Bitcoin (BTC) saat ini masih diperdagangkan sekitar 40% di bawah rekor tertingginya pada Oktober 2025 yang sempat mendekati level $126.000, meskipun dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Di tengah kondisi ini, sejumlah tokoh besar di industri kripto seperti Tim Draper dan Tom Lee tetap mempertahankan proyeksi optimistis bahwa harga Bitcoin berpotensi mencapai $250.000 pada akhir tahun. Namun, target tersebut membutuhkan kenaikan lebih dari tiga kali lipat dari level saat ini, sehingga memunculkan pertanyaan besar: apakah skenario tersebut realistis, atau justru pasar telah melewati puncak siklusnya?
Beberapa analis teknikal melihat adanya sinyal yang kurang mendukung untuk kenaikan signifikan dalam jangka pendek. Trader berpengalaman Peter Brandt, misalnya, mengidentifikasi pola channel pada grafik harian Bitcoin yang cenderung menunjukkan potensi kelanjutan tren turun. Setelah sempat menguji area resistensi di sekitar $79.500, BTC terlihat mengalami pelemahan dan berisiko turun kembali menuju kisaran $69.000 apabila tekanan jual berlanjut. Dalam perspektif yang lebih luas, pola ini bahkan menyerupai bear flag, yang jika terkonfirmasi dapat membuka peluang penurunan lebih dalam, bahkan hingga di bawah $50.000.
Selain analisis teknikal, pola historis juga menjadi perhatian. Pergerakan harga Bitcoin selama ini cenderung mengikuti siklus yang berkaitan erat dengan peristiwa halving yang terjadi setiap empat tahun. Secara historis, puncak harga biasanya terjadi dalam rentang 12 hingga 18 bulan setelah halving. Halving terakhir pada April 2024 diikuti dengan pencapaian harga tertinggi pada Oktober 2025, sekitar 17–18 bulan setelahnya, yang sejalan dengan pola sebelumnya. Kini, memasuki lebih dari dua tahun pasca-halving, harga Bitcoin justru mengalami koreksi signifikan, yang mengindikasikan kemungkinan bahwa puncak siklus sudah terjadi.
Di sisi lain, faktor makro juga turut memengaruhi sentimen pasar. Dalam tahun-tahun pemilu paruh waktu di Amerika Serikat, Bitcoin historisnya menunjukkan kecenderungan melemah mulai bulan Mei. Pola “Sell in May” ini tercermin pada penurunan besar di tahun 2014, 2018, dan 2022. Jika pola serupa kembali terulang di 2026, Bitcoin berpotensi mengalami penurunan tajam hingga lebih dari 60%, dengan proyeksi harga mendekati $30.000.
Meski demikian, tidak semua pandangan bersifat pesimistis. Beberapa analis masih melihat peluang pemulihan moderat, dengan target harga di kisaran $100.000 hingga $150.000. Bagi investor, memahami kombinasi antara analisis teknikal, siklus historis, dan faktor makro menjadi kunci dalam mengambil keputusan. Melalui platform seperti Nanovest, pengguna dapat memantau pergerakan pasar dan berinvestasi pada aset kripto dengan lebih mudah dan terinformasi.






