Uber (UBER) semakin serius menempatkan robotaxi sebagai salah satu pilar pertumbuhan berikutnya.
Perusahaan ride-hailing menargetkan layanan kendaraan otonom tersedia di 28 kota di seluruh dunia pada 2028, dari empat kota di AS saat ini. Sebelum tahun ini berakhir, San Francisco Bay Area dan Los Angeles akan bergabung ke jaringan tersebut.
Ekspansi ini juga datang bersamaan dengan investasi yang semakin besar. CEO Uber Dara Khosrowshahi mengatakan perusahaan berencana mengalokasikan sekitar US$10 miliar dalam beberapa tahun mendatang untuk mengerahkan sekitar 120.000 kendaraan tanpa pengemudi.
Namun Uber tidak mengambil jalur seperti Tesla atau Waymo yang mengembangkan seluruh tumpukan teknologi secara lebih vertikal. Strateginya justru membangun jaringan kemitraan yang luas, kemudian menjadikan platform Uber sebagai tempat berbagai armada robotaxi bertemu dengan permintaan penumpang.
San Francisco dan Los Angeles Jadi Langkah Berikutnya
San Francisco Bay Area akan menjadi salah satu ekspansi utama Uber tahun ini. Perusahaan akan menggunakan kendaraan listrik Lucid yang dipadukan dengan teknologi autonomous driving milik Nuro. Uber, Lucid, dan Nuro mulai menguji kendaraan berkapasitas enam penumpang tersebut di Bay Area sejak Desember.
Pada Mei, California Public Utilities Commission memberikan izin kepada Nuro untuk menguji kendaraan otonom dengan membawa penumpang dan pengemudi keselamatan. Perizinan tersebut membuka jalan menuju tahap operasional yang lebih luas.
Los Angeles juga dijadwalkan mendapatkan layanan robotaxi Uber sebelum akhir tahun.
Keduanya menambah daftar kemitraan yang sudah tersebar di beberapa kota AS. Uber bekerja sama dengan Motional di Las Vegas, Waymo di Atlanta dan Austin, serta Avride di Dallas. Perusahaan juga berencana menambahkan layanan bersama Zoox milik Amazon di Las Vegas.
Waymo sendiri baru saja menghapus daftar tunggu layanan robotaxinya di Dallas, sehingga seluruh penduduk dan pengunjung dapat mengakses layanan tersebut.
Sementara itu, Zoox mulai memasuki fase komersial yang lebih penting. Mulai 10 Agustus, perusahaan tersebut dapat mengenakan biaya kepada penumpang di Las Vegas setelah memperoleh pengecualian dari National Highway Traffic Safety Administration.
Pengecualian itu memungkinkan Zoox mengoperasikan hingga 2.500 kendaraan secara komersial selama dua tahun, meski desain robotaxinya tidak memiliki sejumlah kontrol kendaraan tradisional seperti roda kemudi dan pedal.
Perkembangan tersebut menunjukkan industri robotaxi mulai bergerak dari fase pengujian menuju bisnis yang benar-benar menghasilkan pendapatan. Bagi Uber, semakin banyak operator yang berhasil mencapai tahap komersial berarti semakin banyak calon armada yang dapat diintegrasikan ke platformnya.
Uber Bangun Ekosistem Robotaxi
Strategi Uber terlihat semakin berbeda dari para pengembang kendaraan otonom murni. Perusahaan tidak berusaha memenangkan perlombaan dengan membuat satu kendaraan atau teknologi autonomous driving sendiri. Sebaliknya, Uber ingin menjadi lapisan distribusi yang menghubungkan penumpang dengan berbagai penyedia robotaxi.
Untuk memperkuat strategi tersebut, Uber membentuk Uber AV Labs, divisi yang mengembangkan algoritma khusus ride-hailing untuk dibagikan kepada mitra kendaraan otonomnya.
Perusahaan sedang membangun ratusan kendaraan yang beroperasi dalam skenario khusus ride-hailing dengan sensor setara robotaxi. Data dan algoritma dari pengoperasian tersebut dapat membantu mitra mengembangkan sistem yang lebih sesuai dengan pola penggunaan dunia nyata.
