Alibaba Tumbuh Cepat di AI dan Cloud, Tapi Laba Tertekan Akibat Perang Quick Commerce
Alibaba kembali menarik perhatian pasar global setelah merilis laporan pendapatan kuartal fiskal terbarunya. Meski saham perusahaan telah melonjak lebih dari 80% sepanjang tahun, laporan terbaru justru memperlihatkan paradoks: pertumbuhan pendapatan dan akselerasi bisnis AI di satu sisi, tetapi laba yang tergerus dalam jumlah besar di sisi lainnya.
Investor kini menghadapi sebuah dilema: apakah Alibaba sedang membangun momentum baru menuju dominasi AI dan cloud, atau justru memasuki fase investasi berat yang berisiko menekan profitabilitas lebih lama dari yang diperkirakan.
Pada kuartal ini, Alibaba mencatat pendapatan 247,8 miliar yuan atau sekitar US$34,9 miliar, sedikit di atas ekspektasi analis. Jika pendapatan dari bisnis-bisnis yang dilepas tahun ini dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan sebenarnya mencapai 15%, sebuah capaian yang cukup kuat mengingat konsumsi domestik Tiongkok masih belum sepenuhnya pulih.
Namun pusat perhatian pasar bukanlah pendapatan, melainkan laba yang menurun drastis. Laba bersih Alibaba merosot 71% menjadi 4,36 yuan per ADS, jauh di bawah konsensus 6,03 yuan. Penurunan mendalam ini terutama disebabkan oleh kerugian di segmen quick commerce serta meningkatnya biaya investasi untuk pengembangan teknologi kecerdasan buatan, model bahasa besar, dan infrastruktur cloud yang menjadi fokus utama perusahaan.
Jika ada satu sektor yang bersinar pada laporan ini, maka itu adalah bisnis cloud. Penjualan Alibaba Cloud tumbuh 34% secara tahunan, melampaui perkiraan analis yang hanya memproyeksikan pertumbuhan sekitar 27,8%.
Lonjakan ini mencerminkan dua dinamika penting: kebutuhan AI di Tiongkok meningkat tajam dan skala Alibaba sebagai penyedia cloud terbesar di negara tersebut memberikan keunggulan yang semakin sulit disaingi.
CEO Eddie Wu menegaskan bahwa semakin banyak perusahaan memilih vendor yang memiliki “full-stack AI,” mulai dari infrastruktur, model dasar hingga aplikasi cloud. Dalam konteks ini, model bahasa besar Alibaba, Qwen, menjadi katalis baru setelah mencatat lebih dari 10 juta unduhan hanya dalam satu minggu pertama.
Alibaba bahkan menyatakan bahwa total investasi AI perusahaan akan melampaui target US$53 miliar lebih cepat dari jadwal karena meningkatnya permintaan.
Namun pertumbuhan yang agresif di sektor teknologi tersebut kontras dengan tekanan di lini bisnis lain. Segmen quick commerce, yang berfokus pada pengiriman cepat dengan diskon dan promosi masif, tumbuh pesat hingga 60% dalam setahun.
Meski demikian, pertumbuhan ini dibayar dengan harga mahal. Pertarungan melawan JD.com dan Meituan mendorong Alibaba untuk menggelontorkan dana besar dalam bentuk subsidi pengiriman, pengembangan infrastruktur logistik, dan promosi pengguna, sehingga menghantam margin perusahaan.
CFO Toby Xu mengisyaratkan bahwa perusahaan mungkin mulai mengurangi skala investasi di segmen ini, tetapi tetap akan menyesuaikan strategi secara dinamis mengikuti situasi pasar. Artinya, perang pengiriman cepat ini masih jauh dari selesai.
Respons analis terhadap laporan pendapatan Alibaba bervariasi tetapi cenderung optimis. CFRA tetap mempertahankan rekomendasi beli meskipun menurunkan target harga dari 212 menjadi 196, sementara Morningstar mempertahankan estimasi nilai wajar 258.
Analis mengakui bahwa pasar tampaknya masih meremehkan kemampuan eksekusi manajemen dan potensi jangka panjang bisnis cloud Alibaba. Namun beberapa kekhawatiran juga muncul, termasuk perlambatan yang diproyeksikan dalam pertumbuhan cloud dan potensi menurunnya pendapatan dari customer management revenue pada kuartal Desember mendatang, yang sebagian dipicu oleh kendala pasokan komponen teknologi tinggi.
Di pasar saham, Alibaba diperdagangkan di sekitar level 159 dengan kenaikan sekitar 1% pada sesi perdagangan pekan ini. Meskipun reli harga 80% tahun ini menarik perhatian investor global, saham BABA tetap berada di bawah level tertinggi 52 minggu di 192,67.
Jika saham mampu menembus garis moving average 50 hari, ada peluang pola double-bottom mulai terbentuk, memberikan indikasi teknikal bullish bagi trader jangka menengah.
Pada akhirnya, Alibaba sedang berada di persimpangan strategis yang menentukan masa depan perusahaan. Di satu sisi, pertumbuhan AI dan cloud memberikan momentum luar biasa yang dapat menempatkan Alibaba sebagai pusat kekuatan teknologi terbesar di Asia.
Namun di sisi lain, tekanan margin akibat perang quick commerce dan investasi teknologi yang sangat besar membuat profitabilitas jangka pendek terlihat rapuh. Tahun 2025 akan menjadi tahun penting bagi Alibaba: apakah perusahaan ini akan muncul sebagai raksasa AI yang sesungguhnya atau menghadapi tantangan baru yang memaksa evaluasi ulang arah strategisnya.






