Selama dua tahun terakhir, hampir setiap kali pasar membahas artificial intelligence (AI), satu nama selalu muncul di urutan pertama: Nvidia. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Lonjakan permintaan GPU untuk melatih dan menjalankan model AI menjadikan Nvidia simbol dari revolusi AI yang sedang berlangsung.
Namun perkembangan terbaru menunjukkan bahwa peta persaingan mulai berubah. Intel mulai memprioritaskan chip server dibanding prosesor PC. Google memperluas penggunaan Tensor Processing Unit (TPU) kepada pelanggan eksternal. Broadcom tetap mempertahankan posisi dominan pada chip AI kustom, sementara AMD terus memperkuat bisnis server AI.
Semua perkembangan tersebut mengarah pada satu kesimpulan yang sama: AI tidak lagi menjadi cerita tentang satu perusahaan. AI mulai berkembang menjadi sebuah industri dengan rantai pasok yang semakin lengkap.
Perubahan ini juga datang pada momen yang menarik. Memasuki awal musim laporan keuangan (earnings season) kuartal kedua 2026, investor diperkirakan akan semakin fokus melihat bagaimana belanja AI tercermin pada pendapatan, margin, dan prospek bisnis perusahaan di seluruh rantai pasok AI.
AI Kini Memiliki “Supply Chain” Sendiri
Kini perhatian investor mulai bergeser ke seluruh ekosistem yang memungkinkan AI dapat berjalan.
Sebuah layanan AI generatif membutuhkan lebih dari sekadar model bahasa besar. Di balik setiap permintaan yang dikirim pengguna terdapat GPU untuk komputasi, CPU server untuk mengelola sistem, chip memori berkecepatan tinggi, storage, jaringan optik, cloud, hingga pusat data yang menghubungkan semuanya.
Dengan kata lain, AI kini memiliki rantai pasok yang mirip dengan industri otomotif atau manufaktur. Semakin luas adopsi AI, semakin banyak pula perusahaan yang ikut memperoleh manfaat meski tidak pernah membuat chatbot atau model AI sendiri.
Intel dan AMD Menunjukkan Perubahan Prioritas
Salah satu petunjuk paling menarik justru datang dari pasar PC. Riset terbaru Susquehanna menunjukkan bahwa banyak komputer baru yang dirilis sepanjang 2026 masih menggunakan prosesor Intel (INTC) maupun Advanced Micro Devices (AMD) generasi lama.
Sekilas, kondisi ini mungkin terlihat seperti perlambatan inovasi. Namun analis memiliki pandangan yang berbeda.
Intel diperkirakan sengaja mengalokasikan kapasitas produksi chip terbaru berbasis Intel 7 untuk memenuhi permintaan CPU server, seperti Sapphire Rapids dan Emerald Rapids, yang banyak digunakan di pusat data AI. AMD juga menunjukkan pola serupa dengan meningkatnya penggunaan prosesor generasi sebelumnya pada berbagai perangkat baru.
Artinya, ketika harus memilih antara memasok chip untuk laptop atau memenuhi kebutuhan data center AI yang terus berkembang, kedua perusahaan tampaknya lebih memprioritaskan pasar server.
Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa investasi AI saat ini masih didominasi oleh pembangunan infrastruktur dibanding perangkat konsumen.
Google Ingin Mengubah Peta Persaingan
Persaingan AI juga semakin menarik di sisi cloud. Menurut laporan The Information, Google (GOOG) kini berupaya memperluas penjualan Tensor Processing Unit (TPU) miliknya kepada penyedia layanan AI cloud atau neocloud.
Selama ini TPU lebih banyak digunakan secara internal untuk menjalankan layanan Google. Kini perusahaan mulai membuka akses kepada pelanggan eksternal, termasuk laboratorium AI dan perusahaan yang membutuhkan komputasi berkinerja tinggi.
Google bahkan membentuk joint venture bersama Blackstone untuk menyewakan TPU kepada perusahaan AI mulai tahun depan. Langkah ini menunjukkan bahwa persaingan AI juga terjadi pada penyedia infrastruktur komputasi yang menjalankan model-model tersebut.
Meski demikian, Nvidia (NVDA) masih memegang posisi yang sangat kuat. Sebagian besar penyedia cloud AI seperti CoreWeave, Nebius (NBIS), dan Lambda masih mengandalkan GPU Nvidia sebagai tulang punggung infrastruktur mereka.
Broadcom Menunjukkan Pentingnya Posisi di Ekosistem
Persaingan AI tidak selalu berarti harus menjadi pemain terbesar. Broadcom (AVGO) menjadi contoh bagaimana perusahaan dapat memainkan peran penting tanpa harus menjadi pusat perhatian.
