Euforia pasar global yang sempat muncul usai pengumuman gencatan senjata AS-Iran mulai mereda. Dalam waktu kurang dari 24 jam, sentimen berubah setelah Iran mengklaim adanya pelanggaran kesepakatan – membuat pasar kembali bergerak hati-hati.
Kontrak berjangka saham AS pada Rabu (8/4) malam tercatat melemah tipis. S&P 500 dan Dow Jones masing-masing turun sekitar 0,1%, sementara Nasdaq 100 terkoreksi sekitar 0,2%. Pergerakan ini menghentikan reli kuat yang sebelumnya mendorong indeks utama Wall Street naik tajam.
Perubahan arah ini menegaskan satu hal: pasar belum sepenuhnya yakin bahwa ketegangan geopolitik benar-benar mereda.
Dari Reli Tajam ke Sikap “Wait and See”
Sehari sebelumnya, pasar saham mencatat penguatan signifikan.
S&P 500 melonjak sekitar 2,5%, Nasdaq naik 2,8%, dan Dow Jones bahkan melesat lebih dari 1.300 poin. Ini adalah kenaikan harian terbesar sejak April 2025.
Lonjakan ini didorong oleh optimisme bahwa konflik AS-Iran akan memasuki fase deeskalasi. Pengumuman gencatan senjata dua minggu dianggap sebagai sinyal awal menuju stabilitas, terutama jika Selat Hormuz kembali dibuka.
Namun, optimisme tersebut ternyata rapuh.
Ketika muncul klaim bahwa gencatan dilanggar, pasar langsung mengoreksi ekspektasinya. Alih-alih melanjutkan reli, investor mulai menahan posisi dan menunggu kejelasan lebih lanjut.
Selat Hormuz Kembali Jadi Penentu
Fokus utama pasar kini kembali ke satu titik krusial: Selat Hormuz.
Kesepakatan gencatan senjata sejak awal memang bergantung pada pembukaan jalur ini. Selat Hormuz bukan hanya jalur strategis, tetapi juga dilewati sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Namun perkembangan terbaru menunjukkan situasi belum stabil.
Ketua parlemen Iran mengklaim bahwa Israel telah melanggar gencatan senjata melalui serangan ke Lebanon. Dampaknya, jalur pelayaran tersebut dilaporkan masih terganggu, bahkan sempat dihentikan untuk sementara.
Di sisi lain, pejabat AS menyebut ada tanda-tanda bahwa jalur mulai dibuka kembali. Perbedaan narasi ini membuat pasar berada dalam kondisi penuh ketidakpastian.
Harga Minyak Berbalik Naik
Ketidakjelasan ini langsung tercermin di pasar energi.
Setelah sebelumnya anjlok lebih dari 13% dan turun di bawah US$100 per barel, harga minyak kembali naik:
- Brent naik sekitar 2,5%
- WTI naik sekitar 2,8%
Kenaikan ini menunjukkan bahwa pasar mulai memasukkan kembali risiko gangguan pasokan ke dalam harga.
Dengan kata lain, premi risiko yang sempat “hilang” karena euforia gencatan senjata, kini perlahan kembali.
Pasar Menunggu Kejelasan, Volatilitas Masih Tinggi
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa gencatan senjata yang diumumkan belum memberikan kepastian penuh.
Analis melihat kondisi ini sebagai fase transisi di mana pasar sempat bereaksi berlebihan ke arah positif, kemudian kembali menyesuaikan ekspektasi.
Dalam jangka pendek, arah pasar akan sangat ditentukan oleh dua hal: perkembangan geopolitik dan data ekonomi AS.
Dari sisi geopolitik, pertanyaan utamanya sederhana – apakah gencatan senjata ini benar-benar bertahan, atau hanya jeda sementara sebelum ketegangan kembali meningkat?
Selama ketidakpastian ini belum benar-benar reda, volatilitas kemungkinan akan tetap tinggi – baik di pasar saham maupun komoditas seperti minyak.
Pasar bisa berubah cepat, tapi keputusan investasi tetap ada di tangan kamu.
Kalau kamu ingin mulai atau mengatur strategi investasi, kamu bisa akses saham AS, kripto, dan emas digital dengan mudah lewat Nanovest.
Temukan juga berbagai update pasar dan panduan investasi lainnya di halaman News dan Artikel Tips Nanovest.






