Saham Starbucks (SBUX) melonjak dalam perdagangan setelah jam bursa setelah perusahaan melaporkan kinerja kuartal kedua yang melampaui ekspektasi analis, sekaligus menaikkan proyeksi untuk tahun fiskal 2026. Hasil ini memperkuat narasi bahwa strategi pemulihan yang dijalankan mulai menunjukkan hasil nyata.
Dalam laporan terbarunya, Starbucks mencatat pertumbuhan penjualan toko yang sama (comparable store sales) global sebesar 6,2%, jauh di atas perkiraan pasar di kisaran 3,7%. Di Amerika Serikat, pertumbuhan bahkan mencapai 7,1% – level tertinggi sejak akhir 2024 – didorong oleh peningkatan jumlah transaksi dan nilai belanja per pelanggan.
Dari sisi profitabilitas, laba per saham (EPS) tercatat sebesar $0,50, melampaui ekspektasi $0,43 dan meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pendapatan naik menjadi $9,5 miliar, juga di atas proyeksi analis.
Kinerja ini menjadi titik penting bagi Starbucks, yang sebelumnya sempat menghadapi tekanan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir. CEO Brian Niccol menyebut kuartal ini sebagai “titik balik” bagi bisnis perusahaan, dengan fokus ke depan pada menjaga momentum dan memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Strategi Pemulihan Mulai Terlihat
Perbaikan kinerja Starbucks tidak terjadi secara kebetulan. Sejumlah inisiatif operasional mulai memberikan dampak, mulai dari peningkatan kualitas layanan di toko, investasi pada tenaga kerja, hingga inovasi produk dan pemasaran yang lebih relevan.
Perusahaan juga mendorong efisiensi operasional melalui fitur baru seperti pemesanan terjadwal di aplikasi, yang diharapkan dapat meningkatkan throughput layanan dan pengalaman pelanggan.
Menariknya, pertumbuhan transaksi terjadi di tengah tekanan makro seperti kenaikan harga energi. Hal ini menunjukkan bahwa Starbucks masih memiliki daya tarik kuat di berbagai segmen konsumen, bahkan diposisikan sebagai “affordable luxury”, pengalaman kecil yang tetap dianggap layak oleh konsumen di tengah ketidakpastian ekonomi.
Proyeksi Naik, Sentimen Positif Menguat
Seiring dengan kinerja yang solid, Starbucks menaikkan panduan untuk tahun 2026. Perusahaan kini memperkirakan pertumbuhan penjualan toko yang sama global di atas 5%, naik dari proyeksi sebelumnya sekitar 3%.
Untuk laba, Starbucks menaikkan estimasi EPS ke kisaran $2,25 hingga $2,45, mencerminkan keyakinan manajemen terhadap keberlanjutan pemulihan bisnis.
Di sisi pasar, saham Starbucks telah naik sekitar 15% sejak awal tahun, mengungguli kenaikan S&P 500 yang berada di kisaran 4%. Kenaikan terbaru pasca laporan keuangan semakin memperkuat sentimen positif investor terhadap turnaround story perusahaan.
Masih Ada Risiko di Tengah Perbaikan
Meski momentum pemulihan terlihat kuat, manajemen tetap menyoroti sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, terutama dari sisi makro. Kenaikan harga kopi, tekanan biaya akibat tarif, serta ketidakpastian ekonomi global masih berpotensi memengaruhi margin ke depan.
Namun, perusahaan memperkirakan tekanan tersebut akan mulai mereda pada paruh kedua tahun fiskal 2026, memberikan ruang bagi perbaikan profitabilitas yang lebih stabil.
Kinerja Starbucks menjadi contoh bagaimana perusahaan consumer discretionary dapat tetap tumbuh di tengah tekanan ekonomi, selama mampu mengeksekusi strategi dengan tepat.
Bagi investor, ini juga menegaskan bahwa di tengah volatilitas global, peluang tidak hanya datang dari sektor teknologi atau AI, tetapi juga dari perusahaan yang berhasil melakukan turnaround operasional secara konsisten.
Ingin terus update dengan pergerakan saham global, termasuk peluang dan risiko di berbagai sektor?
Pantau terus News & Artikel Tips terbaru di Nanovest untuk membantu kamu mengambil keputusan investasi yang lebih terinformasi. Kamu juga bisa mulai eksplor berbagai aset global langsung di aplikasi Nanovest dengan lebih mudah.






