Goldman Sachs memberi sinyal penting bagi industri reksa dana aktif di Amerika Serikat: mengalahkan pasar semakin sulit ketika kinerja indeks masih sangat bergantung pada segelintir saham raksasa teknologi.
Dalam riset terbarunya, Goldman menganalisis 509 reksa dana aktif berkapitalisasi besar dengan total aset ekuitas sekitar US$3,9 triliun. Hasilnya cukup jelas. Hanya 29% reksa dana saham large-cap yang berhasil mengungguli tolok ukurnya sepanjang tahun ini, lebih rendah dari rata-rata historis sekitar 37%.
Masalah utamanya bukan semata-mata karena manajer investasi salah memilih saham. Goldman menilai tantangan terbesar datang dari rendahnya eksposur reksa dana aktif terhadap kelompok Magnificent 7, yaitu Apple (AAPL), Nvidia (NVDA), Alphabet (GOOG), Amazon (AMZN), Microsoft (MSFT), Tesla (TSLA), dan Meta (META).
Di saat kelompok saham tersebut masih menjadi penggerak utama indeks S&P 500, banyak reksa dana aktif justru memiliki bobot yang lebih rendah dibanding indeks.
Mag 7 Masih Jadi Penggerak Utama Pasar
Menurut Goldman, reksa dana large-cap memiliki kekurangan bobot sekitar 723 basis poin terhadap Magnificent 7 pada kuartal pertama 2026. Angka ini melebar dari 710 basis poin pada kuartal sebelumnya.
Dengan skala aset yang mencapai hampir US$4 triliun, posisi underweight terhadap kelompok saham paling dominan di pasar menjadi hambatan besar bagi kinerja relatif reksa dana aktif.
S&P 500 sendiri telah naik sekitar 9% sepanjang tahun ini. Namun, sebagian besar kenaikan tersebut masih terkonsentrasi pada saham-saham teknologi besar dan saham yang terkait dengan AI.
Menariknya, Goldman juga mencatat bahwa reksa dana aktif mengurangi kepemilikan bersih pada seluruh saham Mag 7 selama kuartal pertama. Pengurangan terbesar terjadi pada Alphabet (GOOG), meskipun saham tersebut masih mencatat kinerja yang cukup kuat sepanjang tahun berjalan.
Situasi ini memperlihatkan dilema klasik manajer investasi aktif. Di satu sisi, valuasi Mag 7 sudah tinggi dan risiko konsentrasi indeks semakin besar. Di sisi lain, tidak memiliki cukup eksposur pada saham-saham tersebut berarti semakin sulit mengimbangi kinerja pasar.
Reksa Dana Saham Value Jadi yang Paling Tertinggal
Kinerja reksa dana aktif juga berbeda tajam berdasarkan gaya investasinya.
Goldman mencatat sekitar 50% reksa dana growth berhasil mengungguli tolok ukurnya sepanjang tahun ini. Namun, hanya 25% reksa dana core dan 13% reksa dana value yang mampu melakukan hal yang sama.
Hal ini cukup masuk akal karena reksa dana value secara alami cenderung menghindari saham-saham dengan valuasi mahal, termasuk banyak saham Mag 7.
Masalahnya, ketika saham-saham mahal itulah yang justru menjadi motor utama pasar, strategi value akan lebih sulit bersaing dalam jangka pendek.
Dengan kata lain, kinerja pasar saat ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memilih saham yang bagus, tetapi juga oleh seberapa besar eksposur terhadap saham-saham mega-cap yang mendominasi indeks.
Goldman juga mencatat bahwa kendala diversifikasi membuat banyak reksa dana tidak bisa begitu saja menyamai bobot indeks pada saham-saham Mag 7. Sebab, bobot kelompok tersebut sudah sangat besar dalam S&P 500.
Manajer Investasi Beralih ke Semikonduktor
Di luar Mag 7, Goldman juga menemukan rotasi besar dalam portofolio reksa dana aktif.
Manajer investasi mulai meningkatkan eksposur ke sektor semikonduktor, sementara mengurangi eksposur ke sektor software. Menurut Goldman, preferensi terhadap semikonduktor dibanding software kini berada di level terlebar sejak setidaknya 2012.
Perubahan ini mencerminkan narasi besar pasar saat ini: AI masih menjadi tema dominan, tetapi investor lebih memilih perusahaan yang berada di sisi infrastruktur seperti chip, data center, jaringan, dan perangkat keras.
Beberapa saham yang semakin banyak masuk portofolio reksa dana berkaitan dengan tema AI data center, termasuk Arista Networks (ANET), Corning (GLW), SanDisk (SNDK), dan Coherent.
Di sisi lain, software mulai mendapat tekanan karena investor khawatir AI dapat mengganggu model bisnis perusahaan perangkat lunak tradisional.
Namun rotasi ini juga memiliki ironi tersendiri. Meski manajer aktif mulai masuk lebih agresif ke tema infrastruktur AI, performa benchmark tetap sulit dikejar karena indeks sudah lebih dulu didorong oleh saham-saham raksasa yang bobotnya terus membesar.
Pasar Masih Kuat Tapi Risiko Konsentrasi Meningkat
Goldman juga menyoroti bahwa Wall Street kemungkinan akan menghadapi pasokan saham baru yang lebih besar pada 2026, terutama dari IPO dan penerbitan saham perusahaan.
Goldman memperkirakan total pasokan ekuitas AS bisa mencapai sekitar US$600 miliar tahun ini, termasuk sekitar US$160 miliar dari IPO. Meski terlihat besar, Goldman menilai pasar masih mampu menyerap aset berkualitas tinggi selama permintaan investor tetap kuat.
Namun ada dua risiko yang tetap perlu diperhatikan: konsentrasi pasar pada saham AI dan kenaikan imbal hasil obligasi.
Jika yield Treasury naik terlalu cepat, saham teknologi berisiko kembali tertekan karena valuasinya sangat sensitif terhadap biaya modal. Selain itu, posisi investor yang terlalu ramai di sektor semikonduktor juga dapat memicu koreksi tajam jika ekspektasi pertumbuhan AI mulai mendingin.
Untuk saat ini, data Goldman menunjukkan bahwa pasar AS masih digerakkan oleh tema yang sangat sempit: Mag 7, semikonduktor, dan infrastruktur AI.
Bagi investor, kondisi ini menjadi pengingat bahwa mengikuti indeks dan memilih reksa dana aktif bisa menghasilkan performa yang sangat berbeda ketika pasar terlalu terkonsentrasi pada sedikit saham besar.
Buat kamu yang ingin mengikuti perkembangan saham teknologi AS, Magnificent 7, hingga tren AI global, kamu bisa mulai investasi saham Amerika langsung di Nanovest. Pantau juga update terbaru melalui News & Artikel Tips Nanovest untuk mengikuti dinamika pasar setiap harinya.






