Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menyentuh sekitar US$101 per barel pada Minggu, mencatat kenaikan sekitar 55% hanya dalam waktu sepuluh hari. Lonjakan ini menjadi salah satu pergerakan tercepat dalam sejarah pasar energi global. Kenaikan harga minyak tersebut juga berdampak pada pasar keuangan yang lebih luas. Indeks S&P 500 bahkan sempat turun ke level terendah dalam 10 minggu terakhir pada perdagangan Jumat sebelumnya.
Di tengah kondisi tersebut, Bitcoin sempat menunjukkan respons positif. Harga aset kripto terbesar di dunia itu melonjak sekitar 16% antara 28 Februari hingga pertengahan minggu berikutnya. Namun, reli tersebut tidak bertahan lama karena seluruh kenaikan akhirnya terkoreksi kembali pada akhir pekan.
Situasi geopolitik yang memanas, terutama konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, kini menjadi perhatian utama para pelaku pasar. Banyak trader mempertanyakan apakah ketidakpastian akibat konflik tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga Bitcoin. Lonjakan harga minyak yang bertahan lama berpotensi memicu inflasi, menekan daya beli masyarakat, dan memperburuk kondisi ekonomi global yang saat ini juga diwarnai dengan melemahnya pasar tenaga kerja di Amerika Serikat.
Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa Bitcoin terkadang mendapatkan dorongan positif setelah lonjakan harga minyak yang signifikan. Namun efek tersebut biasanya tidak terjadi secara instan, melainkan berkembang secara bertahap selama beberapa minggu.
Contohnya terjadi pada Juni 2025 ketika harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak sekitar 15% dalam satu minggu. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada awalnya harga Bitcoin justru sempat turun sekitar 8%, namun dalam empat minggu berikutnya aset tersebut berhasil pulih dan mencatat kenaikan sekitar 10%.
Pola serupa juga terlihat pada beberapa periode sebelumnya. Pada awal 2022, ketika harga minyak melonjak setelah invasi Rusia ke Ukraina, Bitcoin sempat naik tajam dalam dua hari pertama sebelum kembali terkoreksi. Namun dalam beberapa minggu berikutnya, harga Bitcoin kembali menguat secara signifikan. Hal yang sama terjadi pada akhir 2020 ketika harga minyak naik tajam seiring optimisme peluncuran vaksin COVID-19. Saat itu Bitcoin ikut mencatat reli besar dalam waktu kurang dari satu bulan.
Berdasarkan beberapa kejadian tersebut, Bitcoin rata-rata mencatat kenaikan sekitar 20% dalam empat minggu setelah harga minyak melonjak lebih dari 15% dalam waktu singkat. Jika pola historis tersebut kembali terulang, harga Bitcoin berpotensi mencapai sekitar US$79.200 pada akhir Maret.
Meski demikian, hubungan antara harga minyak dan Bitcoin tidak selalu konsisten. Dalam beberapa tahun terakhir, pergerakan Bitcoin juga semakin dipengaruhi oleh kinerja saham teknologi, terutama indeks Nasdaq 100. Oleh karena itu, arah pergerakan Bitcoin dalam waktu dekat kemungkinan besar akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik serta kondisi pasar global secara keseluruhan.






