Bitcoin (BTC) kembali bergerak fluktuatif setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Data Consumer Price Index (CPI) AS untuk April tercatat naik 3,8% secara tahunan, menjadi level tertinggi sejak 2023. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh lonjakan harga energi di tengah konflik AS-Iran yang terus memengaruhi pasar minyak global.
Setelah data dirilis, Bitcoin sempat bergerak tidak stabil di area $81.000 sebelum kembali kehilangan momentum kenaikan jangka pendeknya.
Pasar kini mulai mempertimbangkan kembali kemungkinan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan apabila tekanan inflasi terus bertahan.
Harga Energi Jadi Pemicu Utama Inflasi
Laporan terbaru dari Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan bahwa indeks energi menyumbang lebih dari 40% kenaikan CPI bulan April.
Harga energi dalam 12 bulan terakhir tercatat naik hampir 18%, mencerminkan dampak lanjutan dari konflik geopolitik dan ketidakpastian pasokan minyak global.
Kenaikan harga minyak beberapa minggu terakhir membuat pasar mulai khawatir bahwa inflasi AS bisa kembali bertahan di level tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Situasi ini menjadi cukup sensitif bagi The Fed karena selama beberapa tahun terakhir inflasi masih belum sepenuhnya kembali ke target 2%.
Akibatnya, ekspektasi pemangkasan suku bunga kembali tertunda. Bahkan sebagian pelaku pasar mulai membuka kemungkinan bahwa langkah berikutnya dari The Fed bukan lagi penurunan suku bunga, melainkan potensi kenaikan tambahan jika tekanan inflasi semakin meluas.
Data CME FedWatch terbaru juga menunjukkan pasar mulai memperhitungkan probabilitas suku bunga tinggi bertahan lebih lama hingga 2027.
Bitcoin Hadapi Resistance Penting
Di tengah perubahan sentimen makro tersebut, Bitcoin kini kembali berada di area teknikal penting.
Secara jangka pendek, area sekitar $80.000 masih menjadi support psikologis utama yang terus dipertahankan oleh buyer. Namun di sisi lain, area resistance di sekitar $82.000-$82.600 mulai terlihat cukup kuat menahan kenaikan harga.
Beberapa analis melihat garis rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average) masih menjadi hambatan utama sebelum Bitcoin bisa kembali melanjutkan reli lebih tinggi.
Selama BTC masih mampu bertahan di atas area $78.000-$80.000, struktur kenaikan jangka menengah dinilai belum rusak. Namun jika support tersebut ditembus, pasar mulai membuka kemungkinan koreksi yang lebih dalam menuju area support berikutnya di kisaran $76.000.
Volatilitas juga mulai meningkat setelah Bitcoin beberapa kali gagal mempertahankan momentum breakout di atas resistance terdekat.
Pasar Kripto Mulai Sensitif terhadap Kebijakan The Fed
Pergerakan Bitcoin belakangan semakin menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap data ekonomi AS dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Saat likuiditas global melimpah dan suku bunga rendah, aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto biasanya mendapat dorongan positif. Sebaliknya, ekspektasi suku bunga tinggi cenderung membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset dengan volatilitas besar.
Kondisi ini membuat pasar kripto kini tidak hanya dipengaruhi sentimen internal seperti ETF Bitcoin atau arus institusional, tetapi juga perkembangan inflasi, harga minyak, hingga geopolitik global.
Meski begitu, beberapa analis menilai struktur pasar Bitcoin saat ini masih relatif lebih kuat dibanding awal tahun, terutama karena dukungan arus masuk ETF spot Bitcoin yang tetap positif dalam beberapa pekan terakhir.
Artinya, tekanan makro memang mulai meningkat, tetapi minat investor institusional terhadap Bitcoin belum sepenuhnya menghilang.
Untuk saat ini, fokus pasar kemungkinan masih akan tertuju pada arah inflasi AS berikutnya, pergerakan harga minyak, dan bagaimana Federal Reserve merespons kondisi tersebut dalam beberapa bulan mendatang.
Buat kamu yang ingin mengikuti pergerakan Bitcoin, aset kripto, dan perkembangan ekonomi global, kamu bisa mulai investasi langsung di Nanovest. Pantau juga update terbaru melalui News & Artikel Tips Nanovest untuk mengikuti dinamika pasar setiap harinya.






