Setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan dari pandemi, layanan streaming, dan beban utang, AMC Entertainment (AMC) akhirnya mencatatkan kuartal yang membuat pasar kembali menaruh perhatian.
Saham operator bioskop tersebut melonjak 26,8% pada perdagangan Senin (20/7) setelah perusahaan melaporkan pendapatan dan EBITDA kuartalan tertinggi sepanjang sejarahnya. Kinerja tersebut jauh melampaui ekspektasi Wall Street dan memperkuat harapan bahwa pemulihan bisnis bioskop mulai memasuki fase yang lebih solid.
AMC membukukan pendapatan kuartal kedua sebesar US$1,6 miliar, naik 14,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan juga mencatat laba per saham yang disesuaikan sebesar US$0,14, berbanding terbalik dengan perkiraan analis yang sebelumnya mengantisipasi kerugian.
Film Blockbuster Bawa Penonton Kembali ke Bioskop
Pemulihan AMC didorong oleh deretan film besar yang berhasil menarik penonton kembali ke layar lebar. Sejumlah film mencatat pendapatan pembukaan domestik lebih dari US$75 juta, termasuk The Super Mario Galaxy Movie dan The Odyssey.
Secara keseluruhan, pendapatan box office domestik industri bioskop mencapai sekitar US$2,99 miliar selama kuartal kedua. Angka tersebut naik 10,7% dibandingkan tahun lalu, sekaligus menjadi kuartal box office terbesar dalam tujuh tahun terakhir.
AMC bahkan tumbuh lebih cepat dibandingkan industri secara keseluruhan. Pendapatan domestik perusahaan naik sekitar 13%, menunjukkan bahwa jaringan bioskop tersebut berhasil menambah pangsa pasar.
Momentum yang lebih kuat juga terlihat dari bisnis internasional. Jumlah penonton AMC di luar Amerika Serikat meningkat hampir 18%, sementara EBITDA yang disesuaikan dari operasi internasional melonjak lebih dari 336%.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa konsumen masih bersedia datang ke bioskop ketika studio menghadirkan film yang memiliki daya tarik besar. Pengalaman menonton di layar lebar, termasuk format premium, juga tetap menjadi pembeda yang sulit sepenuhnya digantikan oleh layanan streaming.
Profitabilitas dan Arus Kas Meningkat Tajam
Lonjakan jumlah penonton tidak hanya meningkatkan penjualan tiket, tetapi juga memberikan dampak besar terhadap profitabilitas AMC.
EBITDA yang disesuaikan naik 69,6% menjadi US$321,4 juta, dari US$189,5 juta pada periode yang sama tahun lalu. Ini menjadi pertama kalinya AMC menghasilkan EBITDA lebih dari US$300 juta dalam satu kuartal.
Margin EBITDA perusahaan juga meningkat menjadi 20,1%, dari sebelumnya 13,6%. Perbaikan tersebut mencerminkan besarnya leverage operasional dalam bisnis bioskop. Ketika jumlah penonton meningkat, tambahan pendapatan dari tiket, makanan, dan minuman dapat langsung memberi kontribusi lebih besar terhadap laba.
AMC juga menghasilkan arus kas operasional sebesar US$235 juta dan arus kas bebas sebesar US$190,1 juta. Posisi kas dan setara kas perusahaan naik menjadi US$778,4 juta per akhir Juni, hampir dua kali lipat dibandingkan US$423,7 juta setahun sebelumnya.
Arus kas yang lebih kuat memberi AMC ruang lebih besar untuk memperbaiki neraca keuangannya. Sejak akhir 2020, perusahaan tercatat telah mengurangi utang sekitar US$1,7 miliar, sehingga beban bunga dapat berkurang dan lebih banyak kas tersedia untuk mendukung operasional.
Prospek Film 2026 Dorong Optimisme, Tapi Risiko Belum HilangĀ
Kinerja kuartal kedua membuat manajemen AMC semakin optimistis bahwa 2026 dapat menjadi tahun terbaik bagi industri bioskop sejak pandemi.
Kesuksesan The Odyssey turut memberi sinyal positif menjelang perilisan sejumlah film besar lainnya, termasuk Spider-Man: Brand New Day, Dune: Part Three, dan Avengers: Doomsday. Jadwal film yang kuat berpotensi menjaga pertumbuhan jumlah penonton dan pendapatan selama beberapa kuartal mendatang.
AMC juga terus mengandalkan strategi harga yang lebih fleksibel, pengalaman bioskop premium, serta penawaran makanan dan minuman untuk meningkatkan pendapatan per pengunjung.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko. AMC masih memiliki beban utang yang besar dan selama beberapa tahun terakhir berulang kali menerbitkan saham baru untuk mengumpulkan modal. Langkah tersebut membantu memperkuat likuiditas, tetapi juga menyebabkan dilusi bagi pemegang saham lama.
Selain itu, AMC masih dikenal sebagai salah satu saham meme yang pergerakannya dapat dipengaruhi oleh aktivitas investor ritel dan sentimen jangka pendek. Meski sahamnya telah naik sekitar 49% sepanjang 2026, nilainya masih turun sekitar 99% dalam lima tahun terakhir dibandingkan level tertinggi pada 2021.
Karena itu, lonjakan terbaru bukan hanya soal euforia pasar. Perhatian investor berikutnya akan tertuju pada kemampuan AMC mempertahankan pertumbuhan box office, menghasilkan arus kas positif, dan terus menurunkan utang tanpa terlalu bergantung pada penerbitan saham baru.
Mau ikut memantau peluang dari saham-saham Amerika seperti AMC Entertainment? Temukan berbagai pilihan saham AS di aplikasi investasi Nanovest, lalu ikuti perkembangan pasar terbaru melalui News dan Artikel Tips Nanovest agar setiap keputusan investasi didukung informasi yang lebih matang.
Referensi +
- Yahoo Finance: AMC stock surges after record revenue as CEO pushes back against 'prognosticators of doom'
- Investors Hub: AMC Entertainment stock surges after record quarterly revenue and EBITDA






