Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan penguatan pada perdagangan Rabu (15/7) setelah data inflasi Amerika Serikat kembali memberikan kejutan positif. Mata uang kripto terbesar di dunia tersebut sempat menyentuh US$65.500, level tertinggi sejak 22 Juni, seiring meningkatnya optimisme investor terhadap prospek kebijakan moneter Federal Reserve.
Kenaikan ini menjadi kelanjutan dari reli yang sudah dimulai sehari sebelumnya setelah data Indeks Harga Konsumen (CPI) juga menunjukkan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan. Kombinasi dua data tersebut memperkuat keyakinan bahwa tekanan inflasi di AS mulai mereda, meski sebelumnya pasar sempat khawatir akibat kenaikan harga energi yang dipicu tensi geopolitik.
Data PPI Perkuat Optimisme Pasar
Sentimen positif datang setelah Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS untuk Juni menunjukkan perlambatan inflasi di tingkat produsen. Secara tahunan, PPI tercatat sebesar 5,5%, sementara secara bulanan turun 0,3%.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya harga barang di tingkat produsen, meski harga sektor jasa masih mengalami kenaikan tipis. Data ini memperkuat sinyal bahwa tekanan harga mulai mereda di berbagai sektor ekonomi.
Bagi pasar keuangan, kondisi tersebut menjadi kabar baik karena membuka peluang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneternya tanpa perlu kembali memperketat suku bunga. Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan September pun ikut menurun setelah rilis data CPI dan PPI dalam dua hari berturut-turut.
Perubahan ekspektasi tersebut turut mendorong penguatan berbagai aset berisiko, termasuk saham Amerika Serikat dan aset kripto seperti Bitcoin.
BTC Mulai Bangun Momentum, Tapi Resistensi Masih Menanti
Meski berhasil mencatat level tertinggi dalam tiga minggu terakhir, sejumlah analis menilai reli Bitcoin masih berada pada fase awal.
Area US$65.600 hingga US$67.200 kini menjadi zona resistensi penting yang perlu ditembus untuk mengonfirmasi kelanjutan tren naik. Jika berhasil melewati kisaran tersebut, peluang Bitcoin kembali menguji area US$70.000 dinilai akan semakin besar.
Sebaliknya, kegagalan menembus area tersebut berpotensi memicu aksi ambil untung jangka pendek, mengingat Bitcoin masih bergerak di dalam kisaran perdagangan beberapa bulan terakhir.
Investor Tetap Waspadai Potensi Koreksi
Walaupun sentimen makro mulai membaik, sebagian pelaku pasar masih memilih bersikap hati-hati. Beberapa analis teknikal menilai pergerakan Bitcoin masih menghadapi tantangan dari sejumlah level teknikal jangka panjang yang sebelumnya beberapa kali menjadi titik balik harga.
Selain itu, pola historis menunjukkan bahwa setelah reli singkat akibat sentimen makro, Bitcoin terkadang mengalami fase konsolidasi sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya. Oleh karena itu, investor masih menunggu konfirmasi lebih lanjut apakah penguatan kali ini cukup kuat untuk membentuk tren naik yang lebih berkelanjutan.
Bagi investor, perkembangan inflasi AS dan arah kebijakan Federal Reserve diperkirakan akan tetap menjadi katalis utama yang memengaruhi pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan mendatang.
Ikuti berita lainnya terkait aset Bitcoin di halaman ini.
Ingin mulai investasi Bitcoin, saham Amerika, kripto, dan emas digital dalam satu aplikasi? Download Nanovest sekarang dan dapatkan update pasar terbaru melalui News serta artikel Tips & Tutorial Nanovest untuk membantu mengambil keputusan investasi yang lebih percaya diri.
Referensi +
- CoinTelegraph: Bitcoin hits $65.5K as more surprise US inflation data sparks three-week BTC price high