Sempat muncul laporan bahwa MediaTek mulai mengambil sebagian pekerjaan desain TPU Google yang sebelumnya ditangani Broadcom. Namun Morgan Stanley menilai kekhawatiran tersebut berlebihan.
Menurut analis, Google memang memiliki insentif untuk mendiversifikasi pemasoknya, tetapi Broadcom diperkirakan masih akan mempertahankan sekitar 80% pangsa desain TPU Google dalam jangka panjang.
Selain hubungan yang telah terjalin selama bertahun-tahun, Broadcom juga memiliki pengalaman dalam membangun chip AI kustom (ASIC) untuk hyperscaler berskala besar. Bahkan, perusahaan diperkirakan akan memperoleh tambahan pelanggan ASIC baru mulai paruh kedua 2027.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam industri AI, hubungan jangka panjang, pengalaman teknis, dan kemampuan memasok platform berskala besar sering kali menjadi keunggulan yang sulit digantikan.
Saham yang Layak Diperhatikan
Nvidia (NVDA) —Cek NVDA
Meski kompetisi semakin meningkat, Nvidia masih menjadi pemimpin pasar GPU AI dengan ekosistem CUDA yang telah menjadi standar industri. Dominasi perusahaan pada pusat data AI membuat Nvidia tetap menjadi salah satu pemain utama dalam pembangunan infrastruktur AI global.
Broadcom (AVGO) —Cek AVGO
Broadcom masih dipandang sebagai salah satu “core AI winner” oleh Morgan Stanley. Selain mempertahankan posisi penting dalam pengembangan TPU Google, perusahaan juga terus memperluas bisnis chip AI kustom yang digunakan berbagai hyperscaler.
Alphabet (GOOG) —Cek GOOG
Google kini tidak hanya bersaing melalui model AI Gemini, tetapi juga mulai membangun bisnis penyewaan TPU melalui Google Cloud serta kemitraan bersama Blackstone. Langkah ini berpotensi membuka sumber pertumbuhan baru di luar bisnis pencarian dan periklanan.
Intel (INTC) —Cek INTC
Fokus Intel yang mulai bergeser ke CPU server menunjukkan bahwa perusahaan berupaya memanfaatkan tingginya belanja data center AI. Meskipun pasar PC masih menghadapi tantangan, permintaan infrastruktur AI menjadi peluang penting bagi perusahaan.
Advanced Micro Devices (AMD) —Cek AMD
AMD juga semakin memperkuat posisinya pada segmen server AI. Selain CPU EPYC, perusahaan terus mengembangkan akselerator AI untuk bersaing di pasar data center yang pertumbuhannya masih sangat tinggi.
Apa Artinya bagi Investor?
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa AI kini memasuki fase yang berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Jika sebelumnya pasar lebih banyak membahas siapa yang memiliki model AI terbaik, kini perhatian mulai bergeser pada siapa yang membangun fondasi agar AI dapat digunakan dalam skala global.
Perubahan ini membuat peluang investasi AI menjadi semakin luas. Tidak semua perusahaan harus menciptakan chatbot atau model AI untuk memperoleh manfaat. Sebagian justru berada di balik layar dengan menyediakan chip, server, cloud, jaringan, atau infrastruktur yang menjadi tulang punggung perkembangan AI.
Seiring dimulainya earnings season, perhatian investor kemungkinan juga akan tertuju pada komentar manajemen mengenai belanja AI, permintaan data center, serta kontribusi bisnis AI terhadap kinerja perusahaan. Informasi tersebut dapat menjadi petunjuk penting untuk melihat bagian mana dari rantai pasok AI yang saat ini menikmati pertumbuhan paling kuat.
Kesimpulan Strategi
Perkembangan AI kini memasuki fase yang lebih matang. Persaingan kini meluas ke seluruh ekosistem yang menopang teknologi tersebut, mulai dari chip, server, cloud, hingga infrastruktur data center.
Intel, AMD, Google, Broadcom, dan Nvidia menunjukkan bahwa setiap lapisan rantai pasok memiliki peran berbeda dalam mendorong pertumbuhan AI. Artinya, peluang investasi tidak lagi terkonsentrasi pada satu perusahaan atau satu jenis chip saja.
Bagi investor, memahami bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut saling melengkapi dalam membangun ekosistem AI dapat memberikan perspektif yang lebih luas. Seiring AI semakin banyak diadopsi oleh berbagai industri, perusahaan yang berada di balik infrastruktur pendukungnya berpotensi memainkan peran yang sama pentingnya dengan pengembang teknologi AI itu sendiri.
Sumber: Seeking Alpha, The Information, Morgan Stanley Research
Untuk insight dan strategi investasi lainnya, kunjungi blog.nanovest.io.
Referensi +
- Seeking Alpha
- The Information
- Morgan Stanley Research






