Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dijadwalkan menyampaikan pidato pada Rabu malam waktu Washington untuk memberikan perkembangan terbaru terkait konflik dengan Iran. Pernyataan ini muncul setelah Trump mengindikasikan bahwa keterlibatan militer AS berpotensi berakhir dalam waktu dekat, dengan klaim bahwa sebagian besar tujuan operasi telah tercapai.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa AS dapat mengakhiri konflik dalam dua hingga tiga minggu. Ia menegaskan bahwa salah satu target utama, yaitu mencegah Iran memiliki senjata nuklir, telah berhasil dicapai. Oleh karena itu, menurutnya, tidak ada alasan kuat bagi AS untuk terus melanjutkan operasi militer dalam jangka panjang.
Namun, kondisi di pasar global menunjukkan dinamika yang berbeda. Fokus utama investor saat ini bukan hanya pada kapan konflik akan berakhir, melainkan kapan Selat Hormuz—jalur vital bagi distribusi minyak dunia—dapat kembali dibuka. Jalur ini memiliki peran krusial karena sekitar 20% pasokan minyak global melewati wilayah tersebut.
Sepanjang bulan Maret, harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 55%, mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak kontrak tersebut diperkenalkan pada 1988. Di Amerika Serikat, harga bahan bakar juga mengalami lonjakan signifikan, dengan rata-rata harga bensin mencapai lebih dari US$4 per galon. Sementara itu, harga diesel bahkan menembus US$5, yang berdampak pada meningkatnya biaya logistik dan harga barang secara luas.
Trump menyatakan bahwa tanggung jawab untuk membuka kembali Selat Hormuz seharusnya berada di tangan negara-negara lain yang bergantung pada jalur tersebut. Hingga saat ini, Uni Emirat Arab menjadi satu-satunya negara yang menyatakan kesediaannya untuk terlibat dalam upaya pembukaan jalur laut tersebut. Di sisi lain, Bahrain tengah mengupayakan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk membentuk misi maritim khusus. Sementara itu, Iran menunjukkan skeptisisme terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan AS.
Ketidakpastian ini menciptakan kesenjangan antara pernyataan politik dan realitas di lapangan. Meskipun Trump menggambarkan konflik sebagai hampir selesai, akses terhadap Selat Hormuz masih terbatas. Tanpa kejelasan mengenai pembukaan jalur tersebut, volatilitas harga energi diperkirakan akan terus berlanjut, bahkan setelah potensi gencatan senjata.
Pasar keuangan pun mencerminkan kondisi ini. Harga Bitcoin tercatat relatif stabil di kisaran US$67.900, dengan kenaikan moderat sekitar 2,2% sepanjang bulan. Sementara itu, pergerakan harga aset secara keseluruhan masih sangat dipengaruhi oleh fluktuasi energi. Selama distribusi minyak global belum kembali normal, ketidakpastian pasar diperkirakan akan tetap tinggi.






