Pertanyaan “apakah Bitcoin akan naik lagi?” menjadi salah satu topik yang paling banyak dicari investor, terutama setelah harga Bitcoin mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai aset kripto terbesar di dunia, Bitcoin memang dikenal memiliki siklus kenaikan (bull market) dan penurunan (bear market) yang cukup tajam.
Namun, berbeda dengan beberapa tahun lalu, pergerakan harga Bitcoin kini tidak lagi hanya dipengaruhi oleh sentimen komunitas kripto. Kehadiran ETF Bitcoin spot, meningkatnya minat investor institusional, hingga kebijakan suku bunga bank sentral membuat analisis harga Bitcoin menjadi jauh lebih kompleks.
Lantas, apakah Bitcoin masih berpotensi naik? Berikut penjelasan berdasarkan pandangan para analis serta faktor-faktor fundamental yang memengaruhi harga Bitcoin.
Mengapa Banyak Analis Masih Optimistis terhadap Bitcoin?
Meski harga Bitcoin sering mengalami koreksi, banyak analis melihat prospek jangka panjangnya masih cukup positif. Ada beberapa alasan utama yang mendukung pandangan tersebut.
1. Pasokan Bitcoin Terbatas
Bitcoin memiliki jumlah maksimum sebanyak 21 juta BTC. Tidak seperti mata uang fiat yang dapat dicetak oleh bank sentral, pasokan Bitcoin bersifat tetap sehingga kelangkaannya meningkat seiring waktu.
Selain itu, setiap sekitar empat tahun sekali terjadi Bitcoin Halving, yaitu peristiwa yang mengurangi hadiah (block reward) bagi para penambang sebesar 50%. Akibatnya, jumlah Bitcoin baru yang masuk ke pasar menjadi semakin sedikit.
Secara historis, beberapa siklus kenaikan harga Bitcoin terjadi setelah peristiwa halving, meskipun pola tersebut tidak selalu menjamin hasil yang sama pada masa mendatang.
2. Investor Institusional Semakin Aktif
Dalam beberapa tahun terakhir, pasar Bitcoin mulai didominasi oleh investor institusional seperti manajer aset, perusahaan investasi, hingga perusahaan publik.
Kehadiran ETF Bitcoin spot membuat investor dapat memperoleh eksposur terhadap Bitcoin tanpa harus menyimpan aset kripto secara langsung. Arus dana dari institusi ini dinilai mampu meningkatkan likuiditas sekaligus memperkuat legitimasi Bitcoin sebagai aset investasi.
3. Bitcoin Mulai Dianggap sebagai Aset Alternatif
Sebagian investor mulai memandang Bitcoin sebagai aset alternatif yang dapat digunakan untuk diversifikasi portofolio.
Meskipun volatilitasnya masih tinggi, Bitcoin dinilai memiliki karakteristik berbeda dibandingkan saham maupun obligasi sehingga kerap dimasukkan sebagai bagian kecil dari strategi investasi jangka panjang.
Apa Kata Analis Global tentang Prospek Bitcoin?
Selain analis dari industri kripto, sejumlah lembaga keuangan internasional juga rutin menerbitkan riset mengenai prospek Bitcoin.
Standard Chartered: “Bitcoin Berpotensi Mencapai US$500.000 pada 2030”
Geoff Kendrick, Head of Digital Assets Research di Standard Chartered, menilai Bitcoin masih memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang meskipun pasar mengalami koreksi. Menurutnya, meningkatnya adopsi institusi, berkembangnya ETF Spot Bitcoin, serta infrastruktur pasar yang semakin matang dapat mendorong harga Bitcoin menuju US$500.000 pada 2030. Target tersebut merupakan revisi dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan level tersebut dapat tercapai lebih cepat.
Tom Lee (Fundstrat): “Bitcoin Masih Berpeluang ke US$200.000–250.000”
Tom Lee, Managing Partner sekaligus Head of Research di Fundstrat Global Advisors, masih termasuk analis yang paling optimistis terhadap Bitcoin. Ia menilai kombinasi adopsi institusional, ETF Spot Bitcoin, dan berkurangnya pasokan baru pasca-halving dapat mendorong harga Bitcoin kembali ke kisaran US$200.000 hingga US$250.000 ketika kondisi makro kembali mendukung.
