Harga emas melemah setelah sempat mencapai level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang membebani pergerakan logam mulia, meski sejumlah analis masih melihat prospek positif untuk emas dalam jangka menengah hingga panjang.
Pada perdagangan terbaru, harga emas spot turun sekitar 0,5% ke kisaran US$4.150 per ons setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak akhir Juni. Sementara itu, indeks dolar AS menguat sekitar 0,3%, membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain sehingga menekan permintaan global.
Dolar Menguat, Pasar Menunggu Sinyal The Fed
Tekanan terhadap emas muncul menjelang rilis risalah rapat Federal Reserve yang dijadwalkan pekan ini. Investor berharap dokumen tersebut dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat setelah data tenaga kerja Juni menunjukkan perlambatan yang lebih besar dari perkiraan.
Data tersebut membuat pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September kini berada di kisaran 56%.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi, prospeknya tetap sangat dipengaruhi oleh arah suku bunga. Ketika suku bunga naik, daya tarik emas biasanya berkurang karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
JPMorgan Pangkas Target, Namun Tetap Bullish
Di tengah koreksi harga, JPMorgan masih mempertahankan pandangan positif terhadap emas. Bank investasi tersebut memangkas proyeksi sebelumnya yang sempat mencapai US$6.000 per ons, tetapi tetap memperkirakan harga emas dapat mencapai sekitar US$4.300 pada kuartal III dan naik ke US$4.500 per ons pada kuartal IV 2026.
Penyesuaian target tersebut dilakukan karena permintaan dari beberapa kelompok pembeli utama diperkirakan tidak sekuat proyeksi sebelumnya. JPMorgan juga mengingatkan bahwa inflasi yang kembali meningkat selama musim panas dapat menjadi risiko yang menekan harga emas dalam jangka pendek.
Meski demikian, bank tersebut tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang. Salah satu faktor pendukungnya adalah pembelian emas oleh bank sentral yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga beberapa tahun ke depan, sehingga membantu menopang permintaan global.
Fokus Investor Beralih ke Kebijakan dan Data Ekonomi
Untuk saat ini, perhatian pasar tertuju pada risalah rapat The Fed yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan emas berikutnya. Jika risalah tersebut mengindikasikan kebijakan moneter yang lebih longgar, emas berpotensi kembali menguat. Sebaliknya, sinyal bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama dapat mempertahankan tekanan terhadap logam mulia.
Di sisi lain, prospek jangka panjang emas masih didukung oleh ketidakpastian ekonomi global, pembelian bank sentral, serta perannya sebagai aset pelindung nilai ketika volatilitas pasar meningkat.
Dapatkan informasi harga emas hari ini di halaman Nanovest Gold.
Pergerakan emas tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan fisik, tetapi juga oleh kebijakan bank sentral, nilai tukar dolar AS, dan kondisi ekonomi global. Pantau terus perkembangan pasar komoditas melalui News dan Artikel Tips Nanovest, serta temukan berbagai peluang investasi langsung di aplikasi Nanovest.
Referensi +
- Reuters: Spot gold pulls back from two-week high on stronger dollar; Fed minutes on tap
- BeInCrypto: Gold Retreats From 2-Week High as JPMorgan Eyes Q4 Rebound






