Saham Nintendo mengalami tekanan signifikan setelah turun sekitar 10% dalam satu sesi perdagangan. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan momentum penjualan konsol terbaru perusahaan, Switch 2, yang sejauh ini belum sepenuhnya meyakinkan pasar meskipun mencatatkan performa awal yang solid.
Nintendo sebelumnya melaporkan bahwa Switch 2 mencatat penjualan yang kuat selama periode belanja akhir tahun. Angka tersebut menunjukkan minat awal konsumen yang cukup tinggi terhadap generasi terbaru konsol tersebut. Namun, di balik capaian itu, muncul penilaian bahwa Switch 2 masih belum didukung oleh deretan gim eksklusif berskala besar yang mampu menjadi pendorong utama permintaan jangka panjang. Absennya judul “system seller” dinilai dapat membatasi laju adopsi pengguna baru dalam beberapa kuartal ke depan.
Kekhawatiran pasar juga diperkuat oleh keputusan Nintendo untuk mempertahankan proyeksi kinerja keuangan dan target penjualan perangkat keras tahunannya. Alih-alih menaikkan panduan, manajemen memilih bersikap konservatif, yang kemudian diinterpretasikan investor sebagai sinyal bahwa potensi pertumbuhan Switch 2 mungkin tidak sekuat ekspektasi sebelumnya. Hal ini memicu aksi ambil untung, terutama setelah saham Nintendo sempat menyentuh rekor tertinggi pada tahun lalu berkat optimisme terhadap penerus Switch generasi pertama.
Sejumlah analis menilai performa awal Switch 2 memang menjanjikan, namun belum cukup kuat untuk mengubah sentimen pasar secara signifikan. Fase awal peluncuran konsol dianggap sangat krusial karena akan menentukan seberapa cepat basis pengguna dapat terbentuk. Basis pengguna yang solid menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekosistem gim, penjualan perangkat lunak, serta pendapatan jangka panjang Nintendo.
Sebagai pembanding, Nintendo sebelumnya sukses memperpanjang siklus hidup Switch generasi pertama dengan merilis gim-gim blockbuster yang mampu menjaga minat konsumen selama bertahun-tahun. Strategi tersebut menjadi faktor utama kesuksesan Switch sebagai salah satu konsol terlaris dalam sejarah industri gim.
Di luar isu produk, investor juga mencermati faktor eksternal berupa kenaikan harga chip memori global. Kenaikan ini berpotensi menekan margin keuntungan produsen perangkat keras, termasuk Nintendo. Perusahaan menyatakan bahwa dampaknya terhadap laba pada tahun fiskal berjalan masih terbatas. Namun, jika tren harga tinggi berlanjut, tekanan terhadap profitabilitas dalam jangka panjang tidak dapat diabaikan.
Ke depan, pasar akan mencermati dua hal utama: kecepatan Nintendo dalam menghadirkan judul gim unggulan untuk Switch 2 serta kemampuannya mengelola biaya produksi di tengah dinamika rantai pasok global. Kedua faktor tersebut akan menjadi penentu arah kinerja saham Nintendo dalam beberapa kuartal mendatang.






