Reli Tajam Berujung Koreksi
Saham Intel Corporation (NASDAQ: INTC) mengalami tekanan hebat setelah anjlok lebih dari 17% pada perdagangan Jumat, mematahkan reli kuat yang sebelumnya mengangkat saham ini hampir 50% menjelang laporan keuangan kuartal keempat. Koreksi tajam ini menandai kembalinya pasar pada satu kesimpulan utama: jalan pemulihan Intel tidak linier dan jauh dari kata sederhana.
Lonjakan harga saham Intel dalam beberapa bulan terakhir didorong oleh harapan besar bahwa raksasa semikonduktor Silicon Valley tersebut akhirnya menemukan momentum kebangkitan setelah bertahun-tahun tertinggal dari para pesaingnya.
Tiga Katalis Besar yang Mengangkat Saham
Optimisme investor terhadap Intel menguat berkat kombinasi beberapa faktor. Dukungan investasi dari pemerintah Amerika Serikat serta Nvidia memberi sentimen positif pada awal 2025. Selain itu, saham Intel terdorong oleh tiga katalis utama: unggahan media sosial bernada positif dari Presiden Donald Trump, meningkatnya optimisme Wall Street terhadap permintaan chip komputasi tradisional untuk pusat data AI, serta peluncuran chip Panther Lake berbasis proses manufaktur terbaru 18A.
Kombinasi sentimen tersebut mendorong saham Intel ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Namun, reli yang terlalu cepat justru meningkatkan ekspektasi pasar secara signifikan.
Laporan Keuangan Tak Cukup “Sempurna”
Masalah muncul ketika realitas keuangan Intel mulai diperhitungkan. Meski kinerja kuartal keempat melampaui ekspektasi, proyeksi pendapatan dan laba kuartal pertama justru berada di bawah perkiraan pasar. Kondisi ini memicu aksi jual besar-besaran, mengingat saham telah naik terlalu jauh sebelum laporan dirilis.
Analis Bernstein, Stacy Rasgon, menyebut reli Intel menjelang laporan keuangan nyaris menyerupai fenomena saham berbasis hype. Ia menegaskan bahwa lonjakan tajam menuju laporan laba menuntut hasil yang nyaris tanpa cela, sesuatu yang gagal dipenuhi Intel.
Kendala Suplai Internal Jadi Titik Lemah
Masalah mendasar Intel kembali mencuat: kendala suplai internal. Perusahaan dilaporkan kesulitan memenuhi permintaan chip server akibat keterbatasan dari fasilitas manufakturnya sendiri. Menurut Rasgon, kondisi ini mengindikasikan dua persoalan serius, yakni potensi ketidakefisienan penggunaan alat produksi serta kemungkinan Intel meremehkan besarnya lonjakan permintaan CPU server untuk pusat data AI.
CEO Intel, Lip-Bu Tan, menyatakan perusahaan tengah berupaya meningkatkan efisiensi dan output pabrik. Namun, pasar menilai upaya tersebut belum cukup untuk menjembatani kesenjangan antara narasi pemulihan dan realitas operasional jangka pendek.
Tekanan Kompetisi dan Beban Foundry
Di sisi bisnis inti, Intel terus kehilangan pangsa pasar CPU untuk PC dan server kepada rival seperti AMD dan Arm. Kehilangan ini memperumit upaya pembenahan bisnis manufaktur, mengingat tingginya biaya operasional segmen foundry yang sulit dibenarkan tanpa kehadiran pelanggan eksternal berskala besar.
Meski beredar rumor kerja sama dengan Apple, Intel hingga kini belum memiliki klien besar yang mampu menopang bisnis foundry secara berkelanjutan. Sementara itu, belanja besar untuk mengejar ketertinggalan teknologi manufaktur diperkirakan akan terus menekan profitabilitas perusahaan.
Pemulihan Bukan Soal Satu atau Dua Kuartal
HSBC menilai cerita Intel bukanlah “clean turnaround”. Analis Frank Lee menyebut transformasi bisnis foundry Intel akan memakan waktu panjang. Intel sendiri menyatakan bahwa pelanggan untuk proses manufaktur 14A baru berpotensi diumumkan pada paruh kedua 2026 atau awal 2027, dengan dampak pendapatan yang kemungkinan baru terlihat pada 2028 atau 2029.
Pandangan ini sejalan dengan penilaian Bernstein yang menyebut pemulihan manufaktur Intel sebagai proses jangka sangat panjang, bahkan berpotensi memakan waktu hingga satu dekade.
Koreksi tajam saham Intel menjadi pengingat bahwa optimisme pasar tidak selalu sejalan dengan kecepatan eksekusi bisnis. Di tengah euforia AI dan dukungan geopolitik, Intel masih bergulat dengan tantangan struktural yang kompleks, mulai dari efisiensi manufaktur hingga tekanan kompetisi.
Bagi investor, Intel saat ini bukan sekadar taruhan atas satu laporan keuangan, melainkan ujian kesabaran terhadap transformasi jangka panjang yang mahal dan penuh risiko.






