Raksasa manajer aset global BlackRock Inc. kembali berada di tengah pusaran politik Amerika Serikat. Dengan dana kelolaan lebih dari $12,5 triliun, BlackRock menegaskan bahwa misi utamanya adalah memenuhi kewajiban fidusia kepada klien, bukan menjadi arena tarik-menarik kepentingan politik antara Republik dan Demokrat.
Dalam sebuah memo yang dikirim kepada 43 pejabat negara bagian termasuk bendahara, auditor, dan pengelola dana publik BlackRock memperingatkan bahwa baik kubu kanan maupun kiri semakin mempolitisasi pengelolaan dana pensiun publik, sebuah tren yang menurut mereka berisiko merugikan jutaan pensiunan di masa depan.
Tekanan dari Dua Arah: GOP vs Demokrat
Kontroversi ini bermula dari 26 anggota Partai Republik yang pada Juli lalu mengirim surat mempertanyakan apakah BlackRock terlalu fokus pada isu perubahan iklim. Mereka menuding bahwa perhatian berlebih pada ESG (environmental, social, governance) bisa mengorbankan imbal hasil investasi.
Tak lama berselang, 17 pejabat Demokrat membalas dengan surat tandingan. Mereka justru menilai perubahan iklim adalah “risiko tidak terkelola” yang harus lebih diperhatikan oleh investor besar seperti BlackRock.
Artinya, BlackRock terjepit di tengah dua kubu politik yang sama-sama ingin memengaruhi arah kebijakan investasi dana pensiun.
Sikap Tegas BlackRock
Melalui memo tersebut, S. Jane Moffat, Kepala Urusan Pemerintah Negara Bagian BlackRock, menegaskan:
“Surat-surat Anda melanjutkan tren yang mengkhawatirkan, di mana kedua pihak mempolitisasi pengelolaan dana pensiun publik.”
Moffat juga menegaskan bahwa BlackRock bukanlah investor aktivis, meskipun mereka tetap aktif dalam kebijakan voting saham sebagai pemegang suara besar dalam rapat umum pemegang saham (RUPS).
Studi yang ia kutip menunjukkan bahwa pembatasan politik dalam pengelolaan dana pensiun cenderung menurunkan imbal hasil. Dengan kata lain, jika dana pensiun dijadikan alat ideologi, yang paling dirugikan adalah para pensiunan itu sendiri.
BlackRock, ESG, dan Perubahan Arah
BlackRock memang sempat menjadi simbol dukungan investor besar terhadap isu lingkungan dan sosial. Namun, dalam dua tahun terakhir, mereka mengurangi dukungan pada resolusi aktivis ESG.
- Pada 2024, BlackRock hanya mendukung 4% dari proposal lingkungan dan sosial.
- Untuk 2025, dukungan diperkirakan tetap berada di level rendah.
- Sebagai perbandingan, Vanguard, rival terbesarnya, bahkan tidak mendukung satupun dari 261 proposal lingkungan dan sosial di AS tahun ini.
Perubahan sikap ini membuat BlackRock kehilangan sebagian kritik dari Partai Republik, tapi pada saat yang sama memicu kekecewaan pejabat Demokrat yang menginginkan pendekatan lebih agresif terhadap isu iklim.
Mengapa Isu Ini Penting?
BlackRock bukan sekadar manajer investasi biasa. Dengan dana kelolaan triliunan dolar, keputusan perusahaan ini bisa memengaruhi:
- Pasar saham global – termasuk hasil voting dalam pemilihan direksi perusahaan besar.
- Kebijakan iklim korporasi – apakah perusahaan lebih serius mengelola emisi atau tidak.
- Keamanan finansial jutaan pensiunan – dari pekerja publik di AS hingga investor institusional global.
Jika dana pensiun publik terus dijadikan alat politik, risikonya adalah penurunan return jangka panjang dan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan investasi profesional.
Alarm bagi Investor Global
Pernyataan terbaru BlackRock adalah peringatan keras: politisisasi dana pensiun berisiko menghancurkan tujuan utama investasi, yaitu kesejahteraan pensiunan.
Namun, dilema besar tetap ada: apakah BlackRock bisa netral di tengah tekanan politik yang kian menguat, atau pada akhirnya harus memilih salah satu kubu?
Investor global sebaiknya mencermati dinamika ini, karena arah kebijakan BlackRock bukan hanya soal politik domestik AS, melainkan juga cerminan arah besar keuangan global di era penuh ketegangan geopolitik dan krisis iklim.