Nvidia dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal pertama tahun 2026 pada 20 Mei mendatang. Pengumuman ini menjadi salah satu momen yang paling dinantikan pasar karena perusahaan tersebut masih memegang peran penting dalam industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Meski demikian, dominasi Nvidia kini mulai mendapat tantangan serius dari berbagai perusahaan teknologi besar yang terus mengembangkan chip AI mereka sendiri.
Persaingan di sektor prosesor AI semakin memanas setelah perusahaan Cerebras resmi melantai di bursa saham melalui IPO pekan lalu. Cerebras menawarkan pendekatan berbeda dibanding Nvidia dengan desain chip yang diklaim mampu memberikan performa AI lebih cepat dan efisien untuk kebutuhan pemrosesan model besar.
Tidak hanya Cerebras, AMD juga tengah menyiapkan sistem server rack-scale terbaru yang dijadwalkan meluncur tahun ini. Di sisi lain, raksasa teknologi seperti Amazon dan Google terus memperluas bisnis chip AI internal mereka untuk mengurangi ketergantungan pada Nvidia.
Amazon sebelumnya mengungkapkan bahwa bisnis chip AI miliknya kini memiliki annual revenue run rate lebih dari US$20 miliar dengan pertumbuhan tiga digit secara tahunan. Amazon juga bekerja sama dengan OpenAI melalui AWS untuk menyediakan kapasitas besar bagi chip Trainium mereka. Selain itu, Anthropic disebut akan menggunakan chip Trainium generasi saat ini dan mendatang dalam jumlah sangat besar.
Google juga memperkenalkan chip terbaru mereka dalam ajang Google I/O 2026, yakni TPU 8i dan TPU 8t. TPU 8i difokuskan untuk menjalankan aplikasi AI, sedangkan TPU 8t dirancang khusus untuk melatih model AI skala besar. Google juga dikabarkan menjalin kerja sama jangka panjang dengan Anthropic terkait penggunaan chip TPU mereka.
Di tengah persaingan tersebut, Nvidia juga menghadapi tantangan besar di pasar China. CEO Nvidia Jensen Huang menyebut pangsa pasar perusahaan di China kini praktis turun menjadi nol. Pernyataan tersebut muncul setelah pembatasan ekspor chip AI dari Amerika Serikat dan meningkatnya pengembangan chip domestik oleh perusahaan-perusahaan China.
Meski menghadapi tekanan kompetisi dan geopolitik, performa saham Nvidia masih tergolong kuat sepanjang tahun ini. Saham perusahaan tercatat naik lebih dari 21% sejak awal tahun dan melonjak sekitar 74% dalam 12 bulan terakhir.
Untuk kuartal pertama 2026, Nvidia diperkirakan mencatat pendapatan sekitar US$78,75 miliar dengan laba per saham sebesar US$1,76. Bisnis data center diproyeksikan tetap menjadi penyumbang pendapatan terbesar perusahaan, terutama dari segmen komputasi AI dan jaringan.
Selain itu, Nvidia juga memperkenalkan sejumlah produk baru pada event GTC 2026, termasuk Groq 3 language processing unit (LPU) dan server berbasis CPU. Jensen Huang bahkan optimistis lini chip Grace Blackwell dan Vera Rubin milik Nvidia berpotensi menghasilkan penjualan hingga US$1 triliun di masa depan.





