Pasar stablecoin kembali memasuki babak baru setelah lebih dari 140 perusahaan besar bergabung dalam proyek Open USD (OUSD), stablecoin baru yang dipatok ke dolar AS. Proyek ini didukung oleh nama-nama besar dari sektor pembayaran, teknologi, perbankan, hingga kripto, termasuk Visa, Mastercard, Stripe, Coinbase, BlackRock, Google, Ripple, OKX, Bybit, hingga Standard Chartered.
OUSD akan diterbitkan oleh entitas independen bernama Open Standard dan dirancang sebagai stablecoin yang dapat dicetak maupun ditebus oleh bisnis tanpa biaya dan tanpa batasan volume buatan. Rencananya, stablecoin ini akan diluncurkan pada akhir 2026.
Model OUSD Berbeda dari USDC dan USDT
Hal yang membuat OUSD menarik perhatian adalah model ekonominya. Stablecoin besar seperti USDT dan USDC umumnya memperoleh pendapatan dari aset cadangan, seperti obligasi pemerintah AS jangka pendek dan instrumen pasar uang, lalu mencatat bunga tersebut sebagai pendapatan penerbit.
OUSD mengambil pendekatan berbeda. Sebagian besar pendapatan dari aset cadangan akan dikembalikan kepada mitra yang membantu mendistribusikan dan menggunakan stablecoin tersebut. Dengan kata lain, perusahaan yang mengintegrasikan OUSD ke dalam ekosistemnya berpotensi ikut menikmati pendapatan dari cadangan stablecoin.
Model ini menjadi tantangan langsung bagi Circle, penerbit USDC, karena sebagian besar pendapatan Circle selama ini bergantung pada bunga dari cadangan USDC. Tidak heran, saham Circle sempat turun tajam setelah pengumuman OUSD, karena investor menilai model baru ini dapat mengubah struktur persaingan di pasar stablecoin.
Dukungan Perusahaan Besar Jadi Modal Penting
Dukungan dari perusahaan besar membuat OUSD bukan sekadar proyek stablecoin baru biasa. Stripe disebut akan menjadikan OUSD sebagai stablecoin default untuk bisnis yang bertransaksi melalui platformnya, sementara Coinbase berencana membawa OUSD ke Base dan jaringan blockchain lainnya.
Open USD juga akan hadir secara native di beberapa jaringan blockchain, termasuk Solana (SOL), Stellar (XLM), Base, dan Polygon. Kehadiran multi-chain ini dapat memperluas penggunaan OUSD untuk pembayaran, treasury perusahaan, transaksi lintas negara, hingga aktivitas keuangan on-chain.
Namun, tantangannya tetap besar. OUSD harus membuktikan bahwa dukungan institusional di atas kertas dapat benar-benar berubah menjadi adopsi pengguna dan volume transaksi nyata. Sebelumnya, beberapa stablecoin dengan model pembagian pendapatan juga sudah hadir, tetapi belum mampu menggoyang dominasi USDT dan USDC secara signifikan.
Regulasi Masih Jadi Faktor Penentu
Peluncuran OUSD hadir di tengah semakin jelasnya arah regulasi stablecoin di Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump menandatangani GENIUS Act. Regulasi ini memberi kerangka hukum bagi stablecoin pembayaran, tetapi juga membawa pertanyaan penting terkait model pembagian yield atau imbal hasil.
Salah satu isu yang masih perlu diperhatikan adalah apakah pembagian pendapatan cadangan OUSD kepada mitra akan dianggap sebagai pembagian keuntungan yang diperbolehkan, atau masuk dalam kategori yield yang dibatasi oleh regulator. Kejelasan aturan implementasi akan menjadi faktor penting sebelum OUSD benar-benar bersaing di pasar.
Bagi investor, perkembangan ini menunjukkan bahwa stablecoin semakin menjadi infrastruktur penting dalam sistem keuangan digital. Persaingan tidak lagi hanya soal siapa yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar, tetapi juga siapa yang mampu membangun ekosistem distribusi, regulasi, dan insentif paling kuat.
Ikuti terus perkembangan pasar kripto dan aset global melalui News & Artikel Tips Nanovest, serta mulai investasi aset digital dengan mudah langsung di aplikasi Nanovest.
Referensi +
- CoinTelegraph: Financial companies join forces for US dollar stablecoin, keeping reserve earnings
- Tech Times: Open USD Stablecoin Targets Circle’s Reserve Yield With 140-Partner Coalition
- Yahoo Finance: Dozens of Major Companies Become Open USD Launch Partners






