Amazon (AMZN) kembali memberi Wall Street alasan untuk percaya bahwa gelombang investasi artificial intelligence mulai menghasilkan dampak nyata terhadap bisnis.
Perusahaan melampaui ekspektasi pendapatan dan laba pada kuartal kedua 2026, didorong percepatan pertumbuhan Amazon Web Services, bisnis periklanan, serta ekspansi chip AI internalnya. Saham Amazon pun melonjak lebih dari 9% pada perdagangan setelah jam bursa.
Namun, hasil tersebut juga memperlihatkan besarnya harga yang harus dibayar untuk memenangkan persaingan AI. Amazon menaikkan estimasi belanja modal tahun ini menjadi US$220 miliar, sementara arus kas bebasnya berubah negatif akibat pembangunan infrastruktur yang semakin agresif.
Perbedaannya dibanding sebagian perusahaan teknologi lain adalah Amazon mulai memiliki angka yang dapat digunakan untuk membenarkan pengeluaran tersebut. AWS tumbuh pada laju tercepat sejak 2021, backlog terus meningkat, dan bisnis AI serta chip perusahaan kini masing-masing telah mencapai skala pendapatan puluhan miliar dolar.
AWS Kembali Menjadi Mesin Pertumbuhan
Amazon membukukan pendapatan kuartal kedua sebesar US$200,6 miliar, lebih tinggi dari perkiraan analis sekitar US$196,5 miliar hingga US$197 miliar. Laba per saham mencapai US$5,75, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar US$1,82. Angka tersebut turut memperoleh dorongan besar dari keuntungan investasi Amazon di Anthropic.
Di luar kontribusi investasi, bisnis operasional perusahaan tetap menunjukkan pertumbuhan kuat. Penjualan di Amerika Utara naik sekitar 16% menjadi US$116,2 miliar, dibantu Prime Day serta meningkatnya permintaan untuk kebutuhan sehari-hari dan bahan makanan.
Bisnis periklanan juga melanjutkan momentum dengan pendapatan sekitar US$19,8 miliar, tumbuh 26% dibanding tahun sebelumnya.
Sorotan utama tetap berada pada Amazon Web Services. Pendapatan AWS melonjak sekitar 37% menjadi US$42,2 miliar, melampaui ekspektasi pasar sebesar US$40,5 miliar dan menjadi pertumbuhan tercepat unit tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa permintaan infrastruktur AI belum melambat. Backlog AWS, yang mencerminkan kontrak pelanggan yang belum direalisasikan menjadi pendapatan, telah mencapai US$496 miliar.
Bisnis AI dan Chip Mulai Menunjukkan Skala
Pertumbuhan AWS bukan hanya berasal dari penyewaan kapasitas cloud tradisional. Amazon semakin memperluas ekosistem AI melalui Bedrock, Trainium, Graviton, serta layanan komputasi yang digunakan oleh perusahaan seperti Meta (META), OpenAI, dan Anthropic.
Bisnis AI dan chip internal Amazon kini masing-masing telah melampaui laju pendapatan tahunan sebesar US$25 miliar. Angka tersebut menjadi sinyal penting bahwa strategi perusahaan mulai bergerak dari fase pembangunan menuju monetisasi.
Amazon tidak lagi hanya menjual kapasitas server, tetapi juga mengembangkan chip sendiri untuk menekan biaya, mengurangi ketergantungan terhadap pemasok eksternal, dan menawarkan alternatif yang lebih efisien kepada pelanggan.
Perusahaan bahkan membuka kemungkinan menjual chip tersebut agar dapat dipasang langsung di pusat data milik pelanggan. Jika strategi ini berjalan, Amazon dapat memperluas pasar chip-nya di luar ekosistem AWS sekaligus meningkatkan margin bisnis tersebut.
Kinerja Amazon juga memperkuat tren yang terlihat dari Microsoft (MSFT) dan Alphabet (GOOG). Permintaan cloud berbasis AI tetap tinggi, tetapi investor semakin membedakan perusahaan yang mampu menunjukkan pertumbuhan pendapatan dari belanja besar dan perusahaan yang masih bergantung pada janji jangka panjang.
Capex Naik, Arus Kas Bebas Berbalik Negatif
Pertumbuhan cepat tersebut membutuhkan investasi yang semakin besar. Amazon menaikkan proyeksi belanja modal 2026 dari sebelumnya US$200 miliar menjadi US$220 miliar. Kenaikan biaya memori dan kebutuhan menambah kapasitas pusat data menjadi faktor utama di balik revisi tersebut.
Pada kuartal kedua saja, belanja modal Amazon mencapai sekitar US$54,2 miliar, naik dari US$32,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Pengeluaran tersebut menekan arus kas bebas. Dalam 12 bulan terakhir, Amazon mencatat arus kas keluar bebas sebesar US$7,6 miliar, berbalik dari arus masuk US$18,2 miliar setahun sebelumnya.
Meski demikian, perusahaan menilai investasi tersebut masih belum cukup untuk memenuhi seluruh permintaan yang tersedia. Kapasitas AWS diperkirakan tetap ketat sepanjang 2026 dan 2027, sementara permintaan untuk 2028 sudah mulai terlihat.
Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Selama pertumbuhan AWS, bisnis AI, dan chip mampu mempertahankan lajunya, investor kemungkinan masih dapat menerima penurunan arus kas sementara.
Namun, standar pasar juga semakin tinggi. Setelah melihat Meta tertekan karena ketidakpastian capex dan Alphabet mendapat sorotan setelah menaikkan belanja modal, Amazon harus terus membuktikan bahwa setiap dolar yang dikeluarkan dapat diterjemahkan menjadi kontrak, pendapatan, dan laba.
Pantau Peluang di Balik Pertumbuhan AI Amazon
Pantau pergerakan Amazon (AMZN) dan saham teknologi Amerika lainnya melalui aplikasi Nanovest. Ikuti juga perkembangan earnings, cloud, AI, dan Wall Street lewat News dan Artikel Tips Nanovest agar kamu dapat melihat perusahaan mana yang mulai mengubah belanja besar menjadi pertumbuhan nyata.
Referensi +
- Yahoo Finance: Amazon beats Q2 earnings expectations as AI, chip businesses see $25 billion run rate
- CNBC: Amazon hikes 2026 capex to $220 billion due to higher memory costs






