Pasar saham Amerika Serikat menunjukkan jeda setelah reli kuat yang terjadi sebelumnya, seiring meningkatnya ketidakpastian terkait kondisi geopolitik di Timur Tengah. Pada perdagangan futures Rabu malam, indeks utama seperti S&P 500 dan Dow Jones mengalami penurunan tipis masing-masing sekitar 0,1%, sementara Nasdaq 100 turun sekitar 0,2%. Pergerakan ini menandakan bahwa investor mulai mengambil sikap hati-hati setelah lonjakan signifikan di sesi sebelumnya.
Sebelumnya, pasar mencatat penguatan besar yang dipicu oleh kabar positif mengenai potensi meredanya konflik antara koalisi AS-Israel dan Iran. Dalam sesi reguler, indeks S&P 500 melonjak sekitar 2,5%, diikuti Nasdaq yang naik 2,8%. Sementara itu, Dow Jones mencatat kenaikan lebih dari 1.300 poin, menjadi salah satu performa harian terbaik sejak April 2025.
Katalis utama dari reli tersebut adalah pengumuman dari Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menghentikan sementara serangan terhadap Iran. Langkah ini diambil setelah adanya sinyal dari pihak Iran terkait kemungkinan dimulainya kembali negosiasi damai. Proposal tersebut dinilai cukup “layak” untuk membuka peluang deeskalasi konflik dalam jangka pendek.
Kesepakatan gencatan senjata ini memiliki syarat penting, yaitu pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang berperan besar dalam distribusi minyak global. Selat ini sempat ditutup selama beberapa pekan akibat meningkatnya tensi konflik, sehingga memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia. Pada awalnya, pihak Iran memberikan sinyal positif untuk membuka kembali jalur tersebut, dengan syarat tidak adanya serangan lanjutan.
Namun, situasi kembali memanas setelah muncul klaim dari pejabat tinggi Iran yang menyebut bahwa Israel telah melanggar kesepakatan dengan melakukan serangan di wilayah Lebanon. Pernyataan ini membuat Selat Hormuz tetap ditutup, sehingga kembali memicu kekhawatiran pasar.
Dampaknya langsung terlihat di pasar komoditas, di mana harga minyak kembali menguat setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam. Harga minyak Brent dan WTI masing-masing naik lebih dari 2% dalam perdagangan after-hours, setelah sempat anjlok lebih dari 13% dan turun di bawah level US$100 per barel.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, khususnya indeks harga PCE yang menjadi acuan utama inflasi bagi The Fed. Selain itu, data klaim pengangguran mingguan juga akan menjadi indikator penting dalam melihat kondisi ekonomi terbaru.
Di tengah dinamika ini, investor diharapkan tetap waspada terhadap kombinasi faktor geopolitik dan ekonomi yang dapat memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek.