Bernstein: “Permintaan Institusi Masih Menjadi Mesin Utama”
Analis dari Bernstein menilai siklus Bitcoin saat ini berbeda dibanding beberapa siklus sebelumnya karena semakin banyak perusahaan dan investor institusi yang mengalokasikan dana ke Bitcoin. Mereka memperkirakan permintaan dari ETF dan institusi masih menjadi katalis utama yang dapat mendorong harga Bitcoin dalam jangka panjang, meskipun target harga telah direvisi lebih konservatif menjadi sekitar US$150.000 pada akhir 2026.
Cathie Wood (ARK Invest): Skenario Bullish Masih di Atas US$1 Juta
Cathie Wood, CEO ARK Invest, tetap menjadi salah satu tokoh paling bullish terhadap Bitcoin. Dalam pembaruan proyeksinya, ARK Invest masih memperkirakan bahwa Bitcoin berpotensi melampaui US$1 juta sebelum 2030 dalam skenario paling optimistis, didorong oleh adopsi institusi, penggunaan sebagai aset lindung nilai, dan meningkatnya peran Bitcoin sebagai penyimpan nilai digital. Meski demikian, target tersebut merupakan skenario bullish, bukan kepastian harga di masa depan.
Dalam laporan Big Ideas, ARK memperkirakan bahwa pada 2030 Bitcoin berpotensi mencapai:
- Bear case: sekitar US$500.000
- Base case: sekitar US$1,2 juta
- Bull case: sekitar US$2,4 juta
JPMorgan: Tetap Waspadai Risiko Makroekonomi
Berbeda dengan dua lembaga sebelumnya, JPMorgan memiliki pendekatan yang lebih konservatif.
JPMorgan mengakui bahwa adopsi Bitcoin terus berkembang. Namun, bank investasi tersebut menilai arah harga Bitcoin masih sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi, seperti:
- Kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed)
- Tingkat inflasi
- Likuiditas global
- Arus dana masuk maupun keluar dari ETF Bitcoin
Artinya, meskipun prospek jangka panjang dinilai cukup baik, investor tetap perlu memperhatikan kondisi ekonomi global sebelum mengambil keputusan investasi.
Faktor yang Dapat Membuat Bitcoin Naik Lagi

Selain prediksi para analis, terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi harga Bitcoin.
1. Arus Dana ETF Bitcoin Spot
Semakin besar dana yang masuk ke ETF Bitcoin spot, semakin besar pula permintaan terhadap Bitcoin di pasar.
Sebaliknya, apabila terjadi arus keluar (outflow) dalam jumlah besar, harga Bitcoin juga berpotensi mengalami tekanan.
2. Penurunan Suku Bunga
Ketika bank sentral mulai menurunkan suku bunga, investor biasanya lebih tertarik pada aset berisiko seperti saham dan aset kripto.
Sebaliknya, suku bunga tinggi cenderung membuat investor memilih instrumen yang lebih aman.
3. Adopsi Institusional
Semakin banyak perusahaan, dana pensiun, maupun lembaga keuangan yang membeli Bitcoin, semakin besar pula potensi peningkatan permintaan.
Karena jumlah Bitcoin terbatas, peningkatan permintaan dapat memberikan tekanan kenaikan harga dalam jangka panjang.
4. Regulasi yang Lebih Jelas
Regulasi yang memberikan kepastian hukum dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset kripto.
Sebaliknya, kebijakan yang terlalu ketat dapat memengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek.
Baca juga: Rekor Harga Tertinggi Bitcoin (ATH) Sepanjang Sejarah dan Siklus Perjalanannya
Faktor yang Dapat Menekan Harga Bitcoin
Walaupun prospek jangka panjang dinilai positif oleh banyak analis, Bitcoin tetap memiliki berbagai risiko.
Regulasi
Perubahan kebijakan pemerintah mengenai perdagangan aset digital dapat memengaruhi sentimen pasar.
Profit Taking
Ketika harga Bitcoin mencapai level tinggi, sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan sehingga memicu koreksi harga.
Kondisi Ekonomi Global
Inflasi, resesi, konflik geopolitik, hingga perubahan kebijakan bank sentral dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko.
