Tesla Terpukul di Penjualan, Namun Menang di Medan Persaingan
Data terbaru dari Cox Automotive menghadirkan paradoks menarik: penjualan Tesla Inc. (NASDAQ: TSLA) di Amerika Serikat anjlok 23% secara tahunan pada November menjadi sekitar 39.800 unit, menandai kuartal terburuk Tesla sejak 2022 dari sisi volume. Namun di balik angka suram itu, tersembunyi sebuah fakta krusial yang luput dari perhatian pasar ritel—pangsa pasar Tesla justru melonjak dari 43% menjadi 56%.
Bagaimana mungkin penjualan turun, tetapi dominasi pasar justru menguat? Jawabannya terletak pada kondisi industri kendaraan listrik (EV) secara keseluruhan yang sedang mengalami tekanan berat.
Industri EV AS Runtuh 41%, Tesla Bertahan Paling Kokoh
Pada periode yang sama, penjualan total kendaraan listrik di AS jatuh 41%, jauh lebih dalam dibanding penurunan Tesla. Artinya, kompetitor Tesla terpukul lebih keras. Dalam badai perlambatan permintaan EV, Tesla kembali menunjukkan satu keunggulan klasiknya: daya tahan skala dan efisiensi operasional.
Berakhirnya insentif pajak EV federal hingga USD 7.500 pada 30 September menjadi pemicu utama pelemahan permintaan. Tanpa subsidi, harga EV kembali terasa mahal bagi konsumen menengah—dan ini mengungkap realitas pahit: permintaan inti EV di AS masih rapuh.
Tak ada sinyal kuat bahwa kondisi ini akan membaik dalam waktu dekat.
Ford dan GM: Pangsa Pasar Kecil, Kerugian Besar
Tesla memang sudah lama kehilangan sebagian pangsa pasarnya. Dari sekitar 80% pada 2019, dominasi Tesla perlahan tergerus oleh masuknya pemain lama seperti Ford dan General Motors, serta merek internasional. Namun hasil akhirnya jauh dari manis.
- Pangsa pasar EV Ford dan GM masing-masing masih di bawah 10%
- Ford secara terbuka mengakui akan merugi sekitar USD 5 miliar dari bisnis EV tahun ini
Dengan kata lain, kompetitor berhasil “mengambil” pangsa pasar Tesla, tetapi dengan biaya miliaran dolar dan tanpa profitabilitas. Ketika pasar EV menyusut, strategi ini menjadi beban berat.
Efek Politik Elon Musk: Faktor Tambahan yang Tak Bisa Diabaikan
Penurunan penjualan Tesla juga dikaitkan dengan dinamika non-bisnis. Hubungan Elon Musk dengan Presiden Donald Trump, termasuk perannya dalam upaya pemangkasan belanja federal, memicu reaksi beragam dari publik.
Meski dampak kebijakan tersebut tidak sebesar yang awalnya dipresentasikan, hubungan Musk–Trump yang sempat solid hingga retak pada awal Juni menimbulkan noise reputasi bagi Tesla, terutama di segmen konsumen progresif.
Dalam industri konsumen, persepsi sering kali sama pentingnya dengan produk.
Apakah Persaingan EV Sudah “Selesai” untuk Sementara?
Data November memberi satu pesan penting: laju kemajuan kompetitor terhadap Tesla tampaknya terhenti—setidaknya untuk saat ini. Jika Tesla mampu mempertahankan pangsa pasar 56% ini, maka ketika permintaan EV pulih, Tesla berpotensi menjadi penerima manfaat terbesar secara absolut.
Namun ekspektasi pemulihan perlu dikalibrasi. iSeeCars memprediksi EV hanya akan menyumbang sekitar 4% dari total penjualan mobil baru tahun depan. Ini jauh dari narasi “revolusi EV” yang selama ini digaungkan.
Tesla: Perusahaan Mobil atau Perusahaan AI?
Di sinilah dilema Tesla semakin tajam. Elon Musk ingin investor melihat Tesla sebagai perusahaan AI dan robotika, bukan sekadar produsen mobil. Tetapi bagi pasar yang masih menilai Tesla dari angka penjualan kendaraan, data November memberikan kabar campuran: buruk secara absolut, namun positif secara relatif.
Bagi investor jangka panjang, pertanyaannya bukan hanya soal berapa banyak mobil yang dijual Tesla, tetapi apakah dominasi pasar ini cukup kuat untuk mendanai ambisi AI dan otomasi Musk.
Kesimpulan Nano
Tesla memang tidak kebal terhadap perlambatan ekonomi dan berakhirnya subsidi. Namun ketika industri EV AS goyah, Tesla kembali membuktikan dirinya sebagai pemain terakhir yang berdiri paling tegak.
Pasar sedang mengecil, pesaing berdarah-darah, dan Tesla—meski terpukul—masih menguasai lebih dari setengah medan perang. Bagi investor dan pengamat pasar, ini bukan sekadar berita penjualan, melainkan indikasi struktur kekuatan industri EV di masa depan.
Pertanyaannya kini bukan apakah Tesla masih dominan, melainkan berapa lama dominasi itu bisa dipertahankan sebelum narasi EV berubah total.






