Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi memberikan dampak besar terhadap perekonomian global, terutama jika harga energi terus meningkat dan bertahan tinggi dalam jangka waktu lama. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam laporan terbarunya menyebutkan bahwa kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus mendorong kenaikan inflasi, khususnya di Amerika Serikat.
Dalam proyeksi terbarunya, OECD menaikkan perkiraan inflasi Amerika Serikat pada 2026 menjadi 4,2%, naik signifikan dari sebelumnya 3%. Angka ini bahkan jauh di atas target inflasi Federal Reserve, yang selama ini berada di kisaran 2%. Kenaikan ini terutama dipicu oleh tekanan harga energi yang meningkat akibat konflik yang melibatkan kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, ekonomi global sempat menunjukkan ketahanan yang cukup baik meskipun menghadapi berbagai tekanan, termasuk kebijakan tarif perdagangan. OECD bahkan sempat mempertimbangkan untuk menaikkan proyeksi pertumbuhan global berkat dorongan dari investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) serta tren suku bunga yang lebih rendah. Namun, situasi berubah setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gangguan pada jalur distribusi energi global.
Salah satu dampak terbesar berasal dari terganggunya Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi rute sekitar 20% pasokan minyak dunia, serta perdagangan gas alam dan pupuk. Gangguan pada jalur ini menyebabkan ketidakpastian pasokan energi global, yang pada akhirnya berdampak langsung pada kenaikan harga.
OECD menyebut bahwa saat ini ekonomi global berada di antara dua kekuatan yang saling bertolak belakang: di satu sisi, ketahanan ekonomi yang cukup kuat, dan di sisi lain, tekanan dari konflik geopolitik yang sulit diprediksi durasi dan skalanya.
Untuk tahun 2026, OECD masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan global dengan asumsi harga energi mulai turun dalam waktu dekat. Namun, jika harga energi tetap tinggi, pertumbuhan ekonomi global berpotensi melambat hingga sekitar 2,6%, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Di sisi lain, inflasi global diperkirakan akan meningkat. Negara-negara G20 diproyeksikan mengalami inflasi rata-rata sekitar 4% tahun ini. Beberapa kawasan seperti Eropa, Inggris, dan Jepang juga mengalami revisi kenaikan inflasi, meskipun dengan tingkat yang berbeda-beda.
Meski demikian, OECD memperkirakan tekanan inflasi ini bersifat sementara dan dapat mereda pada 2027 jika harga energi kembali stabil. Oleh karena itu, bank sentral diperkirakan tidak perlu melakukan kenaikan suku bunga secara agresif, selama ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Ke depan, OECD menekankan pentingnya kebijakan yang mendorong efisiensi energi domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil. Langkah ini dinilai krusial untuk mengurangi dampak dari ketegangan geopolitik di masa depan sekaligus menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.






