Pasar keuangan global memulai pekan dengan sentimen positif setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan damai yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir empat bulan.
Kabar tersebut langsung disambut investor dengan aksi beli di pasar saham, sementara harga minyak mengalami penurunan tajam karena kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global mulai mereda. Kontrak berjangka indeks utama Wall Street melonjak pada perdagangan Minggu malam, dengan Nasdaq memimpin kenaikan seiring kembalinya minat investor terhadap saham teknologi dan pertumbuhan.
Perdamaian ini juga membuka jalan bagi pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi pusat perhatian pasar energi global.
Harga Minyak Turun Tajam, Saham Global Menguat
Reaksi terbesar terlihat di pasar energi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun hampir 5% ke sekitar US$81 per barel, sementara Brent turun lebih dari 4% ke kisaran US$84 per barel.
Penurunan tersebut terjadi setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan dengan Iran telah tercapai dan pembukaan kembali Selat Hormuz akan segera dilakukan. Jalur laut tersebut selama ini menangani sekitar 20% pasokan minyak dunia dan sempat terganggu sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Meredanya risiko gangguan pasokan energi membuat investor mengurangi premi risiko yang selama beberapa bulan terakhir membebani pasar. Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,8%, Dow Jones menguat lebih dari 300 poin, sementara Nasdaq 100 melonjak sekitar 1,3%.
Di Asia, sentimen positif juga terlihat jelas. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak lebih dari 5%, Nikkei Jepang naik sekitar 3,6%, dan sejumlah pasar utama lainnya turut menguat.
Harapan Inflasi Mereda Dorong Optimisme Investor
Selain menekan harga minyak, kesepakatan damai ini juga berpotensi mengurangi tekanan inflasi global.
Selama beberapa bulan terakhir, perang AS-Iran mendorong kenaikan harga energi, logistik, dan sejumlah komoditas penting. Kondisi tersebut sempat meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi akan kembali naik dan mempersulit langkah bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Kini, dengan harga energi yang mulai turun, investor kembali melihat peluang inflasi bergerak lebih terkendali. Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turun, menandakan berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap tekanan harga di masa depan.
Sentimen positif ini muncul menjelang pertemuan Federal Reserve pekan ini. Berdasarkan ekspektasi pasar, bank sentral AS diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Investor Tetap Waspada terhadap Risiko Implementasi
Meski pasar merespons positif, sejumlah analis mengingatkan bahwa proses implementasi kesepakatan masih menyisakan ketidakpastian.
Perjanjian damai tersebut baru dijadwalkan untuk ditandatangani secara resmi dalam beberapa hari ke depan, sementara pembukaan penuh Selat Hormuz diperkirakan membutuhkan waktu karena adanya proses pembersihan jalur pelayaran dan normalisasi lalu lintas kapal.
Selain itu, sejumlah pihak menilai masih ada risiko geopolitik yang dapat memengaruhi pelaksanaan kesepakatan dalam jangka pendek. Hal ini tercermin dari harga emas yang tetap bertahan di level tinggi meskipun sentimen pasar secara umum membaik.
Meski demikian, pasar untuk sementara melihat perkembangan ini sebagai langkah penting menuju stabilitas yang lebih besar. Jika kesepakatan berjalan sesuai rencana dan arus energi global kembali normal, tekanan terhadap harga minyak dan inflasi berpotensi terus mereda dalam beberapa bulan mendatang.
Ingin mengikuti perkembangan pasar saham AS, harga minyak, dan berbagai peristiwa global yang memengaruhi investasi? Pantau terus News & Artikel Tips Nanovest untuk mendapatkan update pasar terkini dan berbagai insight investasi. Kamu juga bisa mulai berinvestasi saham AS, kripto, dan emas digital langsung melalui aplikasi Nanovest.