Rotasi Likuiditas
Michael Saylor pernah menyampaikan bahwa meningkatnya investasi pada sektor kecerdasan buatan (AI) berpotensi menyerap sebagian likuiditas yang sebelumnya mengalir ke aset lain, termasuk Bitcoin.
Namun, pandangan tersebut merupakan opini Saylor dan belum dapat disimpulkan sebagai penyebab utama pergerakan harga Bitcoin.
Risiko yang Tetap Perlu Diperhatikan
Walaupun banyak analis optimistis terhadap Bitcoin, bukan berarti kenaikan harga akan terjadi secara terus-menerus.
Beberapa risiko yang masih perlu diperhatikan antara lain:
- Volatilitas harga yang tinggi.
- Perubahan kebijakan moneter global.
- Regulasi pemerintah terhadap aset kripto.
- Ketidakpastian ekonomi global.
- Potensi aksi ambil untung (profit taking) setelah harga naik signifikan.
Investor sebaiknya memahami bahwa harga Bitcoin dapat bergerak naik maupun turun dalam waktu singkat.
Baca juga: Beli Bitcoin Dimana? Panduan Aplikasi Kripto Berizin di Indonesia
Jadi, Apakah Bitcoin Akan Naik Lagi?
Berdasarkan pandangan berbagai analis dan lembaga keuangan global, Bitcoin masih memiliki peluang untuk kembali mengalami kenaikan dalam jangka panjang. Standard Chartered dan Bernstein menilai meningkatnya adopsi institusional serta arus dana ke ETF Bitcoin spot menjadi katalis utama yang dapat mendorong harga Bitcoin.
Sementara itu, JPMorgan mengingatkan bahwa prospek tersebut tetap bergantung pada kondisi makroekonomi, termasuk kebijakan suku bunga, inflasi, dan likuiditas global.
Dengan kata lain, tidak ada yang dapat memastikan kapan Bitcoin akan kembali mencetak harga tertinggi baru. Namun, jika faktor-faktor fundamental seperti adopsi institusional, permintaan ETF, dan kondisi ekonomi mendukung, banyak analis meyakini bahwa Bitcoin masih memiliki potensi pertumbuhan dalam jangka panjang.
FAQ
Apakah Bitcoin masih bisa naik lagi?
Ya. Banyak analis menilai Bitcoin masih memiliki potensi kenaikan dalam jangka panjang. Namun, pergerakan harganya tetap dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, arus dana ETF Bitcoin spot, serta tingkat adopsi institusional.
Mengapa harga Bitcoin bisa naik?
Harga Bitcoin dipengaruhi oleh keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Faktor seperti Bitcoin Halving, meningkatnya pembelian oleh investor institusional, serta arus dana ke ETF Bitcoin spot dapat meningkatkan permintaan dan mendorong kenaikan harga.
Apakah Bitcoin pasti akan mencapai rekor harga baru?
Tidak ada jaminan. Prediksi harga Bitcoin bersifat spekulatif dan bergantung pada berbagai faktor, termasuk kondisi makroekonomi, regulasi, dan sentimen pasar.
Apakah sekarang waktu yang tepat membeli Bitcoin?
Keputusan membeli Bitcoin sebaiknya disesuaikan dengan tujuan investasi, profil risiko, dan kondisi keuangan masing-masing. Melakukan riset serta memahami risiko investasi tetap menjadi langkah yang penting sebelum berinvestasi.
Disclaimer: Seluruh target harga di atas merupakan proyeksi analis dan bukan jaminan bahwa Bitcoin akan mencapai level tersebut. Harga Bitcoin tetap dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi, kebijakan regulator, arus dana institusi, serta sentimen pasar sehingga dapat bergerak di atas maupun di bawah proyeksi tersebut.
Referensi +
- Standard Chartered Throws in the Towel on Bullish Bitcoin Forecast-Coindesk
- Bitcoin Price Predictions 2026: Analysts Forecast $38K to $250K-Coingecko
- Bitcoin Bulls Are Blinking. 2026 Forecasts Look Soft-Barrons
- Standard Chartered Shares 5-Year Bitcoin Forecast, Sees BTC-Bitcoin at $500K by 2028
- JPMorgan Ungkap Risiko Terbesar Bitcoin-Coinvestasi






