Pertumbuhan lapangan kerja di Amerika Serikat diperkirakan mengalami perlambatan pada April 2026 setelah sebelumnya terdorong oleh faktor sementara seperti cuaca yang lebih hangat dan kembalinya tenaga kesehatan yang sempat melakukan aksi mogok kerja. Meski demikian, kondisi ini belum dianggap sebagai tanda pelemahan serius di pasar tenaga kerja AS.
Laporan ketenagakerjaan terbaru diperkirakan menunjukkan tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,3%. Para ekonom menilai pasar tenaga kerja saat ini masih berada dalam kondisi yang relatif stabil, meskipun aktivitas perekrutan tidak sekuat beberapa tahun terakhir.
Ekonom menyebut situasi ini sebagai fase “slow hire, slow fire”, yaitu kondisi ketika perusahaan cenderung tidak agresif merekrut pekerja baru, tetapi juga tidak melakukan pemutusan hubungan kerja dalam jumlah besar. Kebijakan perdagangan dan imigrasi Presiden Donald Trump dinilai turut mempengaruhi perlambatan aktivitas pasar tenaga kerja. Selain itu, konflik geopolitik di Timur Tengah juga mulai memberikan tekanan melalui kenaikan harga energi dan biaya logistik global.
Berdasarkan survei ekonom, jumlah nonfarm payrolls diperkirakan hanya bertambah sekitar 62 ribu pekerjaan pada April, lebih rendah dibanding kenaikan 178 ribu pekerjaan pada Maret. Meski angka ini terlihat melambat, banyak ekonom menilai pasar tenaga kerja masih cukup sehat karena pertumbuhan populasi usia kerja juga mengalami perlambatan.
Sektor kesehatan dan bantuan sosial diperkirakan masih menjadi pendorong utama pertumbuhan pekerjaan di AS, terutama karena kebutuhan layanan kesehatan yang terus meningkat akibat populasi yang semakin menua. Namun, sejumlah tantangan mulai muncul, seperti meningkatnya biaya visa tenaga kerja asing dan berkurangnya subsidi kesehatan di beberapa negara bagian. Kondisi ini disebut dapat memberikan tekanan tambahan bagi rumah sakit, khususnya di wilayah pedesaan.
Di sisi lain, sektor manufaktur diperkirakan mengalami peningkatan aktivitas karena perusahaan mulai mempercepat pemesanan barang untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga dan gangguan pasokan akibat konflik global.
Laporan tersebut juga diperkirakan menunjukkan kenaikan upah pekerja sebesar 0,3% secara bulanan setelah sebelumnya naik 0,2% pada Maret. Namun, kenaikan upah ini belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan inflasi yang masih tinggi, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar.
Sejumlah ekonom menilai stabilitas pasar tenaga kerja saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah disebut mulai mengurangi pengeluaran karena tekanan biaya hidup yang meningkat, sementara daya tahan ekonomi masih banyak ditopang oleh kelompok berpenghasilan tinggi yang mendapatkan keuntungan dari penguatan pasar saham.






