Pernah merasa gaji baru masuk beberapa hari, tetapi saldo rekening sudah terasa jauh lebih tipis?
Padahal kalau dipikir-pikir, tidak ada pembelian barang mahal. Tidak ada liburan mendadak. Tidak ada pengeluaran besar yang terasa mencolok. Namun entah bagaimana, uang seperti menghilang begitu saja. Tagihan bulanan memang sudah terbayar. Biaya makan dan transportasi juga masih dalam batas wajar. Tetapi menjelang akhir bulan, rekening kembali mendekati titik yang sama. Sulit menabung, apalagi berinvestasi.
Situasi seperti ini ternyata cukup umum terjadi. Bahkan tidak sedikit orang yang pendapatannya sudah meningkat dibanding beberapa tahun lalu, tetapi tetap merasa kesulitan mengatur keuangan. Kenaikan gaji yang seharusnya membuat kondisi finansial lebih nyaman justru sering diikuti kenaikan gaya hidup dan pengeluaran yang tidak disadari.
Akibatnya, penghasilan bertambah tetapi kondisi keuangan tidak banyak berubah. Masalahnya adalah setiap rupiah yang masuk belum memiliki tujuan yang jelas sejak awal.
Di sinilah banyak perencana keuangan mulai memperkenalkan metode yang disebut zero based budgeting. Metode ini bukan sekadar cara membuat anggaran bulanan. Zero based budgeting membantu seseorang memberikan “tugas” pada setiap rupiah yang dimiliki sebelum uang tersebut sempat digunakan untuk hal lain.
Banyak orang menerapkannya untuk membangun dana darurat, mempersiapkan dana pendidikan, merencanakan liburan, hingga mulai berinvestasi secara lebih konsisten. Kalau selama ini kamu sering bertanya ke mana perginya uang setiap bulan, mungkin metode ini layak untuk dicoba.
Apa Itu Zero Based Budgeting?
Secara sederhana, zero based budgeting adalah metode pengelolaan keuangan yang mengalokasikan seluruh penghasilan ke berbagai tujuan keuangan hingga tidak ada uang yang “menganggur”.
Konsep ini pertama kali populer dalam dunia bisnis dan manajemen anggaran. Namun dalam beberapa tahun terakhir, zero based budgeting juga semakin banyak digunakan untuk keuangan pribadi karena dianggap membantu seseorang lebih sadar terhadap arus keluar masuk uang.
Prinsip utamanya sebenarnya sangat sederhana:
Pendapatan – Alokasi = Rp0
Angka nol di sini sering disalahpahami. Banyak orang mengira zero based budgeting berarti menghabiskan seluruh gaji setiap bulan. Padahal bukan itu maksudnya. Yang dimaksud adalah seluruh penghasilan sudah diberikan tujuan yang jelas.
Misalnya:
- untuk kebutuhan sehari-hari;
- untuk dana darurat;
- untuk tabungan;
- untuk investasi;
- untuk hiburan;
- untuk dana liburan;
- dan untuk berbagai kebutuhan lainnya.
Jadi ketika gaji masuk, setiap rupiah sudah “bekerja” sesuai tugasnya masing-masing. Dengan cara ini, uang tidak dibiarkan mengalir tanpa arah dan peluang terjadinya pengeluaran impulsif biasanya menjadi lebih kecil.

Kenapa Banyak Orang Tetap Bokek Meski Gaji Naik?
Ada fenomena yang cukup menarik dalam kehidupan finansial banyak orang. Saat masih kuliah atau baru mulai bekerja, gaji Rp5 juta terasa besar. Ketika akhirnya berhasil mendapatkan penghasilan Rp10 juta, muncul target baru. Ketika gaji naik lagi, pengeluaran juga sering ikut naik.
Fenomena ini dikenal sebagai lifestyle inflation. Semakin besar penghasilan, semakin besar pula standar hidup yang dianggap normal. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, tetapi jika tidak dikendalikan, kenaikan pengeluaran bisa mengimbangi kenaikan pendapatan.
Selain itu, banyak orang juga terjebak pada pengeluaran kecil yang terlihat tidak signifikan. Secara terpisah mungkin tidak terasa besar. Namun jika dilakukan berulang selama satu bulan, jumlahnya bisa mencapai jutaan rupiah.
Baca juga: Ketahui Penyebab, Dampak Negatif Gaya Hidup Boros, dan Bagaimana Cara Menghindarinya
Masalah lain yang cukup sering terjadi adalah tidak adanya sistem budgeting yang jelas. Banyak orang hanya menyimpan uang di rekening lalu menggunakan sesuai kebutuhan. Akibatnya, sulit mengetahui berapa batas pengeluaran yang sebenarnya aman.
Tidak sedikit pula yang menjadikan investasi sebagai tujuan terakhir. Logikanya sering seperti ini: “Kalau akhir bulan masih ada sisa uang, baru saya investasi.” Sayangnya, bagi banyak orang, sisa tersebut sering tidak pernah ada.
Karena itu, salah satu kekuatan utama zero based budgeting adalah membantu menempatkan investasi sebagai prioritas sejak awal, bukan sebagai tujuan jika kebetulan ada uang tersisa.
