Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah setelah Federal Reserve merilis risalah rapat kebijakan moneter periode 16-17 Juni. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa meski seluruh anggota sepakat mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%, pandangan para pejabat mengenai langkah selanjutnya mulai terbelah.
Pasar merespons risalah tersebut dengan hati-hati. Bitcoin sempat diperdagangkan di sekitar US$62.200, turun sekitar 2,8% dalam 24 jam setelah notulen dipublikasikan. Pergerakan ini memperlihatkan bahwa aset kripto masih sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
The Fed Mulai Berbeda Pendapat Soal Arah Suku Bunga
Risalah rapat menunjukkan adanya perubahan dibanding proyeksi sebelumnya. Kini, sembilan dari 19 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026, sementara sebelumnya mayoritas belum melihat kebutuhan untuk menaikkan suku bunga lagi tahun ini.
Meski Ketua The Fed Kevin Warsh tidak menyampaikan proyeksi pribadinya, risalah mengungkapkan adanya diskusi yang cukup intens mengenai risiko inflasi. Beberapa pejabat bahkan sempat mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada pertemuan Juni sebelum akhirnya memutuskan mempertahankan kebijakan saat ini.
Fokus utama The Fed tetap pada upaya memastikan inflasi kembali menuju target 2%, meski tekanan harga dinilai masih bertahan.
AI dan Energi Jadi Sumber Tekanan Inflasi Baru
Selain tarif perdagangan dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, risalah juga menyoroti faktor yang semakin sering muncul dalam diskusi kebijakan moneter, yaitu ledakan investasi AI.
The Fed memperkirakan belanja besar-besaran untuk pusat data, chip, serta kebutuhan listrik dapat mempertahankan tekanan inflasi dalam jangka pendek. Di sisi lain, sebagian pejabat meyakini investasi AI pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas dan membantu menekan biaya produksi, meski dampaknya diperkirakan baru akan terasa dalam beberapa tahun mendatang.
Staf The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi untuk 2026 dan 2027. Inflasi inti diperkirakan berada di kisaran 3,3%-3,4%, masih jauh di atas target bank sentral.
Investor Kini Menanti Data Inflasi Berikutnya
Penurunan Bitcoin terjadi setelah aset kripto tersebut sempat pulih mendekati US$64.000 berkat arus masuk ETF spot yang kembali positif. Namun, nada risalah yang lebih hawkish membuat investor kembali mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Sejumlah analis menilai hubungan antara pasar kripto dan kondisi makroekonomi kini semakin erat. Pergerakan harga Bitcoin tidak lagi hanya dipengaruhi sentimen industri kripto, tetapi juga perkembangan suku bunga, imbal hasil obligasi, harga energi, hingga kekuatan dolar AS.
Perhatian investor kini beralih ke data inflasi dan pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang akan dirilis sebelum pertemuan FOMC pada 28-29 Juli. Data tersebut diperkirakan menjadi penentu apakah The Fed benar-benar akan mengambil langkah pengetatan tambahan tahun ini.
Baca berita lainnya terkait perkembangan Bitcoin di halaman ini.
Arah kebijakan The Fed masih menjadi salah satu faktor terpenting yang memengaruhi pergerakan Bitcoin dan aset berisiko lainnya. Pantau terus perkembangan pasar global melalui News dan Artikel Tips Nanovest, serta temukan peluang investasi kripto, saham AS, dan emas digital langsung di aplikasi Nanovest.
Referensi +
- BeInCrypto: Bitcoin Reacts As Fed Minutes Reveal Split on Rate Hikes