Uber juga mulai mengamankan akses terhadap kendaraan. Perusahaan telah berinvestasi di Lucid dan Rivian, dengan rencana mengakuisisi sedikitnya 20.000 kendaraan Lucid dan hingga 50.000 kendaraan Rivian dalam beberapa tahun mendatang.
Di sisi lain, ekosistem pendukung robotaxi juga mulai berkembang. Moove, yang kini menjadi operator armada Waymo di Phoenix, Miami, dan Las Vegas serta nantinya London, baru saja meraih pendanaan US$250 juta dengan valuasi sekitar US$2,1 miliar. Perusahaan tersebut berencana membeli robotaxi Waymo secara langsung dan memperluas bisnis pengelolaan armada kendaraan otonom.
Artinya, rantai nilai robotaxi mulai terbentuk lebih jelas: pengembang teknologi autonomous driving, produsen kendaraan, operator armada, dan marketplace pemesanan dapat menjadi bisnis yang berbeda.
Dalam struktur tersebut, posisi Uber cukup strategis karena telah memiliki jaringan pengguna, sistem pembayaran, pemetaan permintaan, serta basis pengemudi dan perjalanan dalam skala global. Target akhirnya juga ambisius. Uber ingin menguasai pangsa terbesar perjalanan taksi otonom secara global pada 2029.
US$10 Miliar untuk Robotaxi, Regulasi Masih Jadi Tantangan
Ambisi tersebut membutuhkan modal besar. Uber berencana menginvestasikan sekitar US$10 miliar dalam beberapa tahun mendatang untuk mengerahkan sekitar 120.000 kendaraan tanpa pengemudi.
Namun, tantangan robotaxi tidak hanya berada pada teknologi dan modal. Setiap kota memiliki persoalan regulasi, keselamatan, lalu lintas, hingga kekhawatiran mengenai lapangan kerja yang berbeda. Karena itu, Uber aktif berkomunikasi dengan gubernur, walikota, anggota dewan, dan regulator lokal sebelum memperluas layanan.
Washington, DC menjadi salah satu contoh kompleksitas tersebut. Waymo masih menunggu izin beroperasi karena kendaraan otonom harus dapat beradaptasi dengan kondisi khusus seperti pengamanan jalan ketika iring-iringan presiden atau wakil presiden melintas.
Di California, perdebatan regulasi juga belum selesai. Serikat pekerja Teamsters menggugat Department of Motor Vehicles California terkait rencana mengizinkan truk berat otonom di jalan raya, dengan alasan dampak ekonomi dan keselamatan belum dikaji secara memadai.
Di sisi lain, pemerintah federal mulai membuka lebih banyak ruang untuk inovasi. Pengecualian NHTSA terhadap Zoox dapat menjadi preseden penting bagi kendaraan yang sejak awal dirancang tanpa pengemudi manusia. Model kendaraan seperti Cybercab milik Tesla juga berpotensi memperoleh manfaat dari kerangka regulasi semacam ini.
Persaingan teknologi juga semakin padat. Nvidia baru saja merilis Alpamayo 2 Super, model AI open-source untuk autonomous driving yang dapat digunakan dan dimodifikasi secara komersial oleh produsen kendaraan dan pengembang sistem otonom.
Semakin banyak teknologi, kendaraan, dan operator yang masuk ke industri tersebut dapat memperbesar pasar robotaxi. Namun bagi Uber, pertanyaan terbesarnya adalah apakah platformnya mampu mempertahankan posisi sebagai perantara utama ketika perusahaan seperti Waymo, Zoox, maupun Tesla juga semakin mampu membangun hubungan langsung dengan pengguna.
Untuk saat ini, strategi Uber terlihat jelas: perusahaan tidak harus memiliki satu teknologi robotaxi terbaik jika mampu menjadi platform tempat sebagian besar teknologi terbaik tersebut beroperasi.
Pantau Uber dan Masa Depan Robotaxi
Ikuti pergerakan Uber dan saham teknologi Amerika lainnya melalui aplikasi Nanovest. Dapatkan juga update terbaru mengenai robotaxi, AI, kendaraan otonom, dan perkembangan pasar lewat News serta Artikel Tips Nanovest.
Referensi +
- TechCrunch: Zoox prepares for launch and Uber’s AV empire
- SmartCitiesDive: Uber to operate robotaxis in Los Angeles, San Francisco this year






