Harga Minyak Melonjak Tajam, Konflik Timur Tengah Picu Risiko Pasokan Global
Harga minyak mentah dunia melonjak signifikan pada pembukaan perdagangan awal pekan setelah konflik di Timur Tengah semakin memanas dan mulai mengancam infrastruktur energi strategis kawasan. Pelaku pasar langsung merespons eskalasi tersebut dengan menaikkan harga kontrak berjangka, mencerminkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan global.
Kontrak Brent sebagai acuan internasional sempat melonjak sekitar 13% hingga menembus level US$82 per barel, tertinggi sejak Januari 2025. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik hampir 10% dan kembali diperdagangkan di atas US$70 per barel. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer yang melibatkan Iran serta negara-negara Barat dan sekutunya.
Ketegangan bermula dari serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah target di Iran. Situasi kemudian berkembang cepat setelah Iran melakukan serangan balasan, termasuk terhadap aset militer serta infrastruktur sipil dan energi di beberapa negara Teluk seperti Bahrain dan Uni Emirat Arab.
Pasar energi sangat mencermati kondisi di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap harinya. Diperkirakan sekitar 15 juta barel minyak dan kondensat melintasi selat tersebut setiap hari. Laporan terbaru menunjukkan adanya serangan terhadap kapal tanker serta penghentian sementara pengiriman minyak oleh sejumlah perusahaan besar. Lalu lintas kapal di kawasan itu dilaporkan hampir terhenti.
Jika gangguan berlanjut, sebagian pasokan memang dapat dialihkan melalui jaringan pipa regional. Namun kapasitasnya diperkirakan hanya mampu menampung sekitar 5–7 juta barel per hari, sehingga berpotensi menyisakan jutaan barel minyak yang terhambat masuk ke pasar global. Risiko inilah yang mendorong lonjakan premi risiko geopolitik pada harga minyak.
Selain minyak, emas juga menguat lebih dari 2% karena investor mencari aset safe haven. Dolar AS turut menguat tipis, sementara saham perusahaan energi besar di kawasan Timur Tengah mengalami kenaikan seiring ekspektasi harga minyak yang lebih tinggi.
Meski OPEC+ dalam pertemuan terjadwalnya memutuskan menaikkan kuota produksi sebesar 220.000 barel per hari, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk meredam tekanan harga. Analis menilai bahwa saat ini pasar lebih fokus pada kelancaran distribusi fisik minyak dibandingkan kapasitas produksi di atas kertas.
Jika arus pengiriman melalui Selat Hormuz tidak segera pulih, sejumlah lembaga memperkirakan harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel dalam beberapa pekan ke depan. Dalam jangka pendek, arah pasar energi akan sangat ditentukan oleh perkembangan situasi geopolitik dan respons lanjutan dari Iran terhadap konflik yang terus meningkat.






