Ekspansi kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat kini memasuki fase paling sensitif, ketika pertumbuhan teknologi bertabrakan langsung dengan kepentingan publik. Di berbagai wilayah, pembangunan data center raksasa yang menopang layanan AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Microsoft Copilot memicu penolakan warga akibat lonjakan konsumsi listrik, penggunaan air besar-besaran, serta kekhawatiran meningkatnya biaya hidup. Di tengah tekanan tersebut, Microsoft mengambil posisi yang jarang diucapkan secara terbuka oleh raksasa teknologi lain: industri AI seharusnya membayar sendiri seluruh biaya infrastruktur yang dibutuhkan, tanpa membebankannya kepada pembayar pajak atau pelanggan listrik rumah tangga.
Presiden Microsoft, Brad Smith, mendorong pendekatan “pay our way” dalam pertemuan dengan para pembuat kebijakan federal, menegaskan bahwa manfaat AI bagi ekonomi dan produktivitas tidak otomatis membenarkan penggunaan dana publik untuk memperkuat jaringan listrik demi data center. Pernyataan ini sejalan dengan sikap Presiden Donald Trump yang menyatakan tidak ingin masyarakat Amerika “menanggung tagihan” pembangunan pusat data AI melalui tarif utilitas yang lebih mahal. Pesan politik tersebut memperkuat narasi bahwa konflik AI bukan lagi soal inovasi, melainkan soal siapa yang menanggung biayanya.
Penolakan terhadap data center AI semakin meluas seiring meningkatnya tekanan terhadap sistem kelistrikan regional. Di kawasan Mid-Atlantic yang mencakup 13 negara bagian, pelanggan listrik dilaporkan telah mengalami kenaikan tarif sejak pertengahan tahun, sebagian besar akibat lonjakan permintaan energi dari fasilitas data center. Kondisi ini diperkirakan belum mencapai puncaknya, mengingat puluhan proyek baru masih dalam tahap perencanaan di negara bagian seperti Virginia, Ohio, dan Pennsylvania. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, utilitas harus membangun pembangkit dan infrastruktur transmisi baru, biaya yang berpotensi dibebankan kepada konsumen jika tidak diatur secara ketat.
Selain listrik, penggunaan air juga menjadi sumber konflik serius. Data center membutuhkan sistem pendinginan intensif untuk menjaga stabilitas server, yang dalam beberapa kasus dapat mengonsumsi ratusan ribu galon air per hari. Di sejumlah komunitas, warga khawatir sumur mereka mengering, tarif air melonjak, atau sumber daya air lokal terdegradasi. Kekhawatiran ini diperparah oleh kurangnya transparansi dalam perjanjian pembelian listrik skala besar antara operator data center dan perusahaan utilitas, yang sering kali bersifat rahasia dan sulit dipantau publik.
Di Wisconsin, tempat Microsoft membangun fasilitas yang mereka klaim sebagai data center AI terkuat di dunia, ketegangan antara ambisi teknologi dan perlindungan lingkungan menjadi semakin nyata. Pemerintah negara bagian mempromosikan proyek tersebut sebagai motor pertumbuhan ekonomi dan pencipta lapangan kerja, namun kelompok lingkungan dan konsumen memperingatkan dampak jangka panjang terhadap tarif listrik regional dan ekosistem Danau Michigan. Sejumlah politisi bahkan menyerukan moratorium pembangunan data center hingga ada rencana energi komprehensif yang menjamin perlindungan komunitas.
Microsoft menolak gagasan penghentian proyek, tetapi menyatakan kesediaannya menanggung biaya tambahan melalui skema tarif khusus dan investasi langsung pada jaringan listrik regional. Perusahaan juga menegaskan komitmennya terhadap target menjadi karbon-negatif pada 2030, termasuk melalui investasi energi bebas karbon seperti tenaga surya, nuklir, dan hidro. Meski mengakui bahwa sebagian pasokan listrik saat ini masih berasal dari gas alam, Microsoft menyatakan terus berupaya memastikan sumber energi yang lebih bersih untuk operasional data center-nya.
Bagi industri teknologi, sikap Microsoft mencerminkan perubahan strategi di tengah meningkatnya resistensi publik. Bagi investor dan regulator, perdebatan ini menandai fase baru dalam ekonomi AI, di mana biaya eksternal yang selama ini tersembunyi mulai diperhitungkan secara terbuka. Jika kecerdasan buatan adalah fondasi pertumbuhan digital masa depan, maka pertanyaan utamanya kini bukan lagi seberapa canggih teknologinya, melainkan seberapa adil pembagian biayanya.






