Harga emas terus melanjutkan tren kenaikan dan diperdagangkan mendekati rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$4.630 per ons, seiring data ekonomi terbaru menunjukkan tekanan inflasi dari sisi produsen masih meningkat. Data Departemen Tenaga Kerja AS mencatat Indeks Harga Produsen (PPI) utama naik 0,2% pada November dan 0,1% pada Oktober, setelah melonjak 0,6% pada September, dengan inflasi produsen tahunan mencapai 3,0%, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 2,7%. Meski inflasi masih relatif tinggi, para ekonom menilai kondisi ini belum cukup mengancam ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve hingga 2026. Data PPI Oktober dan November dirilis bersamaan akibat keterlambatan laporan selama penutupan pemerintahan AS selama 43 hari. Sementara itu, inflasi inti (core PPI) yang mengecualikan harga pangan dan energi juga menunjukkan kenaikan, masing-masing 0,7% pada Oktober dan 0,1% pada November, dengan inflasi inti tahunan mencapai 3,5%, tertinggi sejak Maret. Meskipun kenaikan harga produsen berpotensi menimbulkan ketidakpastian terhadap laju pemangkasan suku bunga The Fed, hal tersebut sejauh ini tidak menghambat minat investor terhadap emas, yang tetap menunjukkan momentum bullish kuat dengan harga spot terakhir naik 1% ke kisaran US$4.632 per ons.
Key Takeaway
Kondisi harga saat ini mendukung bias bullish pada emas sebagai aset lindung nilai inflasi dan ketidakpastian suku bunga, meski volatilitas dapat meningkat jika ekspektasi pemangkasan suku bunga berubah. Bagi investor jangka menengah hingga panjang, emas tetap menarik sebagai diversifikasi portofolio dan pelindung nilai, terutama di tengah inflasi yang mulai tertanam dan kebijakan moneter yang berpotensi lebih akomodatif.






