Pertumbuhan ekonomi China menunjukkan pemulihan yang lebih kuat dari perkiraan pada kuartal pertama, meskipun konsumsi domestik masih belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Kondisi ini mencerminkan ketahanan sektor industri di tengah tekanan global, termasuk konflik geopolitik yang masih berlangsung.
Produk domestik bruto (PDB) China tercatat tumbuh sebesar 5% secara tahunan, menjadi laju tercepat dalam tiga kuartal terakhir. Secara kuartalan, ekonomi juga mencatat ekspansi sebesar 1,3%, menandakan momentum pertumbuhan yang cukup solid di awal tahun. Peningkatan ini sebagian besar didorong oleh kuatnya kinerja sektor manufaktur dan ekspor.
Produksi industri pada bulan Maret tumbuh 5,7% dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui ekspektasi pasar. Namun, di sisi lain, penjualan ritel hanya meningkat 1,7%, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan sektor produksi dan lemahnya permintaan domestik.
Sektor teknologi menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan, dengan output industri berteknologi tinggi meningkat signifikan. Produksi robot industri dan sirkuit terpadu masing-masing melonjak tajam, mencerminkan transformasi ekonomi menuju sektor bernilai tambah tinggi. Secara keseluruhan, sektor manufaktur berkontribusi hampir sepertiga dari total pertumbuhan ekonomi pada kuartal ini.
Di tengah konflik yang memasuki minggu ketujuh, dampaknya terhadap ekonomi China sejauh ini masih relatif terbatas. Hal ini didukung oleh upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, tekanan deflasi yang telah berlangsung lama juga membantu meredam dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi domestik.
Meski demikian, tantangan tetap terlihat pada sisi konsumsi dan investasi. Investasi aset tetap hanya tumbuh 1,7%, sementara investasi properti mengalami kontraksi signifikan. Bahkan, investasi sektor swasta mencatat penurunan, mencerminkan lemahnya kepercayaan pelaku usaha. Tingkat pengangguran di wilayah perkotaan juga meningkat menjadi 5,4%, tertinggi dalam setahun terakhir.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam memberikan stimulus besar. Fokus kebijakan kemungkinan akan diarahkan pada dukungan yang lebih terarah, termasuk insentif fiskal dan penguatan proyek strategis untuk menjaga stabilitas pertumbuhan.
Secara keseluruhan, meskipun data ekonomi menunjukkan awal tahun yang positif, fondasi pertumbuhan masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi permintaan domestik yang belum pulih sepenuhnya.






