Harga minyak dunia cenderung stabil seiring munculnya sinyal bahwa Amerika Serikat dan Iran berpotensi memperpanjang gencatan senjata serta melanjutkan negosiasi guna mengakhiri konflik yang telah mengguncang pasar energi global. Minyak Brent bertahan di atas $95 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran $92, mencerminkan pasar yang mulai mencari keseimbangan di tengah ketidakpastian geopolitik.
Salah satu titik krusial dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Aktivitas di wilayah tersebut hampir lumpuh total memasuki minggu ketujuh konflik. Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap lalu lintas Iran, sementara Iran menutup akses bagi sebagian besar kapal lainnya. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi secara signifikan.
Pihak Iran memandang blokade yang berkepanjangan sebagai ancaman serius terhadap keberlanjutan gencatan senjata. Jika situasi tidak membaik, potensi penghentian aktivitas ekspor dan impor di kawasan strategis seperti Teluk Persia, Laut Oman, hingga Laut Merah dapat semakin memperburuk kondisi pasar minyak global.
Dampak konflik ini telah menciptakan guncangan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain mendorong tekanan inflasi, kondisi ini juga berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi global. Para pejabat keuangan dunia yang berkumpul di Washington mengungkapkan kekhawatiran atas ketidakjelasan arah situasi ke depan, dengan dampak yang dirasakan secara luas oleh berbagai negara.
Meski harga minyak saat ini masih sekitar sepertiga lebih tinggi dibanding sebelum konflik, level tersebut sudah jauh di bawah puncak yang terjadi di awal perang. Beberapa analis menilai bahwa pasar berjangka minyak belum sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan, karena mulai memasukkan ekspektasi de-eskalasi konflik ke dalam harga.
Namun demikian, risiko kenaikan harga masih terbuka lebar. Gencatan senjata yang rapuh serta perbedaan kepentingan antara AS dan Iran dapat memicu kembali ketegangan. Selain itu, blokade yang berlangsung juga berpotensi mengganggu distribusi jutaan barel minyak yang sebelumnya melewati Selat Hormuz setiap bulannya.
Dampak konflik ini terasa kuat di kawasan Asia-Pasifik yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Teluk Persia. Beberapa negara mulai mengamankan pasokan alternatif, termasuk minyak dan pupuk. Sementara itu, gangguan tambahan seperti kebakaran kilang di Australia dan potensi perlambatan ekonomi di India semakin menambah tekanan pada rantai pasokan global.
Secara keseluruhan, arah pasar minyak ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan negosiasi antara AS dan Iran, khususnya terkait keamanan jalur distribusi energi global.






