Harga emas mengalami tekanan setelah kekhawatiran terhadap inflasi kembali mendominasi sentimen pasar. Kondisi ini membuat optimisme awal terkait perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran belum cukup kuat untuk menopang harga logam mulia.
Emas sempat turun hingga 1,8% ke kisaran US$4.115 per ons, menghapus kenaikan tipis yang terjadi pada sesi sebelumnya. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran bahwa tekanan harga konsumen masih akan bertahan, terutama setelah konflik berkepanjangan di Timur Tengah memengaruhi harga energi dan biaya global.
Inflasi yang tetap tinggi meningkatkan kemungkinan bank sentral mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas, karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika suku bunga tinggi, investor cenderung beralih ke instrumen lain yang menawarkan return lebih menarik.
Nada kebijakan moneter yang lebih hawkish dari Federal Reserve juga ikut menekan harga emas. Sikap The Fed yang masih berhati-hati terhadap inflasi membuat ekspektasi penurunan suku bunga semakin melemah. Di saat yang sama, dolar AS bergerak menguat, sehingga membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain.
Sejumlah analis menilai penurunan harga emas lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed. Data ekonomi Amerika Serikat yang masih cukup kuat turut memperkuat pandangan bahwa bank sentral belum akan terburu-buru memangkas suku bunga.
Beberapa lembaga keuangan besar juga mulai menurunkan proyeksi harga emas. Deutsche Bank memangkas perkiraan harga emas untuk kuartal ketiga menjadi US$4.300 per ons dan memperkirakan harga berada di sekitar US$4.800 pada akhir tahun. Goldman Sachs sebelumnya juga menurunkan proyeksi harga emas akhir tahun menjadi US$4.900 per ons karena memperkirakan tidak ada pemangkasan suku bunga tahun ini.
Meski begitu, perkembangan negosiasi damai AS-Iran masih memberikan sedikit dukungan bagi pasar. Pernyataan positif dari pejabat kedua negara menunjukkan adanya kemajuan, meskipun masih banyak tantangan yang perlu diselesaikan.
Ke depan, investor akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat, terutama indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi. Data tersebut berpotensi menjadi penentu arah harga emas berikutnya. Jika inflasi tetap tinggi, tekanan terhadap emas bisa berlanjut. Namun, jika data menunjukkan perlambatan, peluang pemulihan harga emas dapat kembali terbuka.






