Harga minyak dunia turun tajam pada perdagangan Rabu setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran telah memasuki “tahap akhir”. Pernyataan tersebut memicu harapan baru bahwa konflik yang mengganggu jalur energi global melalui Selat Hormuz bisa segera mereda.
Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, turun lebih dari 4% ke kisaran US$105-US$106 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun di bawah US$100 per barel setelah sempat bertahan di level tinggi selama beberapa pekan terakhir.
Penurunan ini menjadi salah satu pelemahan harian terbesar minyak dalam lebih dari sebulan, setelah pasar sebelumnya dihantui kekhawatiran bahwa konflik AS-Iran dapat terus menekan pasokan energi global.
Trump Sebut Negosiasi Iran Masuk Tahap Akhir
Komentar Trump menjadi pemicu utama perubahan sentimen pasar energi.
Trump mengatakan pemerintahannya berada pada tahap akhir dalam pembicaraan dengan Iran. Pernyataan itu muncul setelah ia membatalkan rencana serangan militer baru terhadap Iran, yang sebelumnya disebut telah dijadwalkan untuk awal pekan ini.
Keputusan tersebut kabarnya diambil setelah sekutu Arab Teluk meminta AS memberi lebih banyak ruang bagi diplomasi. Wakil Presiden JD Vance juga menyebut bahwa negosiasi dengan Iran telah menunjukkan kemajuan.
Meski begitu, pasar belum sepenuhnya yakin bahwa kesepakatan akan segera tercapai. Ketegangan antara Washington dan Teheran masih tinggi, terutama setelah Iran kembali memperingatkan bahwa aksi militer baru dari AS dapat memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.
Kapal Tanker Mulai Lintasi Selat Hormuz
Selain komentar Trump, harga minyak juga turun setelah muncul tanda bahwa lalu lintas energi di Selat Hormuz mulai bergerak kembali.
Beberapa kapal tanker super, termasuk kapal Korea Selatan dan China, dilaporkan mulai melintasi jalur tersebut. Jika pergerakan itu terkonfirmasi berhasil, ini bisa menjadi salah satu hari dengan volume pengiriman minyak terbesar melalui Hormuz sejak perang dimulai pada akhir Februari.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia karena menjadi rute utama bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global.
Namun, pergerakan kapal tersebut belum berarti krisis sepenuhnya selesai. Beberapa laporan menunjukkan kapal-kapal itu kemungkinan masih bergerak melalui jalur yang dikendalikan atau diizinkan oleh Iran. Artinya, arus perdagangan energi memang mulai kembali, tetapi masih berada dalam lingkungan yang sangat sensitif secara politik.
Risiko Harga Minyak Masih Belum Hilang
Meski harga minyak turun tajam, sejumlah analis masih melihat risiko besar jika negosiasi AS-Iran kembali gagal.
Citibank sebelumnya memperingatkan bahwa pasar bisa saja meremehkan risiko gangguan pasokan yang lebih panjang di Selat Hormuz. Dalam skenario tersebut, harga Brent diperkirakan bisa kembali naik hingga sekitar US$120 per barel dalam waktu dekat.
Sementara itu, Wood Mackenzie memperkirakan harga minyak bahkan bisa mendekati US$200 per barel dalam skenario terburuk jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga akhir tahun.
Sebaliknya, jika AS dan Iran mencapai kesepakatan damai cepat dan Hormuz kembali dibuka penuh pada Juni, harga Brent berpotensi turun lebih jauh hingga mendekati US$80 per barel pada akhir 2026.
Dengan kata lain, arah harga minyak saat ini sangat bergantung pada perkembangan diplomasi dalam beberapa pekan ke depan.
Buat kamu yang ingin mengikuti dampak pergerakan harga minyak, geopolitik, dan kebijakan global terhadap pasar, kamu bisa pantau update terbaru melalui News & Artikel Tips Nanovest. Kamu juga bisa mulai investasi saham AS dan aset global lainnya langsung di Nanovest.





