan kemampuan komputasi yang lebih tinggi. Platform ini menggabungkan GPU, CPU, jaringan, penyimpanan, dan perangkat lunak menjadi sistem lengkap untuk mendukung pabrik AI, agen otonom, serta aplikasi robotika.
CPU Vera yang menjadi bagian dari platform tersebut juga telah memasuki produksi massal. Nvidia mengklaim perangkat itu mampu menjalankan beberapa tugas agen AI lebih cepat dibandingkan CPU x86 konvensional.
Kehadiran Rubin memberi Nvidia peluang untuk memperluas sumber pendapatan dari pusat data menuju robot, mesin industri, dan sistem otomatis yang beroperasi langsung di dunia nyata.
Jepang Bisa Menjadi Pasar Strategis Nvidia
Nvidia melihat Jepang sebagai lokasi yang ideal untuk mengembangkan AI fisik karena negara tersebut memiliki perusahaan manufaktur dan robotika kelas dunia. Pemerintah Jepang juga aktif mendorong adopsi AI serta membuka kerja sama dengan perusahaan teknologi internasional.
Nilai pasar AI Jepang diperkirakan dapat mencapai US$27,9 miliar pada 2029. Peluang tersebut turut menarik investasi besar dari perusahaan global seperti Microsoft dan SoftBank yang sedang membangun infrastruktur AI di negara tersebut.
Bagi Nvidia, ekspansi ini bukan hanya tentang menjual lebih banyak chip. Perusahaan sedang membangun ekosistem yang menghubungkan perangkat keras, perangkat lunak, model AI, dan mitra industri dalam satu platform.
Keberhasilan strategi tersebut dapat membantu Nvidia mempertahankan dominasinya ketika pertumbuhan AI mulai bergeser dari chatbot menuju robotika, pabrik otomatis, penemuan obat, dan berbagai aplikasi di dunia fisik.
Baca berita lainnya terkait saham Nvidia di halaman ini.
Tertarik mengikuti perkembangan saham teknologi seperti Nvidia dan perusahaan global lain yang sedang membentuk masa depan AI? Pantau peluang investasinya melalui aplikasi investasi Nanovest, serta ikuti pembaruan pasar melalui News dan Artikel Tips Nanovest agar kamu tidak melewatkan perkembangan penting dari industri teknologi dunia.
Referensi +
- CNBC: Nvidia unveils new AI model and expands Japan’s physical AI ecosystem
- TheStreet: Nvidia’s Rubin reassurance protects a much bigger AI bet






