Saham Meta Platforms (META) melonjak hampir 9% pada perdagangan Rabu (1/7) setelah muncul laporan bahwa perusahaan tengah menyiapkan lini bisnis komputasi awan (cloud computing). Langkah ini dinilai dapat membuka sumber pendapatan baru sekaligus membantu memaksimalkan investasi besar Meta di bidang kecerdasan buatan (AI).
Selama beberapa tahun terakhir, Meta menggelontorkan dana dalam jumlah besar untuk membangun pusat data, membeli chip AI, dan memperkuat talenta melalui pembentukan Meta Superintelligence Labs. Kini, sebagian kapasitas komputasi tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk melayani pelanggan eksternal, mirip dengan model bisnis Amazon Web Services (AWS) maupun Microsoft Azure.
Meta Ingin Ubah Infrastruktur AI Menjadi Sumber Pendapatan
Berdasarkan laporan Bloomberg yang dikonfirmasi CNBC, Meta sedang membentuk unit bisnis baru yang akan menjual kelebihan kapasitas komputasi AI kepada perusahaan lain. Opsi yang sedang dipertimbangkan mencakup penyediaan akses ke model AI yang dihosting di pusat data Meta maupun penyewaan daya komputasi mentah seperti yang dilakukan penyedia neocloud, CoreWeave.
Gagasan tersebut sebenarnya sudah sempat diisyaratkan CEO Mark Zuckerberg dalam rapat pemegang saham beberapa waktu lalu. Menurutnya, Meta kerap menerima permintaan dari berbagai perusahaan yang ingin membeli kapasitas komputasi AI milik Meta. Selama ini perusahaan memilih menggunakannya untuk kebutuhan internal, tetapi jika kapasitas tersebut berlebih, menjualnya menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan.
Jika terealisasi, bisnis cloud ini dapat membantu Meta mendiversifikasi pendapatan yang selama ini masih sangat bergantung pada iklan digital. Selain itu, kapasitas pusat data yang sebelumnya hanya menjadi beban belanja modal berpotensi menghasilkan arus kas tambahan.
Investor Sambut Positif, Kompetitor Infrastruktur AI Tertekan
Kabar tersebut langsung mendapat respons positif dari pasar. Saham Meta ditutup naik hampir 9%, mencerminkan optimisme investor bahwa investasi AI perusahaan mulai memiliki jalur monetisasi yang lebih jelas.
Di sisi lain, saham sejumlah perusahaan penyedia infrastruktur AI justru terkoreksi. CoreWeave dan Nebius masing-masing turun sekitar 10% hingga 12%, sementara beberapa saham chip dan jaringan AI seperti NVIDIA (NVDA), AMD (AMD), Broadcom (AVGO), Super Micro Computer (SMCI), hingga ASML (ASML) juga ikut melemah. Pasar menilai langkah Meta dapat menambah pasokan kapasitas komputasi AI di industri, sehingga mengurangi tekanan kekurangan pasokan yang selama ini menjadi pendorong pertumbuhan sektor tersebut.
Meski demikian, Meta juga akan memasuki pasar yang sangat kompetitif, yang saat ini masih didominasi oleh Amazon AWS, Microsoft Azure, dan Google Cloud.
Langkah Baru untuk Menopang Ambisi AI Meta
Ekspansi ke bisnis cloud menjadi bagian dari strategi Meta untuk memperkuat posisinya dalam persaingan AI global. Perusahaan terus meningkatkan belanja modal hingga sekitar US$145 miliar tahun ini guna memperluas pusat data dan memperkuat infrastruktur AI.
Upaya tersebut juga dibarengi dengan restrukturisasi divisi AI, termasuk perekrutan Alexandr Wang sebagai pemimpin Meta Superintelligence Labs. Setelah peluncuran model AI sebelumnya mendapat respons yang kurang memuaskan, Meta kini berupaya mempercepat inovasi sekaligus menunjukkan kepada investor bahwa investasi AI yang besar dapat menghasilkan peluang bisnis baru.
Apabila strategi cloud ini berhasil dijalankan, Meta tidak hanya menjadi pengguna infrastruktur AI berskala besar, tetapi juga penyedia layanan komputasi yang mampu bersaing di pasar cloud global.
Baca berita lainnya terkait META di halaman ini.
Pantau perkembangan saham Meta dan emiten teknologi global lainnya, mulai investasi saham AS di Nanovest, serta dapatkan insight pasar terbaru melalui News dan Artikel Tips Nanovest agar tidak ketinggalan peluang investasi.