Bagaimana Cara Kerja Zero Based Budgeting?
Cara kerja zero based budgeting sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan.
Misalnya kamu memiliki penghasilan Rp10 juta per bulan. Daripada membiarkan uang tersebut mengendap di rekening dan digunakan secara spontan, seluruh dana langsung dialokasikan ke berbagai kategori yang sudah ditentukan sebelumnya.
| Kategori | Nominal |
|---|---|
| Kebutuhan pokok | Rp4,000,000 |
| Cicilan | Rp1,000,000 |
| Dana darurat | Rp500,000 |
| Investasi | Rp1,500,000 |
| Transportasi | Rp500,000 |
| Hiburan | Rp500,000 |
| Dana liburan | Rp500,000 |
| Lain-lain | Rp1,500,000 |
Total: Rp10.000.000
Sisa: Rp0
Angka nol di sini bukan berarti uang habis, justru sebaliknya. Seluruh uang sudah memiliki tujuan yang jelas sehingga risiko digunakan untuk hal yang tidak direncanakan menjadi lebih kecil.
5 Langkah Menerapkan Zero Based Budgeting untuk Pemula
1. Hitung Seluruh Penghasilan Bulanan
Mulailah dengan mengetahui berapa total penghasilan yang benar-benar masuk setiap bulan. Jika memiliki penghasilan tambahan di luar gaji utama, masukkan juga ke dalam perhitungan.
2. Catat Semua Pengeluaran Wajib
Buat daftar pengeluaran yang hampir selalu muncul setiap bulan seperti:
- Biaya makan
- Transportasi
- Listrik
- Internet
- Cicilan
- Biaya pendidikan
- Kebutuhan rumah tangga
Langkah ini membantu membedakan kebutuhan dan keinginan.
3. Tentukan Prioritas Keuangan
Setiap orang memiliki tujuan berbeda. Ada yang sedang membangun dana darurat, menabung untuk rumah, hingga investasi jangka panjang. Tentukan prioritas sebelum mulai membagi anggaran.
4. Beri Tugas untuk Setiap Rupiah
Inilah inti dari zero based budgeting. Setiap rupiah harus memiliki fungsi yang jelas. Tidak ada uang yang dibiarkan tanpa tujuan.
5. Evaluasi di Akhir Bulan
Budget yang sempurna hampir tidak pernah terjadi pada bulan pertama. Karena itu, lakukan evaluasi rutin dan sesuaikan alokasi sesuai kebutuhan nyata.
Contoh Zero Based Budgeting untuk Karyawa
Gaji Rp5 Juta
- Kebutuhan pokok: Rp2.500.000
- Transportasi: Rp500.000
- Dana darurat: Rp300.000
- Investasi: Rp500.000
- Hiburan: Rp300.000
- Lain-lain: Rp900.000
Gaji Rp10 Juta
- Kebutuhan pokok: Rp4.000.000
- Cicilan: Rp1.000.000
- Dana darurat: Rp500.000
- Investasi: Rp1.500.000
- Hiburan: Rp500.000
- Liburan: Rp500.000
- Lain-lain: Rp2.000.000
Gaji Rp15 Juta
- Kebutuhan pokok: Rp5.000.000
- Cicilan: Rp2.000.000
- Dana darurat: Rp1.000.000
- Investasi: Rp3.000.000
- Liburan: Rp1.000.000
- Hiburan: Rp1.000.000
- Lain-lain: Rp2.000.000
Zero Based Budgeting vs Metode 50/30/20
| Aspek | Zero Based Budgeting | 50/30/20 |
|---|---|---|
| Tingkat Detail | Tinggi | Sedang |
| Fleksibilitas | Tinggi | Sedang |
| Kontrol Pengeluaran | Tinggi | Sedang |
| Cocok untuk | Yang ingin kontrol penuh | Pemula |
Metode 50/30/20 lebih sederhana karena hanya membagi pengeluaran ke tiga kelompok besar.
Sementara itu, zero based budgeting cocok bagi orang yang ingin mengetahui dengan lebih rinci ke mana uang mereka digunakan setiap bulan.
Kelebihan dan Kekurangan Zero Based Budgeting
Kelebihan
- Membantu lebih sadar terhadap pengeluaran.
- Mengurangi kebocoran keuangan.
- Membantu menabung secara konsisten.
- Memudahkan perencanaan investasi.
- Membantu mencapai tujuan keuangan lebih terarah.
Kekurangan
- Membutuhkan disiplin yang lebih tinggi.
- Perlu evaluasi secara rutin.
- Memerlukan pencatatan yang lebih detail dibandingkan metode budgeting sederhana.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Menggunakan Zero Based Budgeting
Meskipun konsep zero based budgeting terlihat sederhana, banyak orang yang tetap kesulitan mendapatkan hasil maksimal dari metode ini. Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan saat menyusun maupun menjalankan anggaran bulanan.
1. Tidak Menganggarkan Dana Darurat
Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah terlalu fokus pada pengeluaran rutin dan target keuangan jangka panjang, tetapi lupa mengalokasikan dana darurat. Padahal dalam kehidupan sehari-hari selalu ada kemungkinan muncul pengeluaran yang tidak direncanakan.
