Harga minyak mentah kembali melonjak dan menembus level US$100 per barel setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan pidato resmi terkait perkembangan konflik dengan Iran. Di sisi lain, pasar kripto turut merespons sentimen ini dengan pelemahan, di mana Bitcoin tercatat mengalami penurunan selama dan setelah pidato berlangsung.
Dalam pernyataannya dari Gedung Putih, Trump mengungkapkan bahwa operasi militer AS yang dinamakan “Operation Epic Fury” sudah berada di tahap akhir. Ia mengklaim bahwa sejumlah target utama telah berhasil dicapai, termasuk melemahkan kemampuan nuklir, angkatan laut, serta infrastruktur persenjataan Iran seperti drone dan rudal.
Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat berada di jalur untuk menyelesaikan seluruh tujuan militernya dalam waktu dekat. Meski demikian, ia memberikan sinyal bahwa tekanan terhadap Iran belum akan mereda dalam waktu singkat. Bahkan, dalam dua hingga tiga minggu ke depan, serangan disebut akan ditingkatkan secara signifikan jika diperlukan.
Ketegangan geopolitik ini kembali memicu volatilitas di pasar global. Dalam beberapa bulan terakhir, konflik di Timur Tengah memang menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga aset, mulai dari saham hingga komoditas energi dan kripto. Sempat mereda setelah adanya indikasi bahwa konflik akan segera berakhir, harga minyak kini kembali naik mengikuti eskalasi terbaru.
Saat ini, harga minyak mentah tercatat berada di kisaran US$103 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, terutama akibat blokade di Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20% distribusi minyak dunia.
Sementara itu, Bitcoin mengalami tekanan dan turun ke kisaran US$66.000. Pergerakan ini menunjukkan bahwa aset kripto masih sangat sensitif terhadap sentimen makro dan geopolitik, di mana investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian.
Meski situasi masih memanas, peluang penyelesaian konflik tetap terbuka. Trump menyebut bahwa komunikasi antara kedua pihak masih berlangsung, dengan masing-masing membawa tuntutan yang cukup signifikan. Amerika Serikat menekan Iran untuk menghentikan program nuklirnya, membuka kembali jalur perdagangan internasional, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan.
Di sisi lain, Iran menginginkan penghentian konflik secara permanen, kompensasi atas kerugian yang terjadi, serta penarikan pasukan militer AS dari wilayah tersebut.
Ke depan, arah pergerakan pasar akan sangat ditentukan oleh perkembangan negosiasi ini. Jika ketegangan mereda dan Selat Hormuz kembali dibuka, harga energi berpotensi turun dan sentimen pasar bisa kembali pulih. Namun, selama ketidakpastian masih tinggi, volatilitas diperkirakan akan tetap menjadi tema utama di berbagai kelas aset, termasuk kripto.






