Futures saham Amerika Serikat bergerak melemah pada perdagangan Minggu malam, sementara harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan. Kondisi ini terjadi ketika investor mencermati ketidakpastian geopolitik terkait Iran serta menanti rilis data inflasi penting pada pekan ini.
Kontrak futures yang mengacu pada indeks S&P 500 turun sekitar 0,4%, sementara futures Nasdaq 100 melemah 0,6%. Di sisi lain, futures Dow Jones juga terkoreksi sekitar 0,3%. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih berhati-hati dalam mengambil posisi, terutama setelah munculnya risiko baru dari kawasan Timur Tengah.
Di pasar energi, harga minyak mencatat kenaikan seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik hampir 3% dan diperdagangkan di sekitar US$78 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent bergerak di atas US$81 per barel karena trader menilai risiko eskalasi konflik yang dapat memengaruhi jalur distribusi energi global.
Sentimen pasar ikut tertekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan kepada Iran terkait kemungkinan tindakan militer tambahan. Peringatan tersebut muncul apabila Teheran tidak mengambil langkah untuk mengendalikan kelompok sekutu yang beroperasi di Lebanon. Di saat yang sama, Wakil Presiden JD Vance membuka babak baru pembicaraan diplomatik dengan perwakilan Iran di Swiss.
Perhatian investor kini beralih ke rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Kamis mendatang. Data ini menjadi salah satu indikator inflasi utama yang diperhatikan oleh Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Ekonom memperkirakan core PCE, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, akan menunjukkan sedikit kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Data inflasi tersebut menjadi semakin penting setelah The Fed sebelumnya memberikan sinyal yang lebih hawkish. Sikap ini membuat pelaku pasar kembali mengevaluasi ekspektasi terhadap arah suku bunga ke depan. Jika tekanan inflasi masih bertahan, peluang pengetatan kebijakan moneter tambahan dapat kembali meningkat.
Kombinasi antara ketegangan geopolitik, lonjakan harga minyak, dan ketidakpastian inflasi membuat pasar saham AS berada dalam tekanan. Investor kemungkinan akan terus mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran, pergerakan harga energi, serta data ekonomi terbaru sebelum menentukan arah strategi investasi berikutnya.






