Harga emas kembali berada di bawah tekanan meski ketegangan geopolitik global terus meningkat. Logam mulia tersebut turun menembus US$4.000 per ons pada perdagangan Kamis (16/7), memperpanjang koreksi dari rekor tertinggi sekitar US$5.598 yang tercapai pada Januari.
Dengan penurunan sekitar 28% dari puncaknya, emas kini telah melewati ambang koreksi 20% yang umum digunakan untuk menandai kondisi bear market. Tekanan serupa juga terjadi pada perak yang turun ke level terendah dalam sekitar tujuh bulan.
Situasi ini menjadi tidak biasa karena konflik geopolitik dan gangguan jalur perdagangan global biasanya mendorong investor mencari perlindungan pada emas. Namun, kali ini pasar justru beralih ke dolar AS dan obligasi pemerintah jangka pendek yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Risiko Perang Justru Menekan Harga Emas
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran berlanjut, sementara gangguan di Selat Hormuz masih menekan lalu lintas kapal niaga.
Iran juga mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran penting dunia. Kondisi seperti ini biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena meningkatnya permintaan terhadap aset aman.
Namun, dampaknya kali ini bergerak ke arah sebaliknya. Gangguan pasokan energi mendorong harga minyak naik lebih dari 9% dalam lima hari, sehingga memperbesar kekhawatiran bahwa inflasi akan kembali meningkat.
Ekspektasi inflasi yang lebih tinggi kemudian memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga. Berdasarkan data pasar, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September sempat meningkat menjadi sekitar 76%, dari 57% sepekan sebelumnya.
Suku bunga dan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan bunga atau dividen. Ketika investor dapat memperoleh imbal hasil dari dolar dan surat utang pemerintah AS, daya tarik emas sebagai penyimpan nilai menjadi berkurang.
Sinyal Teknikal Emas Masuki Fase Bearish
Tekanan terhadap emas juga semakin terlihat dari sisi teknikal. Grafik mingguan menunjukkan indikator Gaussian Channel berubah menjadi merah untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023, mengakhiri tren naik yang sebelumnya membawa harga emas dari bawah US$2.000 menuju rekor tertinggi.
Harga emas juga telah jatuh di bawah area support jangka panjang US$4.300-US$4.400. Zona tersebut kini berpotensi berubah menjadi resistance yang perlu direbut kembali agar struktur bullish dapat pulih.
Saat ini, emas sedang menguji support di sekitar US$3.943. Apabila level tersebut gagal bertahan, area US$3.550 menjadi target support penting berikutnya.
Meski demikian, tekanan bearish belum sepenuhnya menutup peluang rebound. Indikator RSI harian menunjukkan divergensi bullish, yakni ketika harga mencetak titik terendah baru, tetapi momentum penurunan mulai melemah.
Kondisi tersebut dapat membuka peluang reli pemulihan menuju US$4.300–US$4.400. Namun, kegagalan menembus area tersebut berpotensi kembali membawa emas menuju kisaran US$3.550.
Emas dan Perak Kehilangan Hampir US$700 Miliar
Penurunan harga pada Kamis turut menghapus nilai pasar logam mulia dalam jumlah besar. Emas turun sekitar 1,7% dan kehilangan estimasi nilai pasar sekitar US$485 miliar, sementara perak melemah 3% dan menghapus sekitar US$100 miliar.
Secara keseluruhan, nilai pasar emas dan perak diperkirakan menyusut hampir US$700 miliar hanya dalam satu hari.
Arus dana dari produk investasi emas juga menunjukkan tekanan serupa. SPDR Gold Shares dilaporkan mencatat arus keluar sekitar US$14,4 miliar sejak awal Maret, menunjukkan bahwa investor institusi mulai mengurangi eksposur terhadap logam mulia.
Sebagian dana diperkirakan berpindah ke dolar AS dan obligasi pemerintah berjangka pendek. Keduanya menawarkan perlindungan terhadap ketidakpastian sekaligus memberikan imbal hasil yang tidak dimiliki emas.
Namun, arus keluar ETF emas mulai melambat pada Juli. Kondisi ini dapat menjadi sinyal bahwa tekanan jual mulai berkurang, meski belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren.
Bitcoin Lebih Tahan, Tapi Belum Sepenuhnya Jadi Safe Haven
Di tengah pelemahan emas dan perak, Bitcoin (BTC) justru relatif bertahan di kisaran US$64.000-US$65.000. BTC bahkan mencatat kenaikan sekitar 4% dalam sepekan, meski tetap bergerak terbatas.
Performa tersebut membuat Bitcoin untuk sementara terlihat lebih tangguh dibandingkan emas. Namun, hal ini belum cukup untuk membuktikan bahwa Bitcoin telah sepenuhnya mengambil alih fungsi logam mulia sebagai aset aman.
Bitcoin masih sangat dipengaruhi oleh suku bunga, arus dana ETF, dan sentimen aset berisiko. Pada fase awal konflik AS-Iran, BTC juga sempat turun bersama emas dan perak.
Dalam jangka pendek, area US$63.000-US$64.000 menjadi support penting Bitcoin, sedangkan kisaran US$65.500-US$66.000 menjadi resistance terdekat. Kemampuan BTC mempertahankan support ketika emas masih mencari titik terendah akan menjadi ujian penting bagi narasi Bitcoin sebagai penyimpan nilai.
Bagi investor, pelemahan emas menunjukkan bahwa label safe haven tidak berarti suatu aset selalu naik saat ketidakpastian meningkat. Arah suku bunga, inflasi, nilai dolar, dan aliran likuiditas tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan.
Baca berita lainnya terkait aset emas di halaman ini.
Ingin memantau peluang investasi di emas digital, Bitcoin, kripto, dan saham Amerika dalam satu aplikasi? Temukan beragam pilihan aset di aplikasi investasi Nanovest, serta ikuti perkembangan pasar terbaru melalui News dan Artikel Tips Nanovest agar keputusan investasi tetap relevan di tengah kondisi pasar yang cepat berubah.
Cek juga harga emas terkini di halaman Nanovest Gold.
Cek Harga Emas di Nanovest Gold →
Referensi +
- BeInCrypto: Gold and Silver Lost $700B as Iran Threatens Bab el-Mandeb. Will Bitcoin Follow?