Sebelum mengejar target investasi yang agresif, pastikan dana darurat tetap menjadi salah satu pos penting dalam anggaran bulanan. Dengan begitu, kondisi keuangan akan lebih siap menghadapi situasi yang tidak terduga.
Baca juga: Dana Darurat: Cara Menghitung, Menentukan & Menyimpannya
2. Tidak Menyisihkan Investasi Sejak Awal
Banyak orang masih menempatkan investasi sebagai prioritas terakhir. Pola pikirnya biasanya sederhana: jika masih ada sisa uang di akhir bulan, baru digunakan untuk investasi. Sisa tersebut sering kali tidak pernah benar-benar ada. Selalu ada pengeluaran tambahan yang muncul dan menghabiskan dana yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun aset.
Salah satu kekuatan utama zero based budgeting adalah membantu memastikan investasi mendapatkan alokasi sejak awal. Dengan cara ini, investasi menjadi bagian dari rencana keuangan yang memang sudah dipersiapkan sejak hari pertama gaji masuk.
Baca juga: Cara Kelola Gaji Bulanan agar Tidak Habis dan Siap untuk Investasi
3. Membuat Budget Terlalu Ketat
Saat pertama kali mulai budgeting, tidak sedikit orang yang terlalu optimistis. Semua kategori pengeluaran dipangkas semaksimal mungkin demi mengejar target tabungan atau investasi yang lebih besar.
Budget yang terlalu ketat sering kali sulit dipertahankan lebih dari beberapa minggu, sehingga kemungkinan besar akan sulit dijalankan secara konsisten. Akibatnya, ketika budget mulai dilanggar, banyak orang justru kehilangan motivasi dan berhenti melakukan budgeting sama sekali.
4. Tidak Menganggarkan Hiburan dan Gaya Hidup
Menikmati hasil kerja juga merupakan bagian dari kehidupan yang sehat secara finansial. Makan bersama teman, menonton film, berlangganan platform streaming, atau sesekali berlibur bukanlah masalah selama porsinya sesuai kemampuan keuangan.
Zero based budgeting bukan tentang menghilangkan semua kesenangan, melainkan memastikan setiap pengeluaran memiliki tempat dan porsinya masing-masing.
Baca juga: 7 Cara Mengatur Dana Liburan agar Budget Aman dan Tidak Boros
5. Tidak Melakukan Review Budget Secara Berkala
Melakukan evaluasi setiap akhir bulan membantu melihat apakah alokasi yang dibuat sudah sesuai dengan kondisi nyata. Dari sini, kamu bisa mengetahui kategori mana yang sering melebihi anggaran, kategori mana yang justru terlalu besar, dan apakah target tabungan maupun investasi masih berjalan sesuai rencana.
Mulai Memberi Tujuan untuk Uangmu bersama Nanovest
Dalam zero based budgeting, setiap rupiah memiliki tugas dan tujuan yang jelas. Salah satunya bisa untuk membangun aset dan mencapai target keuangan jangka panjang melalui investasi.
Di Nanovest, kamu bisa berinvestasi saham Amerika, emas digital, dan aset kripto dalam satu aplikasi yang praktis. Dengan nominal yang terjangkau, kamu bisa mulai menjadikan investasi sebagai bagian dari budget bulanan, bukan menunggu kalau masih ada sisa uang di akhir bulan.
Yuk, mulai bangun kebiasaan finansial yang lebih sehat bersama Nanovest!
FAQ
Apa itu zero based budgeting?
Zero based budgeting adalah metode pengelolaan keuangan yang mengalokasikan seluruh pendapatan ke berbagai tujuan hingga tidak ada uang yang menganggur tanpa rencana.
Apakah zero based budgeting harus menghabiskan seluruh gaji?
Tidak. Angka nol berarti seluruh uang sudah dialokasikan, termasuk untuk tabungan dan investasi.
Apa bedanya zero based budgeting dan 50/30/20?
Zero based budgeting lebih detail karena setiap rupiah memiliki tujuan spesifik, sedangkan 50/30/20 membagi anggaran ke tiga kelompok besar.
Apakah zero based budgeting cocok untuk pemula?
Ya. Metode ini dapat membantu pemula memahami arus kas dan mengontrol pengeluaran dengan lebih baik.
Apakah investasi bisa dimasukkan ke dalam zero based budgeting?
Bisa. Bahkan investasi sebaiknya menjadi salah satu alokasi utama dalam metode ini.
Apa kelebihan zero based budgeting?
Membantu mengontrol pengeluaran, meningkatkan disiplin finansial, dan mempermudah pencapaian tujuan keuangan.
Apakah zero based budgeting efektif untuk mencapai financial freedom?
Banyak orang menggunakan metode ini sebagai bagian dari strategi membangun kebiasaan menabung dan berinvestasi secara konsisten menuju tujuan finansial jangka panjang.
Referensi +
- CFP Board Financial Planning Resources
- Kementerian Agama RI: Apa Hubungan Zero – Based Budgeting dan Automatic Adjustment?






