Pasar stablecoin kembali menunjukkan perubahan besar dalam arus modal. Dalam satu bulan terakhir, USDT milik Tether mencatat kenaikan pasokan lebih dari US$5 miliar, sementara sejumlah stablecoin pesaing seperti USDC, USDe, dan PYUSD justru mengalami penurunan gabungan sekitar US$4,2 miliar.
Pergerakan ini memperkuat posisi Tether sebagai pemain terbesar di industri stablecoin, sekaligus menunjukkan bahwa investor mulai kembali memilih aset yang dianggap paling likuid dan paling aman di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar kripto.
Data terbaru menunjukkan total pasokan USDT kini mencapai sekitar US$189,7 miliar atau hampir 60% dari seluruh pasar stablecoin global. Jika digabungkan dengan USDC milik Circle, dua stablecoin terbesar tersebut kini menguasai sekitar 93% total pasar.
Arus Dana Tidak Bertambah, Tapi Berpindah ke Tether
Menariknya, kenaikan besar USDT kali ini bukan sepenuhnya berasal dari masuknya uang baru ke pasar kripto.
Pertumbuhan bersih pasar stablecoin selama sebulan terakhir hanya sekitar 0,3%, menunjukkan bahwa sebagian besar dana sebenarnya hanya berpindah dari stablecoin lain menuju USDT.
Dengan kata lain, investor tampaknya sedang melakukan rotasi aset dan memilih kembali parkir di Tether dibanding produk stablecoin alternatif.
Fenomena ini terlihat jelas dari penurunan beberapa stablecoin besar lainnya. USDC milik Circle mengalami arus keluar, begitu juga PYUSD milik PayPal. Namun tekanan terbesar terjadi pada USDe, stablecoin sintetis berbasis Ethereum, yang tercatat turun sekitar 28% hanya dalam satu bulan terakhir dan melemah lebih dari 34% sejak awal tahun.
Kondisi tersebut mulai memunculkan pertanyaan di pasar mengenai keberlanjutan model stablecoin sintetis, terutama di tengah meningkatnya perhatian regulator AS terhadap sektor aset digital.
Regulasi dan Sentimen Risiko Jadi Faktor Utama
Analis melihat ada dua faktor besar yang mendorong investor kembali ke USDT.
Pertama adalah meningkatnya ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat. Pembahasan regulasi stablecoin seperti GENIUS Act mulai mengarah pada standar kepatuhan yang lebih ketat, terutama untuk stablecoin algoritmik dan sintetis.
Hal ini membuat sebagian investor institusional memilih kembali ke penerbit stablecoin yang dianggap lebih mapan dan memiliki likuiditas besar seperti Tether.
Faktor kedua adalah sentimen penghindaran risiko yang kembali meningkat di pasar global. Dalam kondisi pasar yang lebih defensif, investor biasanya cenderung memilih aset dengan likuiditas paling tinggi dan akses perdagangan paling luas.
Dalam konteks stablecoin, USDT masih menjadi pilihan utama karena dominasi volumenya di hampir seluruh bursa kripto global.
Dampaknya Mulai Terasa ke Pasar DeFi
Perubahan arus dana ini juga mulai berdampak pada ekosistem decentralized finance (DeFi).
Sejumlah protokol DeFi sebelumnya cukup bergantung pada stablecoin seperti USDe dan PYUSD sebagai sumber likuiditas maupun aset jaminan. Ketika pasokan stablecoin tersebut menyusut, pasar mulai mengantisipasi perubahan pada suku bunga pinjaman, peluang yield farming, hingga likuiditas di beberapa platform.
Meski pasar stablecoin secara keseluruhan masih berada di atas US$320 miliar, pertumbuhan sektor ini mulai terlihat melambat dibanding beberapa bulan sebelumnya.
Di sisi lain, dominasi Tether yang kembali meningkat menunjukkan bahwa investor saat ini lebih mengutamakan stabilitas dan likuiditas dibanding mencari alternatif stablecoin dengan model yang lebih agresif.
Untuk saat ini, pasar tampaknya masih melihat USDT sebagai tempat berlindung utama di tengah ketidakpastian regulasi dan volatilitas pasar kripto yang belum sepenuhnya reda.
Buat kamu yang ingin mengikuti perkembangan stablecoin, Bitcoin, hingga aset kripto lainnya, kamu bisa mulai investasi aset digital langsung di Nanovest. Pantau juga update terbaru melalui News & Artikel Tips Nanovest untuk mengikuti dinamika pasar kripto dan global setiap harinya.





