Harga Ether (ETH) kembali menunjukkan upaya pemulihan setelah berhasil merebut kembali level psikologis US$2.100. Kenaikan ini terjadi usai tekanan jual ekstrem yang sempat memangkas harga ETH hingga 43% hanya dalam kurun sembilan hari. Koreksi tajam tersebut membawa aset kripto terbesar kedua ini menyentuh titik terendah di sekitar US$1.750—level terendahnya sejak April 2025. Meski rebound sekitar 22% terjadi setelah fase kapitulasi jangka pendek itu, sentimen di pasar derivatif masih memperlihatkan kehati-hatian tinggi dari para pelaku pasar.
Data kontrak berjangka menunjukkan premi futures ETH hanya berada di kisaran 3% dibandingkan harga spot. Angka ini masih di bawah ambang netral 5% yang biasanya mencerminkan pasar sehat. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pelaku pasar belum memiliki keyakinan kuat terhadap keberlanjutan reli dalam waktu dekat. Bahkan selama sebulan terakhir, sentimen pesimistis ini cenderung stagnan meskipun harga sempat mendekati area US$1.800. Tanpa dorongan minat risiko baru dari investor, tekanan bearish berpotensi tetap mendominasi pergerakan jangka pendek.
Secara kinerja tahunan, ETH juga terlihat tertinggal dibandingkan total kapitalisasi pasar kripto. Sepanjang 2026, performanya berada sekitar 9% di bawah pertumbuhan pasar secara keseluruhan. Hal ini memicu spekulasi bahwa sebagian arus modal mulai bergeser ke ekosistem lain. Namun jika dilihat lebih luas, perlambatan minat terhadap aplikasi terdesentralisasi (DApps) sebenarnya tidak hanya terjadi di Ethereum, melainkan di berbagai jaringan blockchain.
Meski begitu, Ethereum masih mempertahankan dominasinya dalam metrik fundamental. Jaringan ini tetap memimpin dalam Total Value Locked (TVL) serta pendapatan biaya transaksi, terutama bila ekosistem layer-2 ikut diperhitungkan. Setoran dana di base layer Ethereum mewakili sekitar 58% dari total industri blockchain, bahkan melampaui 65% jika digabung dengan jaringan seperti Arbitrum, Optimism, dan Base. Skala ini menunjukkan bahwa aktivitas likuiditas Ethereum masih jauh melampaui pesaingnya.
Di sisi lain, tantangan struktural masih membayangi. Salah satu sorotan utama datang dari kebijakan subsidi skalabilitas melalui solusi layer-2 berbasis optimistic rollups. Vitalik Buterin menilai pendekatan tersebut perlu dievaluasi ulang dengan fokus lebih besar pada peningkatan kapasitas base layer. Ia juga menyoroti bahwa jalur desentralisasi layer-2 lebih kompleks dari perkiraan awal, terutama karena ketergantungan pada bridge multisignature yang belum sepenuhnya memenuhi standar keamanan Ethereum.
Faktor lain yang membebani sentimen adalah pertumbuhan suplai ETH. Narasi deflasi yang sebelumnya menjadi daya tarik kini melemah akibat turunnya aktivitas jaringan. Mekanisme burn bergantung pada penggunaan jaringan; ketika aktivitas menurun, suplai justru bertambah. Dalam 30 hari terakhir, laju pertumbuhan tahunan suplai ETH mencapai sekitar 0,8%, meningkat signifikan dibandingkan periode tahun lalu yang nyaris nol.
Dengan kombinasi ketidakpastian makroekonomi, pelemahan aktivitas onchain, serta skeptisisme di pasar derivatif, reli berkelanjutan ETH dalam jangka pendek dinilai masih membutuhkan katalis yang lebih kuat.






