Pendapatan Amerika Serikat dari tarif impor mencetak angka historis sepanjang 2025, seiring perubahan besar kebijakan perdagangan yang diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump. Berdasarkan laporan terbaru Departemen Keuangan AS, penerimaan tarif pada Desember mencapai US$27,89 miliar, sehingga total pendapatan sepanjang tahun lalu menembus US$264,05 miliar. Angka tersebut menjadi rekor tahunan tertinggi sepanjang sejarah AS.
Meski demikian, data terbaru juga menunjukkan adanya perlambatan. Desember menjadi bulan kedua berturut-turut terjadinya penurunan penerimaan tarif, setelah sebelumnya mencapai puncak pada Oktober dengan nilai US$31,35 miliar. Pada November, pendapatan dari bea masuk turun menjadi US$30,76 miliar, sebelum kembali melemah pada akhir tahun. Penurunan lebih dari 10% dari level tertinggi ini menandai perubahan dinamika arus perdagangan global.
Kebijakan tarif yang agresif dinilai telah mengubah pola perdagangan internasional, khususnya arus impor menuju Amerika Serikat. Dampaknya tercermin pada data defisit perdagangan AS yang menyempit signifikan. Pada November, defisit perdagangan tercatat hanya US$29,4 miliar, level terendah sejak 2009. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya aktivitas impor akibat tarif tinggi yang membebani pelaku usaha.
Perubahan ini terlihat kontras jika dibandingkan dengan kondisi setahun sebelumnya. Pada Desember 2024, penerimaan tarif AS hanya sebesar US$6,81 miliar, sementara total sepanjang tahun 2024 berada di kisaran US$79 miliar. Lonjakan tajam dalam satu tahun menunjukkan betapa besar dampak kebijakan perdagangan baru terhadap struktur pendapatan negara.
Namun, tingginya penerimaan tarif belum mampu menutup defisit anggaran federal. Dalam tiga bulan pertama tahun fiskal, dari Oktober hingga Desember, AS mencatat defisit sebesar US$602 miliar. Khusus Desember, defisit mencapai US$145 miliar, jauh melampaui pemasukan dari tarif impor. Hal ini menegaskan bahwa tarif, meskipun signifikan, belum cukup untuk menyeimbangkan keuangan negara secara keseluruhan.
Meski demikian, pemerintah tetap memandang tarif sebagai instrumen strategis. Sejak kebijakan tersebut mulai diterapkan awal tahun lalu, penerimaan bulanan melonjak dari sekitar US$7 miliar pada Februari dan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada Oktober. Penurunan yang terjadi belakangan dinilai wajar, seiring penyesuaian perdagangan global dan berkurangnya volume impor.
Ke depan, ketidakpastian masih membayangi perdagangan global. Ancaman tarif tambahan terhadap negara-negara tertentu serta dinamika kebijakan perdagangan diperkirakan akan terus mempengaruhi arus perdagangan internasional sepanjang 2026. Bagi pasar keuangan, perkembangan ini menjadi faktor penting yang dapat berdampak pada inflasi, nilai tukar, serta arah kebijakan ekonomi global.






